
Sudah satu minggu Naura tinggal bersama dengan Zahra. Bahkan saat ini dia lebih dekat dengan Deena karena tugasnya menjaga Deena. Naura akan menunggui Deena di sekolah dan akan menjadi temannya untuk bermain. Sama seperti Melani sebelumnya, Naura juga lebih pandai untuk mengambil hati Deena.
Seperti biasa, pagi ini dia telah bersiap untuk mengantarkan Deena ke sekolahannya. Namun, karena Kanna sedang terburu-buru dia meninggalkan Naura yang masih menunggu Deena sarapan.
"Kamu gak sarapan dulu, Mas?" tanya Zahra heran.
"Tidak. Aku ada rapat penting lagi ini bersama jajaran dosen lainnya," ujar Kanna yang hendak naik kedalam mobil. Namun, sebuah panggilan membuat Kanna menghentikan gerakannya.
"Mas Kanna tunggu!" Naura berlari menghampiri Kanna dengan sebuah rantang di tangannya. "Ini bekalnya. Mbak Ara udah masak banyak tapi mas Kanna gak makan, kan sayang."
Zahra hanya tersenyum kepada adiknya yang lebih peka kepada dirinya. Bahkan dia saja tak teringat sampai sejauh itu. "Na, makasih ya. Kamu udah bantuin mbak. Mas ambil aja, nanti kamu makan pas acara rapat sudah selesai," timpal Zahra.
Kanna mendengus pelan. Karena tak ingin membuat sang istri merasa kecewa, akhirnya Kanna mengambil bekal dari tangan Naura. "Oke aku bawa," ujarnya.
Naura tersenyum tipis saat bekal itu sudah diterima oleh kanna. Meskipun hari ini tak satu mobil dengannya, setidaknya Kanna menerima bekal yang sebenarnya Naura sendiri yang memasaknya.
"Mbak, sepertinya aku juga harus segera bersiap-siap. Deena juga udah selesai sarapannya."
"Ah, iya. Sekali lagi makasih ya, Na."
Naura segera masuk kedalam. Saat membantu Deena untuk memakaikan sepatunya, sebuah sindiran keras menamparnya. "Menjadi benalu dalam hubungan seseorang itu tak akan butuh waktu lama untuk mati, karena dia hanya belanu yang harus di musnahkan."
Naura menelan kasar salivanya. Semenjak kedatangannya satu Minggu yang lalu, sikap ibu Kanna seperti tak menyukai dirinya. Bahkan dia selalu melayangkan sindiran padanya.
"Aku heran mengapa anak dan menantuku bodoh kare sedang memelihara benalu," lanjutnya lagi kemudian berlalu.
Sebisa mungkin Naura tetep tenang dan memilih mengajak Deena untuk segera meninggalkan rumah. Jika setiap hari ibu Kanna terus-menerus menyindirnya, bisa-bisa Kanna dan kakaknya akan mempertanyakan apa maksud dari ucapannya.
'Aku heran. Mengapa wanita tua itu tahu apa yang sedang aku rencanakan? Aku tidak akan membiarkan dia sampai menghancurkan rencanaku,' batin Naura ketika sudah naik kedalam taksi online.
Bagaimana dia harus merasa tenang saat aroma busuknya sudah ada yang mengendus.
__ADS_1
"Aunty, kita sudah sampai," kata Deena dengan mengguncangkn tubuh Naura.
Perempuan itu tersentak dan langsung menyadari jika saat ini mereka sudah sampai di depan sekolah. "Ah, iya. Maafkan Aunty, Sayang."
"Makanya jangan ngelamun aja!"
.
.
Siapa yang tak merasa bosan jika harus menunggu anak sekolah dalam waktu setengah hari? Jika tidak menginginkan sesuatu yang lebih, Naura tak akan mau untuk menjadi seorang pengasuh untuk Deena. Dia memilih bebas mengais rupiah diluar mana z ketimbang menunggu seorang anak kecil di sekolahan.
Saat sedang hanyut menjelajahi sosial media, tiba-tiba muncul pesan dari Melani untuk mengajaknya bertemu. Karena saat ini Naura masih menunggu Deena, ia memutuskan untuk menemui Melani seusai pulang sekolah.
