
Selamat Membaca ...
Bayangan tentang mimpi buruk itu masih melekat dalam pikirannya. Seakan itu bukan mimpi. Namun, melihat keluarga kecilnya bahagia, Zahra menepis jauh tentang mimpi buruknya. Bahkan Zahra tidak bisa mengingat apa-apa mengapa dia bisa jatuh koma, meskipun Kanna sudah menjelaskan. Yang dia ingat hanya saat semua tim medis melepaskan alat medis dari tubuh Kanna dan mengatakan jika Kanna telah tiada. Zahra menganggap jika itu bukan mimpi.
"Kok malah bengong? Katanya mau mempersiapkan kejutan untuk Kanna?" Ibu Kanna membuyarkan semua lamunan Zahra.
"Ibu mengagetkan," ujar Zahra.
"Memangnya lagi mikirin apa? Jangan lupa kejutan untuk nanti malam." Ibu Kanna mengingatkan Zahra.
Seketika Zahra teringat jika hari ini dia akan menyiapkan kejutan untuk Kanna. "Iya, Bu. Makasih udah diingatkan."
Ibu Kanna melihat ada sesuatu yang berbeda pada menantunya. Entah hanya perasaannya saja yang sangat mengkhawatirkan atau Zahra memang sedang memikirkan sesuatu.
"Bu, ada kiriman," kata mbak Ida yang menyerahkan sebuah bingkisan pada Zahra.
"Apa ini?" Kening Zahra mengernyit. "dari siapa?"
Mbak Ida menggelengkan kepalanya. "Tidak tahu, Bu. Tidak ada nama pengirimnya."
Seperti de javu beberapa bulan yang lalu, dimana ada kiriman tanpa nama yang ternyata itu dari Alzam. Apakah kali ini kiriman darinya lagi?
"Untuk siap, Mbak?" tanya Zahra ingin memastikan.
Mbak Ida segera membaca kertas yang menempel. "Untuk wanita yang istimewa, Bu."
Lagi-lagi Zahra mengernyit. Didalam rumahnya ada tiga wanita. Dia, mbak Ida dan juga ibu mertuanya. Tidak mungkin itu kiriman untuk mbak Ida. Hanya ada dua kemungkinan, untuknya atau untuk ibu mertuanya.
"Apa itu?" tanya ibu Kanna saat melihat sebuah paketan di tangan Zahra.
"Gak tahu, Bu. Pengirim tanpa nama, tapi untuk wanita yang istimewa, Bu," jelas Zahra. "apakah ibu sedang dekat dengan seseorang?"
"Ngawur kamu, Ra! Umur udah mau bau tanah masih mau neko-neko! Untukmu itu!"
Zahra hanya bisa mengernyit. Karena tidak tahu untuk siapa, akhirnya Zahra membuka bingkisan itu ataa saran dari ibu mertuanya. Sebenarnya Zahra takutnya jika itu adalah bom atau paket mistis seperti yang pernah dia lihat di YouTube.
__ADS_1
Zahra telah berhasil membuka bungkusan tersebut. Namun, masih ada lagi lapisan yang membungkusnya. "Aku sudah yakin jika kotak ini sangat kecil." Zahra mendengus pelan saat masih ada kotak yang harus dia buka.
Mbak Ida dan juga ibu mertuanya merasa semakin penasaran dengan isinya. "Nih orang kurang kerjaan banget sih! Awas aja kalau isinya gak sesuai dengan bungkusnya," celetuk ibu Kanna.
Benar saja, isi dalam bungkusan itu sangatlah kecil. Saat sudah berhasil dibuka bungkunya, mata Zahra melirik kearah dua orang yang ada disampingnya.
Sebuah kota bludru berwarna marun yang menjadi isi dari kotak besar tadi. Terlihat juga ada sebuah tulisan 'I Love You'.
Zahra segera membuka kotak itu dan matanya membulat dengan lebar. Sebuah kalung limited edition bersarang didalamnya.
"Indah sekali," kagum ibu Kanna saat Zahra mengeluarkan kalung itu. "apakah ini asli?"
