Belenggu Pernikahan Semu

Belenggu Pernikahan Semu
109 | Terluka


__ADS_3

Melani hanya tersenyum tipis saat Zahra memberikan ucapan selamat padanya. Sebenarnya apa yang dia lihat tak seperti yang dia rasakan. Bahkan Melani tidak tahu bagaimana nasibnya selanjutnya. Menikah dengan Alzam bukanlah keinginannya. Semua ini hanya salah paham yang tak bisa diluruskan. Meskipun bibir bisa tersenyum, tetapi hati Melani menangis saat ini. Haruskah Melani mengikuti jejak Zahra, jatuh pada orang yang salah?


"Semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah, ya." Doa Zahra pada adik tirinya.


"Amin," balas Melani dengan senyum tipis.


"Mas Alzam, aku titip Melani ya. Aku tahu saat ini belum ada cinta dari kalian karena pernikahan ini terjadi begitu saja. Mungkin Melani adalah jodoh yang diberikan Author untukmu, jadi tolong cinta dia. Jangan ulangi lagi kesalahan yang telah kamu lakukan di waktu silam. Cinta itu bisa datang kapan saja dengan seiringnya waktu, jadi aku minta Mas Alzam bisa membuka hati Mas Alzam untuk Melani. Dia anak yang baik," pesan Zahra sebelum pulang.


"Iya, aku tahu," ucap Alzam dengan anggukan kepalanya.


Setelah kepergian Zahra, Alzam mendekat ke arah Melani yang masih duduk di sofa. sambil membuang napas kasarnya Azam berkata, "Jangan pernah bermimpi jika aku akan membuka hati,karena hatiku ini sudah aku kunci untuk wanita manapun. Kuharap kamu bisa mengerti."


Melani memaksakan senyum di bibir yang begitu sulit. Pernikahan yang tak belum pernah terpikirkan olehnya, karena memang selama ini Melani belum pernah berpacaran dengan siapapun. "Tenang saja, saya tahu batasannya."


"Bagus. Hari ini kamu nggak usah pergi ke kantor dan kemungkinan aku akan pulang malam lagi," kata Alzam yang kemudian pergi meninggalkan Melani.


Tak ada yang bisa dilakukan selain menangis menumpahkan rasa sakit dalam dadanya. Bagaimana mungkin pernikahan yang dia impikan sekali seumur hidup akan berakhir menyakitkan seperti ini.


"Apakah ini sebabnya mbak Zahra berpisah dengan mas Alzam? Sebenarnya siapa yang sudah menguji hati mas Alzam hingga tak ada celah orang lain untuk masuk ke dalamnya. Apakah nasib pernikahan ini juga akan sama seperti yang dialami oleh Mbak Zahra? Apakah aku juga akan menjadi janda muda?" Tak terasa air mata itu mengalir lebih deras ketika Melani membayangkan nasib pernikahannya.


"Seharusnya aku tidak banyak berharap dengan pernikahan ini, karena pernikahan ini terjadi hanya karena kesalahpahaman saja, bukan karena cinta."

__ADS_1


Karena tak ingin larut dalam kesedihannya, Melani memutuskan untuk keluar dari rumah Alzam. Dia ingin menenangkan hati dan pikirannya. Jika dia tidak menghirup udara segar, mungkin dia hanya akan larut dalam kesedihannya.


"Ya Allah jika mas Alzam adalah jodoh diberikan Author untukku, buatlah dia mau menerimaku apa adanya. Bukakanlah hati mas Alzam yang telah mengunci, karena aku tidak mau bermain dengan ikatan pernikahan ini. Bagiku menikah hanya satu kali dalam hidupku. Aku tidak mau mengikuti jejak orang tuaku."


Melani akhirnya memutuskan untuk menemui Naura, sang kakak. Berharap dia bisa mendengarkan aku kisahnya saat ini. Karena selama ini hanya Naura yang menjadi sandaran hati untuk Melani. Selain menjadi tulang punggung, Naura juga menjadi sosok ibu untuk Melani.


"Ada apa?" tanya Naura saat melihat wajah sang adik yang murung. Padahal beberapa jam yang lalu adiknya baru saja melangsungkan pernikahan.


