Belenggu Pernikahan Semu

Belenggu Pernikahan Semu
58 | Liburan


__ADS_3

Kanna sangat murka. Dia tidak peduli dengan siapa saat ini ria berhadapan. Yang Kanna inginkan hanyalah keadilan untuk sang istri yang sudah sudah kehilangan anaknya.


"Pak, maaf tidak maksud kami untuk mencelakai Zahra. Kami hanya bercanda," jelas Liona.


Kanna yang sudah di didihkan oleh emosinya tidak peduli dengan penjelasan maupun permintaan maaf dari ketiga mahasiswi yang sudah mencelakai Zahra.


"Aku tidak peduli! Saat ini Zahra telah kehilangan anaknya .Jika nyawa bisa dibalas dengan nyawa, maka aku menginginkan nyawa kalian untuk menebus kesedihan Zahra. Namun, rasanya aku akan terlalu kejam, bukan?"


Kanna yang tidak belum bisa memaafkan ketiga mahasiswinya memilih menyerahkan kasus yang menimpa kepada Zahra kepada pihak yang berwajib dan diproses secara hukum. Selain itu Liona, yang mendalangi rencana penculikan harus terima saat dirinya dikeluarkan oleh pihak kampus. Pihak kampus merasa sangat kecewa dengan sikap Liona yang semena-mena menyebabkan Zahra keguguran.


🍂🍂🍂


Sudah beberapa hari semenjak kehilangan calon buah hatinya, Zahra memilih mengurung diri di kamar. Bahkan rasa trauma membuatnya enggan untuk masuk kuliah lagi. Meskipun tiga orang mahasiswa yang mencelakainya sudah mendapatkan sanki, tetapi mereka tidak akan pernah bisa untuk mengembalikan apa yang telah hilang.


"Ra, sepertinya kita butuh refreshing. Gimana kalau kita liburan keluar kota," saran Kanna pada istrinya.


Zahra yang berada di balkon tak bergeming. Tatapannya kosong ke depan. Bahkan untuk menetap Kanna saja dia tidak mau.


"Ayolah Ra, kamu jangan seperti ini. Aku tahu bagaimana hancurnya hati kamu, tapi kamu harus bangkit, Ra! Mungkin saat ini kita belum berikan kepercayaan untuk memiliki anak, tapi percayalah suatu ada saatnya kepercayaan itu datang kepada kita."


Meskipun Kanna berusaha untuk menghibur Zahra, bukan berarti dia tak merasakan bagaimana perasaan Zahra saat ini.


"Jika kamu ingin pergi keluar kota, silahkan pergi! Aku tidak akan kemana-mana. Aku menunggu anak kita kembali."


Kanna hanya bisa membuang napas beratnya. Cahaya yang selalu menerangi hidupnya kini telah redup. Namun, Kanna tidak akan putus asa untuk menghidupkan cahaya penyerangnya lagi.


"Ra, sampai kapan kamu akan seperti ini? Aku tahu bagaimana perasaanmu, tapi kamu jangan menyiksa diri kamu seperti ini. Anak kita akan merasa sedikit saat melihatnya ibunya larut dalam kesedihannya. Tidak ada seorang anak yang tidak bersedih saat melihat ibunya setiap hari menangis dan menyiksa dirinya sendiri. Dia pasti juga akan sedih, Ra. Bukan keinginannya untuk pergi, tapi takdir Tuhan yang membuatnya harus berpisah dengan kita. Aku yakin suatu hari nanti dia akan menunggu kita di pintu surga," ucap Kanna dengan mata yang berkaca-kaca.


Zahra akhirnya menoleh kearah Kanna dan langsung memeluk tubuh Kanna. "Maafkan aku Mas, jika aku belum ikhas."


Kanna mengelus rambut Zahra pelan. "Berjanjilah untuk ikhlas, Ra. Jika kamu tidak ikhlas maka anak kita tidak akan bisa tenang.


Kanna berhasil menenangkan Zahra. Dan Zahra hanya pasrah saat Kanna akan membawanya untuk liburan keluar kota.


***


Mungkin benar ucapan Kanna jika Zahra harus mengikhlaskan titipan Allah yang diambil lagi. Semua yang kita miliki hanya titipan yang sewaktu-waktu akan diambil oleh pencipta-Nya.

__ADS_1


"Udah siap?" tanya Kanna saat melihat pantulan sang istri di cermin.


Zahra hanya mengulum senyum dibibir lalu berdiri. "Udah," jawabnya.


Diluar sudah ada orang tua Kanna yang siap untuk mengantarnya ke Bandara. Kini Zahra sadar kesedihan yang berlarut hanya akan menyakiti orang-orang yang menyayanginya.


