
Setelah sampai di apartemen milik Alzam, ketiganya langsung mencari boneka Calline yang sempat tertinggal beberapa waktu yang lalu. Deena mencari di tempat terakhir boneka itu disimpan. Namun nyatanya boneka itu sudah tidak ada tempatnya lagi.
"Saat itu aku meletakkannya di sini," ujar Deena.
Zahra pun juga ikut mencari ke setiap sudut. Karena selama dia tinggal beberapa hari di tempat itu, dia sama sekali tak melihat boneka Calline.
"Selama Mama tinggal di sini, Mama tak melihat boneka Celline. Mungkin kamu lupa meletakkan boneka itu di mana, Dee." Zahra menimpali.
"Deena ingat dengan jelas kok, Ma. Deena meletakkan di sini."
"Kita cari aja sampai kesetiap sudut, jangan ada yang terlewatkan!" saran Kanna.
Semua tempat pun tak terlewatkan oleh penggeledahan ketiganya, berharap boneka Calline segera ditemukan. Deena hampir putus asa saat boneka tak belum juga bisa dia temukan. "Call, maafin aku. Aku gak berniat untuk meninggalkanmu sendiri lewat ini," sesal Deena.
Kanna yang melihat wajah dengan sudah ditekuk tak semakin bersemangat untuk mencari boneka itu berada. "Harusnya boneka seperti itu terlihat dengan mata kita. Sembunyi dimana sih boneka itu," gerutu Kanna.
Ditengah-tengah pencahariannya karena mengingat sesuatu. Jika Deena bisa berkomunikasi dengan Calline, itu artinya Calline bisa mendengar jika dia dipanggil.
"Dee, kamu kan bisa berkomunikasi sama Calline, coba panggil dia! Kali aja setelah kamu panggil dia nongol," saran Kanna.
Ada benernya juga jika Deena memanggil Calline agar dia bisa ditemukan. Meskipun Calline tak lagi mau berbicara dengannya, tetapi setidaknya Calline bisa mendengarkan dirinya.
Deena menuruti saran dari Kanna dan langsung memanggil Calline. "Call ... Calline! Kamu dimana? Aku datang untuk menjemputmu karena kita akan pulang ke Indonesia, Call. Calline, maafkan aku jika aku mempunyai salah denganmu. Aku tak mau kehilanganmu. Bukankah kita berteman?"
Deena menatap mama dan papanya bergantian. Sepertinya usahanya tak berhasil karena, tak ada tanda-tanda Calline menampilkan dirinya. Atau Calline memang tidak berada di tempat itu? Deena menghempaskan tubuhnya di atas sofa panjang karena dia sudah putus asa.
"Mungkin Calline memang tidak berada di tempat ini. Mungkin juga sudah dibuang oleh papa Alzam," kata Deena kecewa.
Zahra yang melihat Deena sudah putus asa segera menghampiri untuk menghiburnya. Andaikan boneka itu dijual di toko, Zahra bisa membelikan lebih dari satu boneka yang seperti Calline. Namun, sepertinya boneka Calline tak dijual di toko manapun. Zahra juga tidak tahu siapa pemberi boneka tersebut.
"Jangan bersedih. Mama yakin jika Calline pasti ditemukan!"
Baru saja Deena membuang napas beratnya, tiba-tiba telinganya mendengar suara bergerumuh dari sebuah laci yang berada sudut ruangan.
__ADS_1
"Dee, mau kemana?" tanya Zahra sat Deena bangkit dari sofanya.
Deena berusaha untuk membuka laci yang dianggapnya bergerumuh tadi. Namun, saat hendak membukanya, Deena tidak bisa.
"Mama ... Papa ... coba bukain dulu laci ini!" seru Deena dengan tangan yang masih berusaha untuk membukanya.
Zahra dan Kanna langsung menghampiri Deena. "Apakah Calline ada disini?" tanya Kanna penasaran.
"Deena tidak tahu ,Pa. Tapi Deena tadi hanya mendengar jika di dalam sini bergerumuh."
"Kami yakin? Kok Mama gak dengar?" sahut mamanya.
"Memang Mama punya indra keenam?" tanya Kanna mengejek.
Akhirnya Kanna berusaha untuk membuka laci yang dikatakan bergerumuh oleh Deena. Dia sangat berharap jika boneka yang sedang dicari berada didalamnya. "Kok susah ya."
"Susah gimana?" tanya Zahra penasaran.