"Aku tahu kamu pasti akan mengadu tentang pernikahanmu kan?" tebak Naura.


"Mbak, apakah aku salah jika aku sangat berharap untuk dicintai oleh mas Alzam? Aku tahu jika pernikahan ini hanya sebuah salah paham. Tapi aku tidak menginginkan perpisahan diantara kami. Apakah aku egois?" yang Melani dengan rasa sesak yang bersarang di dadanya.


"Kamu yang sabar ya. Mungkin saat ini Alzam belum terbiasa dengan kehadiranmu, bahkan dengan perasaannya. Sebagai seorang istri tugas kamu adalah membuat dia bisa jatuh cinta kepadamu, bagaimanapun caranya," kata Naura.


"Tapi aku tidak yakin, Mbak. Karena sampai saat ini masih ada sosok yang mengisi hati mas Alzam. Mungkinkah itu Aira?"


"Kamu harus yakin, jika perlu kamu bisa bertanya kepada Zahra bagaimana cara untuk meluluhkan hati Alzam. Mbak tahu jika Zahra mengetahui caranya. Sudahlah jangan bersedih, Mbak yakin kamu pasti bisa!"


Senyum yang semua lagu terkini terlihat mengembang lagi. Melani yakin jika dia bisa membuat Alzam mencintai dirinya.


🍂🍂🍂

__ADS_1


Malam ini Melani kamar mandi di ruang tamu untuk menunggu kedatangan Alzam. Meskipun pria itu telah mengatakan jika akan ada lembur, tetapi masih nekat untuk tetap menunggunya. Dalam satu harian Melani sudah berpikir dengan keras bagaimana cara untuk meluluhkan hati Alzam.


Tepat pukul 10 malam, Alzam membuka pintu rumah. Kali ini kedatangannya disambut oleh Melanie yang belum tidur.


"Kenapa belum tidur?" tanya Alzam langsung.


"Ak—, saya menunggumu," ujar Melani gugup.


"Tidak usah pakai bahasa formal karena saat ini kita berada di rumah. Bicara biasa saja!"


Melani mengangguk pelan kemudian dia ingin menyalami tangan Alzam. Namun nyatanya tangannya ditepis oleh Alzam.


"Sudah ku katakan jangan berlebihan! Aku sudah membuatkan kontrak. Baca saja sendiri!" Alzam melemparkan sebuah kertas kepada Melani.


Gadis itu hanya menatap sendu kepergian Alzam. Ternyata memang sulit untuk menaklukkan hati Alzam yang telah terkunci. Sambil menyeka air matanya, Melani membaca lembaran kertas yang ada di tangannya. Kini hatinya mulai teriris. Bagaimana tidak pernikahannya dengan Alzam hanya akan bertahan selama 6 bulan saja. Meskipun dalam tulisan yang tertera Melani akan mendapatkan ganti rugi, tetap saja hatinya tersayat.


"Ya Allah, cobaan apa ini?" Hanya air mata yang bisa dia tumpahkan dalam keheningan malam. Dia mereduduki nasib yang tak pernah berpihak kepadanya. Bukan hanya kedua orang tuanya yang memberikan luka di hatinya, tetapi pria yang berstatus suami juga menaburkan luka yang lebih. Sejak kecil hidupnya sudah menderita, apakah kini dia akan lebih menderita lagi?


"Bu, kenapa dulu Ibu melahirkanku jika pada akhirnya ayah dan ibunya membuatku harus menanggung beban hidup yang teramat berat? Jika aku bisa meminta aku tak ingin dilahirkan," isak Melani yang merasa putus asa.


Sementara itu didalam kamar Alzam melempar asal tas kerjanya. Setelah masalah kantor belum bisa diselesaikan, kini timbul masalah baru. Sambil menatap foto pernikahannya dengan Zahra, Alzam berkata, "Ra, maaf aku tidak akan pernah bisa membuka pintu hatiku untuk orang lain, karena aku sudah berjanji akan menjaga cinta ini sampai aku mati." Alzam mengusap bingkai foto yang ada di tangannya.

__ADS_1


__ADS_2