Belenggu Pernikahan Semu

Belenggu Pernikahan Semu
34 | Bertemu Alzam


__ADS_3

Raut wajah bahagia tak bisa disembunyikan lagi. Hari ini Deena benar-benar merasa sangat bahagia karena bisa mengelilingi kota bersama dengan Uti-nya. Meskipun sang mama tidak bisa menemaninya, tetapi tak membuat semangat Deena memudar.


Setelah puas memutar-mutar di jalanan, kini saatnya Deena diajak singgah ke mall terbesar.


"Wah ... besar sekali, Uti," kagum Deena pada bangunan besar yang akan dia masuki.


"Ini belum seberapa, Dee. Lain kali Uti ajak ke tempat yang lebih tinggi lagi," ujar Ibu Kanna.


Deena terlihat sangat riang. Dengan ditemani salah seorang asisten rumah tangganya, ibu Kanna mulai masuk ke dalam mall untuk membelikan sesuatu untuk Deena.


Tangan Deena tak lepas dari tangan Uti-nya. Karena ini adalah pengalaman pertama Deena menginjakkan kakinya di Mall, ada sedikit rasa takut dah gugup. Terlebih saat sang Uti akan naik eskalator. Deena yang tidak tahu itu apa, merasa ketakutan untuk menginjakkan kakinya ke anak tangga yang terus berjalan.


"Dee, takut Uti," lirih Deena yang telah bersembunyi dibelakangnya.


Ibu Kanna tersenyum tipis. "Ternyata kepolosan mama kamu juga nurun ke kamu ya," celetuknya.


Dengan penuh kasih sayang, ibu Kanna langsung mengendong tubuh mungil bocah itu. Senyum kecil segera mengembang dibibir Deena. "Makasih Uti," ucapannya.


Setelah sampai di lantai atas, ibu Kanna segera menurunkan Deena dan langsung menggandeng tangan mungilnya.


"Uti, kita mau beli apa?" tanya Deena dengan kepolosannya.


"Beli es krim ya, Uti. Deena belum pernah makan es krim, tapi jangan bilang sama mama," celotehnya lagi.


"Oke, siap. Apapun yang Deena mau, Uti belikan."

__ADS_1


"Yes! Hari ini Deena merdeka."


Karena terlalu bahagia, tanpa sengaja tangan Deena menyenggol sebuah ponsel yang ada di tangan seseorang hingga terjatuh.


Mata Deena langsung terbelalak dan langsung bersembunyi kebelakang Uti-nya. Begitu juga dengan sang Uti yang merasa sangat terkejut dengan apa yang dia lihat dan segera meminta maaf.


"Maaf Pak, cucu saya tidak sengaja," kata ibu Kanna dengan perasaan gugup dan tidak enak.


Bukan karena masalah ponsel yang terjatuh, melainkan siapa pemilik ponsel tersebut. Masih jelas dalam ingatannya lima tahun yang lalu saat dia mengikrarkan ijab di depan penghulu bersama dengan Zahra.


Dia adalah Alzam.


Alzam langsung mengambil ponselnya. Saat dia berjongkok, matanya menatap Deena tanpa kedip. Deena yang merasa ketakutan semakin menyembunyikan wajahnya kebelakang Uti-nya.


"Iya. Lain kali hati-hati," ucap Alzam dengan mata yang tak lepas dari sosok Deena yang semakin menyembunyikan tubuhnya.


Karena Alzam tak mempermasalahkan, ibu Kanna segera membawa Deena berjalan untuk meningkatkan Alzam dengan kaki yang sudah bergemetar.


"Ya Allah, pertanda apa ini? Mengapa bisa bertemu dengan pria breng*sek* itu disini. Semoga saja dia tidak menyadari sesuatu," batin ibu Kanna dengan cemas.


Tak bisa terbayangkan bagaimana jika apa yang dikhawatirkan oleh Zahra akan menjadi sebuah kenyataan.


"Tidak! Itu tidak mungkin," lirihnya.


"Apanya yang tidak mungkin, Uti," sahut Deena yang mendengarnya.

__ADS_1


Ibu Kanna segera menggelengkan kepala dan berkata, "Tidak apa-apa. Uti cuma berpikir, mama kamu akan marah kalau kamu makan eskrim. Tapi sepertinya tidak mungkin marah kan?" dustanya pada Deena.


"Mama pasti akan marah, Uti. Makanya Uti jangan bilang sama mama ya," pinta Deena.


"Yasudah, kita beli eskrim dan segera pulang ya. Uti lupa kalau ada arisan. Kapan-kapan kita jalan-jalan lagi sama kakek, ya."


Dilain sisi, Alzam masih merekam dengan jelas kejadian yang baru saja dialaminya. Terutama pada bocah kecil yang memiliki kemiripan dengan seseorang pernah meninggalkan dirinya.


Zahra.


Sejenak Alzam merenung dan mencoba untuk mengingat album lama yang sudah terkubur dengan waktu.


Selama lima tahun, tak hentinya Alzam mencoba untuk mencari keberadaan Zahra. Namun, usahanya tak pernah membuahkan hasil. Zahra pergi begitu saja bak ditelan bumi hingga saat ini. Namun, dengan sosok bocah yang baru saja dia temui, membuatnya membuka album kelamnya.


"Tidak mungkin itu anak Zahra. Mungkin aku terlalu memikirkannya saja sehingga bisa berpikir jika itu adalah anak yang aku cari," batin Alzam dengan gelisah.


.


.


.


BERSAMBUNG


Satu Bab lagi kalau gak malas 🤣

__ADS_1


__ADS_2