"Tumben tuh anak ngajak ketemuan. Apakah mau ngasih jatah bulanan untukku, ya?" Naura bermonolog setelah membaca pesan dari Melani.
"Kamu kenapa?" Melani tersentak saat suara Alzam mengagetkan dirinya. Wajah murung Melani membuat Alzam memperhatikannya sejak tadi. "Kamu sakit?"
Sebenarnya Melani merasa ada yang janggal dengan story yang ditulis oleh Naura. Entah itu hanya sebuah caption biasa atau memang gambaran hatinya saat ini.
"Mengapa tak menyuruhnya untuk datang kesini saja untuk menemanimu?"
"Gak bisa, Pak. Kan sekarang mbak Na jadi pengasuhnya Deena."
Mendengar nama Deena tiba-tiba hati Alzam terasa sesak. Untuk saat ini anaknya masih enggan untuk bertemu dengannya dengan alasan malas untuk bertemu dengan Melani. Menyadari Alzam yang terdiam, Melani langsung meminta maaf padanya.
"Pakz maaf ya. Semua ini karena salahku. Andaikan saja aku tak ceroboh, mungkin Deena tak akan menjagq jarak dengan Bapak," sesal Melani.
"Sudahlah, gak usah kamu pikirkan. Yang penting sekarang pembuat onar sudah diamankan.
Kini giliran Melani yang terdiam. Bukan ingin membela bapaknya, tetapi dia merasa iba saja pada nasib bapaknya yang harus mendekam dibalik jeruji besi. Memang sudah sepantasnya sang Bapak mendapatkan hukuman yang setimpal akan perbuatannya yang sudah sangat keterlaluan.
__ADS_1
"Gak usah kamu pikirkan bagaimana nasib bapakmu. Dia memang pantas untuk mendapatkan hukuman agar dia mempunyai rasa jera. Kamu gak usah memikirkan tentang hutang yang ditinggalkan olehnya, karena aku sudah melunasinya."
Saat itu juga mata Melani terbelalak lebar dengan pengakuan dari Alzam.
"Astaga, Pak! Itu kan banyak sekali. Bagaimana caranya aku mengembalikan uang itu sama bapak," kata Melani dengan shock.
"Kamu ini adalah istriku jadi sudah kewajibanku untuk membantu kesusahanmu. Jangan pikirkan bagaimana caranya kamu mengembalikan, tapi berpikirlah bagaimana caranya kamu membuang perasaanmu padaku," ujar Alzam dengan helaan napas panjangnya.
Melani hanya melotot kearah Alzam yang berjalan menjauh darinya. Rasanya akhir-akhir ini dia dibuat melayang dengan sikapnya yang hangat, tetapi tanpa angin dan hujan dia dihempaskan begitu saja. Saat ini Alzam kembali pada sifat dinginnya, entah salah apa yang membuat Alzam tiba-tiba berubah dingin lagi.
"Maksud Pak Alzam?"
"Aku hanya ingin mengingatkanmu agar tak banyak berharap dariku, karena aku tak akan pernah bisa untuk mencintaimu. Kamu juga harus ingat akan sisa usia pernikahan kita. Setelah 6 bulan, kita akan tetap bercerai sesuai dengan kontrak yang telah kita tanda tangani. Kamu tak perlu khawatir karena aku tak akan menyentuhmu. Jadi kamu masih akan tersegel setelah perceraian kita. Kamu juga tak perlu khawatir karena sepertiga warisanku akan menjadi milikmu," ujar Alzam tanpa ekspresi.
Mata Melani yang sudah memanas tak kuasa lagi untuk membendung cairan yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Air matanya jatuh begitu saja.
"Aku tidak akan lupa dengan usia pernikahan kita. Terima kasih sudah mengingatkanku, Pak."
.
.
.
...🥕🥕🥕...
...BERSAMBUNG...
Hari ini aku mau merekomendasikan sebuah novel dari temen aku, ETERNAL ENEMY, mampir ya
__ADS_1