Ibu Kanna langsung memeriksa apakah kalung itu asli atau tidak. Baginya sangat mudah untuk membedakan mana barang yang asli dan mana yang palsu, sebab dulu ibu Kanna juga seorang sosialita. Namun, setelah kepergian sang suami dia memilih untuk menghasilkan sisa waktunya di rumah.
"Ini asli, Ra" ujarnya.
"Jangan-jangan kamu punya yang lain selain Kanna, ya?"
"Gak ada, Bu. Ibu kan tahu sendiri kalau Ara cuma di rumah dan gak punya banyak kenalan."
"Ya kali aja, Ra. Gak mungkin dari Kanna, dia aja gak ingat hari ini hari apa?"
Sejenak Zahra melupakan tentang kalung limited edition itu. Kini dirinya tengah fokus untuk menyiapkan kejutan untuk Kanna malam nanti. Beruntung saja bayinya tidak rewel. Hanya sesekali terbangun saat dia lapar dah haus saja.
Tangan Zahra yang yang sudah mahir untuk menyulap hidangan bak menu sebuah restoran tak membutuhkan bantuan dari mbak Ida lagi. Hanya saja mbak Ida membatu seperlunya saja.
"Ra, ada telepon dari Kanna," kata ibu mertuanya yang membawakan ponselnya ke dapur.
Zahra menghentikan kegiatannya untuk sesaat untuk berbicara dengan suaminya. Wajah yang tadinya berseri kini redup setelah panggilan itu terputus. Semua itu karena Kanna mengatakan tidak bisa pulang cepat karena akan mengikuti seminar. Bahkan dia juga mengatakan jika kemungkinan akan pulang larut.
"Apa katanya?" tanya ibu mertuanya yang penasaran saat melihat raut wajah Zahra berubah murung.
Zahra membuang napas beratnya. "Mas Kanna gak bisa pulang cepat karena akan mengikuti seminar, Bu."
"Dasar anak itu! Ya udah gak usah bukain pintu kamar nanti malam!" saran mertuanya.
__ADS_1
"Dosa dong, Bu."
"Udah gak papa! Cuma satu kali aja kok. Sekali-kali suami itu harus diberi pelajaran agar bisa berpikir dua kali lipat saat ingin mengabaikan istri!"
Kali ini Zahra akan mencoba untuk mengikuti saran dari ibu mertuanya. Meskipun acara dinner yang akan disiapkan gagal, tetapi Zahra masih meneruskan masakan yang sebentar lagi akan siap.
Terkadang hanya seorang istri yang akan selau mengingat dengan detail hati yang bersejarah dalam hidupnya. Berbeda dengan suami yang terkenal usia anaknya sendiri saja dia lupa.
"Mas Kanna kemana, sih?" gumam Zahra saat semua pesannya tak ada yang dibalas oleh Kanna.
Tidak sampai disitu perjuangan Zahra untuk menghubungi suaminya. Bahkan sudah berulang kali Zahra menelpon nomor suaminya, tetapi tak ada jawaban.
"Nih orang kemana, sih?"
Zahra semakin khawatir dengan Kanna yang tak seperti biasanya. Baru kali ini Kanna mengabaikan dirinya. Zahra pun terus menghubungi nomer ponsel suami lagi, siapa tahu kali ini ada jawaban.
"Halo?"
Zahra mengernyit saat mendengar sahutan dari seberang ponselnya. Saat melihat kembali, dia tidak sedang salah nomer. Lalu mengapa yang mengangkat adalah seorang wanita?
"Halo?" ulangnya lagi.
"Kamu siapa?" tanya Zahra dengan tubuh yang sudah bergemetar.
"Oh, Pak Arka? Dia sedang ke kamar mandi. Ada pesan?"
Kali ini tubuh Zahra terasa lemas. Pikiran Zahra sudah melayang jauh. Bisa ditebak apa yang dilakukan antara laki-laki dan perempuan saat hanya berdua saja? Terlebih saat ini Kanna sedang berada di kamar mandi.
"Apakah itu artinya—" Zahra menggelengkan kepalanya untuk menepis segala prasangkanya. "tidak mungkin."
.
.
.
__ADS_1
.
...BERSAMBUNG...