"kayaknya ini bukan kuncinya deh!" Kanna mencabut kunci yang menempel di lubang induknya.
Benar saja, laci kecil itu susah untuk dibuka. Namun, Zahra terdiam untuk beberapa saat. Selama dia tinggal beberapa hari di tempat ini, Zahra tidak melihat ada lagi di pojokan. Bulu kudu Zahra malah naik saat dirasa ada yang tidak beres. Mungkinkah benar jika boneka Calline ada di dalamnya?
"Kamu buka aja, Mas! Sebelum membuka baca doa dulu, kali aja bisa memecah mantra yang menyegel pelatih itu," saran Zahra.
"Mantra?" Kening Kanna mengernyit, tetapi Kanna mengikuti saran Zahra.
Bismillahirrahmanirrahim, Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih dan maha penyayang. Ya Allah, bantulah hamba-Mu untuk membuka laci ini. Tak ada kuasa yang melebihi kuasa-Mu.
Mata Kanna terbelalak. Dia tidak percaya dengan apa yang dialami. Mustahil tetapi nyata. Kanna menjadi yakin jika hadirnya boneka itu bukanlah sebuah kebetulan, tetapi memang sudah ditakdirkan untuk bersama dengan Deena.
"Alhamdulillah," ujar Kanna yang segera menarik laci itu. Dengan mata yang masih membuat lebar Kanna melihat jika emang benar boneka yang sedang dicarinya berada di dalam.
"Calline!" seru Deena dengan mata yang berbinar saat melihat boneka kesayangannya sudah berubah di tangan papanya.
__ADS_1
Zahra merasa lega karena Calline sudah berhasil ditemukan. Meskipun ada beberapa yang mengajari hatinya, Zahra menepisnya. Mungkin hanya sebuah kebetulan, pikirnya.
Setelah berbagai drama untuk menemukan Calline, akhirnya drama pun usai dengan berbagai pertanyaan yang mengganjal. Namun, Zara dan juga Kanna untuk membahas masalah itu. Yang terpenting saat ini adalah Calline telah ditemukan.
🍂🍂🍂
Kanna harus menarik lagi kata-katanya yang tidak pulang jika belum berhasil membuatkan Deena adik. Sebuah kabar tak diinginkan datang. Kanna mendapatkan kabar jika bapaknya mengalami kecelakaan dan sedang berjuang di rumah sakit. Tanpa pikir panjang Kanna segera mengambil penerbangan ke Indonesia detik itu juga. Bahkan dia tak tempat untuk mengunjungi Alzam terlebih dahulu. Namun, Kanna sudah menyiapkan beberapa orang yang akan memantau kondisi Alam.
Rasa sedih tak terbendung. Deena yang belum sempat berpamitan kepada Alzam hanya bisa menahan kesedihannya dalam hati.
Jarak tempuh yang memakan waktu sekitar kurang lebih 16 jam membuat Kanna merasa gelisah saat berada di dalam pesawat. Sebagai seorang istri, Zahra hanya bisa menghibur dan menguatkan Kanna.
"Mas Kanna harus tenang. Berdoa sama Allah semoga luka bapak tidak parah," kata Zahra.
Kanna memaksakan senyumnya kepada Zahra. "Semoga saja."
Deena yang berada di tengah-tengah mereka memeluk erat boneka Calline dalam dekapannya. "Pa, kapan kita sampai?" tanya Deena yang merasa gelisah.
"Sabar ya, Sayang. Sebentar lagi kita juga sampai," kata Kanna bohong.
"Dari tadi hanya sebentar lagi," gerutu Deena.
"Kalau Deena ngantuk Deena bisa bobok, Sayang." Zahra menimpali.
"Deena hanya ingin segera sampai di rumah dan bertemu dengan kakek, Ma! Deena mau kita segera sampai!"
Zahra hanya bisa memberi sedikit pengertian kepada Deena, jika pesawat yang dinaiki tidak itu bisa berhenti di sembarang tempat. Pesawat hanya akan berhenti jika sudah sampai di Bandara. Karena kecewa akhirnya Deena memilih untuk tidur saja. berharap setelah dia bangun pesawatnya sudah mendarat.
Kok perasaanku gak enak ya. Mudah-mudahan hanya perasaanku saja.
Zahra menatap Kanna yang terus-menerus merasa gelisah. Ya Allah, semoga bapak baik-baik saja.
.
__ADS_1
.
.