
Waktu yang berlalu begitu cepat membuat Zahra sudah terbiasa dengan hati dan perasaannya yang sangat merindukan Deena. Terkadang dia membutuhkan satu malam untuk menangisi putri sulungnya. Rasa rindu yang teramat dalam, beberapa bulan terakhir Deena lepas kontak dengannya. Zahra semakin berpikir jika, Alzam sengaja untuk memisahkan dirinya dengan Deena.
Hari ini, tepat satu tahun Deena pergi ke luar negeri dan belum juga kembali. Meskipun saat ini sudah ada Kala, tetapi tak akan bisa untuk mengobati rasa rindunya kepada Deena. Kali ini Kanna tidak bisa berbuat apa-apa, karena dia tidak tahu Alzam pergi kemana. Terlebih kepergian Alzam saat dirinya masih terbaring koma.
Celotehan Kala membuat Zahra tersadar dari lamunannya. Meskipun saat ini dia sedang merindukan Deena, tetapi dia juga tidak akan mengabaikan Kala.
"Ma ... Ma ... Ma." Suara bocah itu menggema di dalam kamarnya.
Kanna yang baru saja keluar dari kamar mandi, segera menghampiri Kala dan menge.cupi pipinya.
"Kapan kamu bisa bilang Pa-pa?"
Kala seolah mengerti akan ucapan Kanna.
"Ma ma ma," ucapanya.
Kanna hanya bisa mendengus dengan pelan ketika sang anak belum bisa memanggil dirinya. "Baiklah. Lebih baik kamu bisa memanggil mama daripada papa, karena jika kamu belum bisa memanggil mama, sudah dipastikan papa akan kena getahnya," ujar Kanna.
Mata Kanna langsung menatap ke arah Zahra yang dari tadi tak terdengar suaranya. Bahkan tak ada senyum di bibirnya.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Kanna yang bisa menebak jika Zahra sedang memikirkan sesuatu.
Helaan napas berat terdengar. Begitu sesak hati Zahra saat ini. "Aku merindukan Deena, Mas."
Seketika Kanna menyadari jika beberapa bulan terakhir ini mereka sudah tidak bisa berkomunikasi lagi dengan Deena. Entah apa yang terjadi di luar negeri sana, sehingga nomor Deena tidak bisa dihubungi lagi. Tak munafik, Kanna juga berpikir jika Alzam memang berniat untuk memisahkan Deena dengan ibunya.
Tangan kanan terpulur untuk mengelus rambut Zahra. Bukan tidak rindu kepada Deena, tetapi Kanna mencoba untuk menutupinya. Sebisa mungkin Kanna mengalihkan rasa rindunya itu dengan menghibur diri bersama Kala, anaknya.
"Aku tahu bagaimana perasaanmu. Aku juga tidak tahu harus berbuat apa untuk menemukan Deena. Kali ini aku minta maaf, Sayang," ujar Kanna dengan rasa sesalnya.
"Sampai kapan, Mas? Apakah mas Alzam memang sengaja ingin memisahkan aku dengan Deena?" tanya Zahra dengan mata yang berkaca-kaca.
"Husss ... kamu nggak boleh ngomong seperti itu, Sayang. Doakan Deena segera bisa berkumpul bersama kita lagi," libur Kanna.
Zahra mengangguk pelan. Kanna selalu ada untuk menguatkan hatinya rapuh. Saat ingin memeluk tubuh Kanna, tiba-tiba Kala merangkak menghampiri keduanya.
__ADS_1
"Ma Ma Ma," celoteh Kala.
Kanna segera mengangkat bayinya dan mengajaknya keluar dari kamar. "Kamu buruan mandi, kita tunggu di luar."
🍂🍂🍂
Kanna yang lupa jika hari ini ada kelas pagi, melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Berharap dia akan segera sampai di kampus. Menghabiskan waktu bersama Kala membuatnya lupa akan pekerjaannya. beruntung saja Zahra segera mengingatkan jika hari ini ada kelas pagi.
Kanna tak peduli lagi dengan kendaraan yang ada di depannya. Tiba disebuah persimpangan, Kanna tak melihat kanan kiri lagi. Karena keteledorannya, mobil Kanna menabrak sebuah sepeda motor yang hendak menyeberang.
BRAKKK.
Kanna segera menginjak rem dengan sekuat tenaganya.
CIIITTT ...
Dada Kanna sudah naik turun saat melihat sebuah sepeda motor telah tergeletak di depan mobilnya. Tubuhnya bergemetar hebat dan keringat jagung pun mulai bercucuran. Bahkan Kanna terdiam untuk beberapa saat. Kanna sangat takut jika sang pengendara meninggal ditempat.
