
*Untuk selanjutnya novel ini akan menggunakan POV Author, dimana Author yang akan bercerita βΊοΈ
Selamat Membaca π
Alzam sangat terkejut setelah membaca surat yang ditinggalkan oleh Zahra. Meskipun dia tidak mencintai Zahra, tetapi hatinya terasa sakit saat Zahra pergi untuk kedua kalinya. Tubuhnya masih lemas dengan tangan yang bergemetar.
"Kamu pergi kemana lagi, Ra?" lirih Alzam sambil mengacak rambutnya.
Sementara itu di rumah utama milik Alzam, seorang Aira sudah hampir tiga hari mengurung diri di dalam kamar. Bahkan sedikitpun dia tidak menyentuh makanan.
Mbok Inah sudah berusaha membujuk, tetapi Aira masih kukuh dengan keinginannya. Kenyataan yang menyakitkan harus terjadi pada dirinya. Rasa sesal yang terus melekat dalam hatinya saat tak mengetahui kenyataan itu lebih cepat.
Zahra yang dia anggap hanya seorang asisten rumah tangga ternyata adalah istri sah suaminya. Pantas saja Alzam tak bisa menikahi dirinya secara negara, ternyata dia telah menikah.
Aira semakin mengacak rambutnya saat mengingat kembali apa yang telah terjadi. Dengan bodohnya, dia tertipu dengan Alzam, pria yang paling dia cintai.
"Tega kamu, Mas!" teriak Aira untuk kesekian kalinya.
Mbok Inah yang merasa sangat khawatir dengan kondisi Aira, segera menghubungi Alzam. Melalui sambungan video call, mbok Inah memperlihatkan kondisi Aira saat ini.
"Den, lihatlah keadaan neng Aira!" adu mbok Inah.
__ADS_1
Alzam yang melihat keadaan Aira yang memprihatinkan hanya bisa mengelus dirinya. Semua ini salahnya yang sudah mengambil keputusan tanpa mencari kesepakatan terlebih dahulu. Saat ini Alzam benar-benar sangat terpukul.
"Aku pulang sekarang," kata Alzam yang kemudian mematikan sambungan teleponnya.
Tak membutuhkan waktu lama, Alzam telah sampai di rumah. Dia segera menuju ke kamar, dimana Aira berada.
"Sayang," panggil Alzam dengan suara bergemetar. Seakan Alzam tak sanggup untuk melihat keadaan Aira saat ini.
"Pergi!" teriak Aira. "Aku benci kamu, Mas!"
Alzam memberanikan diri untuk mendekat. Tangannya terulur untuk menyentuh rambut Aira. "Maafkan aku, Ra," lirih Alzam dengan mata yang sudah berkaca-kaca. "Kamu makan ya," bujuk Alzam.
Alzam segera mengambil piring yang telah berada diatas meja. Namun, saat sendok telah berada di depan mulut, Aira segera menepisnya.
Alzam menyimpan lagi piring yang sempat dia pegang. "Kamu harus makan Ra! Jangan sampai kamu sakit," bujuk Alzam lagi.
"Apa peduli mu, Mas?! Aku mau sakit, mau mati, aku tidak peduli. Kamu jahat Mas!"
Alzam segera menarik tangan Aira untuk masuk kedalam pelukannya. Dia berusaha untuk menenangkan Aira. Tak ada penolakan dari Aira. Isak Aira pecah dengan mengucapkan kata jahat pada Alzam.
Tak hentinya Alzam menge.cupi rambut Aira dengan penuh rasa sesal. Namun, tiba-tiba Alzam merasa ada yang ganja dengan Aira tanpa kata dan pergerakannya lagi.
__ADS_1
"Ra ... Aira!" Alzam terlihat panik saat melihat Aira sudah sudah lemas dengan mata yang terpejam.
"Aira ... bangun Ra!" Alzam berusaha untuk membangunkan Aira.
"Mbok Inah!" teriak Alzam dengan kuat.
"Astaghfirullahaladzim, Den. Neng Aira kenapa?" tanya mbok Inah dengan kepanikannya. "Tunggu apalagi, Den. Bawa ke rumah sakit!" ujar mbok Inah.
Alzam pun segera membopong tubuh Aira. Pikirannya hanya satu, dia tidak ingin kehilangan Aira.
"Cepat mbok!" teriak Alzam pada mbok Inah yang masih mengunci pintu rumahnya.
"Den cepat!" Kini gantian mbok Inah yang tak sabar agar Alzam segera menjalankan mobilnya.
.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Kecup jauh dulu ah sama kalian yang udah nebar vote sama kembang kopinya. Makasih ya ππ