
Berkat bantuan Arya, Melani tinggal di sebuah apartemen milik Arya yang sudah tak ditempati lagi olehnya. Meskipun hanya sementara waktu, tetapi Melani berjanji akan segera mencari tempat tinggal untuknya, setelah ia menemukan pekerjaan baru.
"Kamu nggak usah ke mana-mana, tinggal aja di sini. Apartemen ini sudah lama sekali tidak ditempati. Daripada kosong mending kamu yang merawatnya saja," saran Arya.
"Nah, bener banget tuh Om. Daripada mubazir kosong kan Om?" timpal Naura.
Melani berpikir untuk sejenak. Sebenarnya ia merasa tidak enak terhadap Om Arya yang sudah direpotkan. Keputusannya saat ini sudah bulat untuk menenangkan diri terlebih dahulu. Berharap ia tahu keputusan apa yang akan diambil kedepannya.
"Ya udah kamu tinggal di sini," kata Melani.
Meskipun Melani diberikan sebuah kartu ATM dari Alzam, tetapi ia memilih meninggalkan kartu itu di rumah Alzam. Saat ia keluar pun, tak ada benda milik Alzam yang ia bawa, hanya beberapa baju usang miliknya.
"Oh ya Mel, hari ini aku sibuk jadi nggak bisa lama-lama disini, kamu nggak papa kan aku tinggal?"
"Iya kamu nggak papa."
Setelah memastikan semua aman, Arya segera meninggalkan apartemen, karena ia memiliki kesibukan yang tak bisa ditinggalkan.
Setelah kepergian Arya, Melani hanya bisa menghela nafas panjangnya. Bahkan ia masih mengharapkan pesan dari Alzam.
"Sudahlah, Mel! Lupakan saja pria seperti Alzam. Pria di dunia ini bukan hanya Alzam seorang. Diluar sana masih banyak orang yang mau menerimamu apa adanya," kata Naura.
"Ya, aku tahu itu, Mbak. Saat ini aku sedang ingin menenangkan pikiranku, jadi Mbak Na jangan meracuni pikiranku."
Naura menyendikkan bahunya. "Terserah kamu aja. Aku mau jemput Deena."
🥕🥕🥕
Sudah dua hari Alzam tak melihat bayangan Melani di dalam rumahnya. CCTV itu terlihat sunyi tak menampilkan siapapun. Pikiran Alzam tak tenang. Ia pun mencoba untuk mengulang kembali rekamannya barangkali sudah terjadi sesuatu dengan Melani.
"Kenapa aku malah memikirkan dia," gumamnya.
Saat menemukan bayangan terakhir Melani, perempuan itu menyeret kopernya keluar dari rumah dan diikuti oleh Naura, kakaknya. Setelah itu tak ada lagi bayangan Melani di dalam rumahnya. Itu berarti Melani pergi dari rumah.
"Pergi ke mana dia, mengapa memberitahu?"
Tanpa pikir panjang lagi, Alzam segera mencari ponsel untuk menghubungi Melani. Ia ingin menanyakan mengapa Melani pergi dari rumahnya saat dirinya tidak ada. tak Butuh waktu lama sambungan telepon itu diangkat oleh Melani.
"Mel, apakah kamu baik-baik saja?" tanya Alzam tanpa basa-basi. Pria itu membuang egonya untuk sesaat.
"Aku baik-baik saja Pak. Tumben bapak meneleponku, ada apa?"
__ADS_1
Alzam hanya menelan kasar salivanya. Apakah sikapnya selama ini sudah keterlaluan kepada Melani sehingga membuat perempuan itu telah bosan kepadanya?
"Kamu sekarang di mana?"
"Aku di rumah, ada apa?"
"Bohong! Saat ini kamu meninggalkan rumah. Kamu pergi ke mana? Apa kamu pergi ke tempat Zahra?"
"Untuk apa bapak menanyakan hal itu? aku memang meninggalkan rumah, tapi Pak Alzam tenang saja aku tidak membawa sedikitpun apa-apa dari rumah Alzam. Aku sudah lelah, aku ingin menyerah dan aku ingin perpisahan kita lebih baik dipercepat saja."
Saat itu juga panggilan telepon langsung terputus. Kali ini bukan Alzam yang memutuskan sambungan telepon, tetapi Melani.
Ada denyutan di dalam dada Alzam. Tubuhnya masih membeku saat kata terakhir yang Melani ucapkan begitu jelas, jika Melani menginginkan perpisahan mereka dipercepat.
"Aku harus bagaimana?"
Katakanlah saat ini Alzam sangat egois. Ia menyembunyikan perasaannya, karena tak ingin membuat Melani bersedih di kemudian hari. Bahkan ia membuat Melani untuk membencinya, agar tak ada air mata saat dirinya benar-benar tiada. Waktu 5 bulan bukanlah waktu yang lama untuknya. Bahkan bisa jadi dalam operasi kali ini Alzam akan gugur. Maka takkan pernah ada air mata untuknya.
"Nek, apakah operasi ini bisa dipercepat?" tiba-tiba Alzam menelepon neneknya.