Beberapa orang telah mengerumuni sepeda motor yang ada di depan mobil Kanna. Sekuat tenaga Kanna mencoba untuk turun dan melihat keadaan seseorang yang telah ia tabrak.
"Maaf, saya tidak sengaja karena saya sedang buru-buru. Mari saya antar ke rumah sakit," kata Kanna yang merasa sangat bersalah.
"Aku gak papa, kok. Semua ini juga salahku nyebrang tapi nggak lihat-lihat jalanan," ujarnya.
Karena korban tidak apa-apa,beberapa orang yang sempat mengarumuninya langsung membubarkan diri. Kanna di ambang kebimbangan antara ingin bertanggung jawab dan pekerjaannya. Namun, Kanna merasa tidak tega ketika melihat seseorang yang dia tabrak meringis kesakitan. Akhirnya Kanna memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit terdekat.
"Aku bilang juga nggak apa-apa, Mas. Cuma luka kecil aja, kok."
"Anggap aja ini adalah tanggung jawabku karena telah menabrakmu," ujar Kanna.
Seorang wanita muda itu menyunginkan senyum di bibir ketika orang yang telah menabraknya begitu baik dan bertanggung jawab. Padahal lukanya tidak terlalu parah.
"Makasih ya, Mas. Kenalin aku Melani." wanita itu memperkenalkan diri kepada Kanna.
"Arkana," balas Kanna.
__ADS_1
Tak berapa lama terlihat seorang wanita tergopoh untuk menghampiri Kanna dan Melanie yang hendak keluar dari rumah sakit.
"Astaga ... Mela! Kamu kenapa bisa sampai seperti ini? Terus bagaimana keadaan sepeda motor kakak? Aduh ... mana itu belum lunas."
Melani hanya nyengir ketika sang kakak sudah mulai heboh untuk menanyakan sepeda motornya daripada dirinya. Ya, wajar saja karena sepeda motor itu masih dalam tahap kredit.
"Duh ... gimana ini!"
Seketika mata Kakak Melani menatap ke arah Kanna yang berdiri di samping adiknya. Wanita itu memperhatikan Kanna dari ujung kaki hingga ujung kepalanya.
"Aku tahu, pasti kamu yang udah menabrak adikku kan? Pokoknya aku nggak mau tahu kamu harus ganti rugi sepeda motorku yang udah kamu tabrak! Kalau kamu nggak makan terus aku laporkan kamu sama polisi!" ancam kakaknya Melani.
Melani hanya nyengir saat melihat Kanna. Rasanya dia sangat malu melihat kelakuan kakaknya yang lebih perhatian dengan sepeda motornya.
"Mas Arka, maafkan kakak saya ya. dia memang seperti itu orangnya. Lebih sayang barang ketimbang nyawa," bisik Melani.
Kanna mengganggu pelan, dia paham apa yang harus dia lakukan. Sebagai orang yang bertanggung jawab, Kanna tersedia untuk memberikan ganti rugi kepada Melani dengan memberinya sejumlah uang untuk membeli sepeda motor yang baru.
Kakak Melani menelan kasar ludahnya saat melihat Kanna memberikan sebuah cek kepada Melani. Awalnya Melani menolak, tetapi dengan cepat sang kakak mengambil cek yang telah ditandatangani oleh Kanna.
"Nah, kalau seperti ini kan enak," ujar Kakak Melani yang kemudian melotot lebar. "serius ini?"
Kakak Melani benar-benar tidak percaya dengan jumlah yang tertulis di dalam. Jumlah uang yang ditulis oleh Kanna tiga kali lipat dari jumlah harga sepeda motornya.
"Bagaiman? Saya rasa sudah lebih dari cukup."
Tanpa banyak kata kakak Melani menganggukan kepalanya sebagai tanda jika semua sudah cukup dan tidak ada masalah yang harus dibahas.
"Baiklah kalau seperti itu, karena saya sedang buru-buru maka saya harus pergi sekarang. sekali lagi saya menerima minta maaf," ujar Kanna sebelum pergi.
"Iya, Mas," balas Melani dengan senyum memerkah di bibirnya. Tak peduli lagi luka yang terbalut dengan kain kasa, Melani merasa sangat bahagia bisa bertemu dengan pria seperti Kanna.
"Gila, Mel! Kalau buat beli sepeda motor bisa dapat tiga! Tuh cowok tajir banget ya! Sering-sering aja lah kamu ketabrak biar dapat ganti rugi seperti ini," cerocos kakaknya dengan wajah yang bersinar.
Kalau yang nabrak seperti Mas Kanna gak papa, Kak. batin Melani
__ADS_1