"Bu, Zahra pergi dulu ya," pamit Zahra pada ibu mertuanya.


"Iya. Nikmati saja liburan kalian. Awas saja kalau sampai di tempat tujuan masih saja sedih! Ibu gak izinkan kalian pulang kesini!" ancam ibu Kanna dengan candaan.


"Ibu tenang saja, Zahra akan menikmati liburan Zahra tanpa ada kesedihan. Doain setelah liburan ini semua kesedihan akan lenyap dan hanya tinggal kebahagiaan yang tersisa," ujar Zahra.


Mobil pun segera melesat ke Bandara. Kanna tidak tahu Kanna akan membawanya kemana. Dia hanya menebak dalam hati jika Pulau Bali adalah tujuan Kanna.


Setelah sampai di Bandara, ibu Kanna memeluk lama menantu pilihannya. Begitu juga dengan Kanna yang memeluk ibunya dengan erat.


"Ibu pasti akan merindukan kalian. Semoga kalian cepat kembali," ujar ibu Kanna.


"Kita hanya liburan sebentar kok, Bu. Paling lama mungkin hanya satu minggu," jelas Zahra.


"Satu minggu?" Ibu Kanna mengernyit sambil menatap kearah Kanna. Namun, mata Kanna segera memberi isyarat agar sang ibu mengiyakan saja ucapan Zahra.


"Tidak. Ibu maunya lebih lama lagi.".


Tak berapa lama sebuah pengumuman terdengar di telinga Kanna. Zahra mengernyit saat Kanna langsung menyeret kopernya untuk bersiap.


"Mas Kanna mau kemana? Ini bukan jalur tujuan kita, lho!" protes Zahra.


"Siapa bilang kita salah jalur? Ini sudah benar kok."


Satu tangan Kanna menggenggam tangan Zahra dan satunya lagi menyeret koper mereka. Zahra masih bingung saat Kanna mengajaknya untuk masuk ke sebuah pesawat yang akan terbang luar negeri.


"Udah tenang aja. Kita gak salah pesat. Aku sengaja mau mengajakmu untuk melihat menara Eiffel," kata Kanna dengan santai.


"Apa?" Zahra terkejut.


Sebuah negara yang pernah dia impikan semasa kecilnya. Namun, siapa yang menyangka jika detik ini juga Kanna akan membawanya terbang kesana.

__ADS_1


"Bukankah mengunjungi menara Eiffel adalah harapanmu sejenak dulu?"


"Kamu kenapa bisa tahu, Mas?" tanya Zahra heran.


"Aku masih mengingat saat pertama kali kamu mengikuti MOS dan kamu menyebutkan jika Paris adalah kota impian" ujar Kanna.


Zahra sangat merasa bersyukur saat Kanna masih mengingat impian kecilnya. "Makasih ya, Mas."


🍂🍂🍂


Sesampainya di Bandara Charles De Gaulle Airport, keduanya dijemput oleh seorang supir untuk mengantarkannya ke tempat penginapan yang akan Kanna tempati selama mereka melakukan.


"Mas, makasih ya." Untuk kesekian kali Zahra mengucapkan kata terimakasih kepada Kanna.


"Aku ada satu kejutan lagi untukmu," ujar Kanna.


"Apa itu?" tanya Zahra dengan rasa penasarannya


"Rahasia. Kalau aku kasih tahu sekarang bukan kejutan lagi dong tapi kecu.pan." Sebuah kecu.pan mendarat di kepala Zahra.


Tak butuh waktu lama, mobil yang mwmbaw keduanya telah sampai disebuah hotel bintang lima. Bahkan Zahra hampir tak berkedip saat melihat bangunan yang ada didepan matanya.


"Kamu gak akan bangkrut 'kan Mas setelah kita pulang dari sini. Sepertinya aku ingin menarik ucapanku pada ibu. Aku ingin lebih lama berada disini. Aku ingin mengelilingi kota Paris sebelum kita pulang," ujar Zahra dengan mengulum senyum dibibirnyanya.


"Tenang saja, aku tidak akan bangkrut. Bahkan jika kamu menginginkan satu tahun, warisan orang tuaku masih sanggup untuk membiayai hidup kita disini."


"Sombong kamu, Mas!"


Tak terasa kini keduanya sudah sampai disebuah kamar hotel yang mewah. Zahra tak hentinya takjub dengan pelayanan yang ada di hotel.


.


.


.


.

__ADS_1


Author gak minta apa-apa, cukup like dan kasih komen yang banyak biar semangat up lagi.


Sini yang like dan komen aku sun 😘😘


__ADS_2