Setelah mendapatkan jawaban dari sama neneknya, Alzam hanya bisa memandang luas hamparan yang ada di depan matanya. Berharap setelah melakukan operasi nanti, ia masih bisa bernapas kembali.
Saat ini tak ada siapapun di samping Alzam. Hatinya benar-benar pasrah jika operasi itu gagal. Namun, Meskipun begitu setidaknya ya sudah menulis pesan permintaan maafnya kepada Melani, jika operasi benar-benar gagal.
Tanpa kata Alzam menganggukkan kepalanya.
...
Waktu berjalan begitu cepat, hingga tanpa terasa, kini sudah 2 bulan Alzam meninggalkan Melani tanpa kabar.
Melani sudah mengikhlaskan perasaannya pada Alzam untuk dikubur. Ternyata meskipun Alzam mengetahui jika dirinya meninggalkan rumah, tetapi kenyataannya dia hanya diam. Bahkan hingga sampai saat ini Alzam sama sekali tak pernah menghubungi dirinya. Saat Melani berusaha untuk menghubungi nomor asem di luar jangkauan. Mungkinkah ini pertanda jika Azam memang benar-benar ingin mengakhiri hubungan pernikahan mereka?
Disisi lain, kini dirinya dan Naura diberikan tawaran untuk bekerja di perusahaan Arya. Dengan senang hati kakak beradik itu menerima tawuran baik hot duda itu.
"Mbak Na, coba pikirkan lagi saranku!" desak Melani pada Naura, pasalnya perempuan itu menolak saat Melani berinisiatif untuk menjodohkan dirinya dengan Arya.
Meskipun Arya tampan dan mempunyai gelar hot duda, tetap saja tak bisa menggetarkan hatinya. Hatinya hanya akan bergetar ketika dia melihat Kanna saja. Itu pertanda jikah hatinya tahu di mana keberadaan separuh hatinya berada.
"Mending kamu aja yang nikah sama om Arya. Aku akan tetap mencintai mas Kanna," ucap Naura dengan bangga.
"Astaghfirullahaladzim, Mbak. nyebut! Mas Kanna itu suaminya mbak Ara, dia kakak ipar kita! Jangan merusak kebahagiaan keluarga mereka, Mbak!"
__ADS_1
"Tapi hati aku hanya ingin bergetar ketika melihat Mas Kanna, Mel. Berarti Mas Kanna itu adalah jodohku yang sedang salah jalan," ujar Naura dengan percaya diri.
Melani tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk menyadarkan kakaknya. Padahal saat itu Melani sudah berusaha membuat kencan untuk om Arya dan juga kakaknya. Namun, acara itu gagal karena Melani memilih meninggalkan kencannya.
Malam ini Melani menatap bintang yang menghambur luas di angkasa. Meskipun sudah berusaha ingin melupakan Alzam, tetapi bayangan pria dingin itu terus saja menghantui pikirannya. Melani pun tidak tahu bagaimana keadaan adzan saat ini. Apakah dia baik-baik saja atau mungkin dia telah menikah dengan orang lain. Mencoba untuk menutupi luka di hati tak semudah menutupi goresan di kulit. Tidak terlihat tetapi sangat menyakitkan.
Pada langit malam ia meminta di manapun Alzam berada semoga dia dalam keadaan baik-baik saja. Pada langit malam ia juga berdoa, jika memang masih bisa dipertahankan nasib pernikahannya, Melani meminta jika Tuhan akan menyatukan keduanya.
"Mel, masuk nanti masuk angin!" seru Naura yang melihat Melani masih berdiri di balkon
"Iya Mbak," ujarnya.
Dengan patuh Melani masuk ke dalam, berharap Tuhan akan membolak-balikkan hati manusia.
"Mel!" panggil Naura yang masih duduk di sebuah sofa.
"Iya Mbak, ada apa?"
"Baru jam 7 masa iya udah mau tidur?" tanya Naura dengan mengernyit.
Melani mendengus pelan kemudian menghampiri Naura yang memainkan ponselnya.
"Jika tidak tidur, aku harus apa? Bukankah selama ini juga seperti itu?"
"Apakah kamu sakit? Karena aku melihatmu sedikit pucat. Apakah kamu hamil?"
Melani yang merasa tidak hamil langsung segera memprotes ucapan Naura. "Hamil darimana jika sampai saat ini aku masih perawan!"
"Apa? Kamu masih perawan? Lalu selama menikah kalian ngapain aja?" tanya Naura dengan keterkejutan "Upss ... aku lupa jika kalian kan emang nggak bobok bareng. Mana bisa hamil."
"Hari ini aku capek, Mbak. Aku ingin tidur lebih awal. Jangan lupa nanti kalau mau tidur matikan lampunya!" pesan Melani yang kemudian merangkak ke atas tempat tidur.
.
.
...🥕🥕🥕...
...BERSAMBUNG...
Selamat hari Senin semoga hari kalian menyenangkan 😊 selagi menunggu novel ini update kembali mampir dulu yuk ke novel teman aku MARRIAGE WITH ( Out ) LOVE Mampir ya
__ADS_1