Belenggu Pernikahan Semu

Belenggu Pernikahan Semu
80 | Luka Sayatan


__ADS_3

Kanna tidak terima dengan apa yang telah dilakukan oleh Shena yang sampai hati menyayat pipi Deena, bocah tak bersalah. Dengan amarah yang masih memuncak Kanna menatap tajam kearah kedua kakaknya secara bergantian. Bahkan sedikitpun Kanna tak merasakan takut.


Aku jadi curiga jika kematian bapak ada sangkut-pautnya dengan kalian," ujar Kanna dengan sinis.


Jika mereka bisa melakukan hal seperti ini pada anak kecil, tidak mungkin jika tidak tega pada orang dewasa.


"A-pa maksud kamu, Na? Kamu nuduh kami sengaja mencelakai bapak, gitu? Kamu jangan gila! I-itu tidak mungkin," sanggah Shena dengan gugup.


Mata Dayat melirik kearah Shena, berharap dia tak terpancing emosinya dan tidak menceritakan apa yang sudah mereka lakukan. Meskipun sebenarnya mereka tak ada niatan untuk membunuh bapaknya.


Kamu gugup?" tanya Kanna dengan mata yang memincing. "jangan bilang tebakanku ini benar."


Shena hanya bisa menelan kasar salivanya. Dia tidak tahu akan menjawab apa karena saat ini dia sedang gugup.


"Kamu ini ngomong apa sih, Na! Jelas dia gugup karena kamu telah menuduhnya," ujar Dayat yang tetap berusaha untuk tenang.


Langkah Kanna semakin mendekat kearah dua orang yang bergelar kakak. Dua orang yang seharusnya menjadi panutan untuk dirinya malahan menjadi iblis berwajah manusia.


"Kanna kamu mau apa? Jangan macam-macam atau aku tidak akan melepaskan mu dari sini!" ancam Shena yang sudah sangat ketakutan.


"Jawab dengan jujur apakah kecelakaan yang menimpa bapak adalah ulah kalian berdua? Jawab!" bentak Kanna dengan mata memerah.


"Jaga ucapan mu! Mana mungkin aku mencelakai bapak!" bantah Shena


"Papa ... awas orang papa mau ditusuk," ucap Deena yang melihat Dayat memegang pisau belati. Dengan sigap Kanna menepis tangan Dayat hingga pisau itu terjatuh ke lantai.


"Aku tidak menyangka jika hati kalian telah dibutakan oleh harta hingga rela menghilangkan nyawa keluarga, terlebih itu adalah seorang ayah. Dimana letak hati nurani kalian sebagai seorang anak. Kalian tumbuh besar dengan kasih sayang seorang ayah tanpa kekurangan apapun. Dan ini balasan kalian? Dasar anak durhaka! Aku tidak akan tinggal diam atas apa yang telah menimpa kepada bapak. Kalian harus bertanggung jawab!" bentak Kanna dengan kobaran api dalam tubuhnya.


Tanpa mendapatkan jawaban dari keduanya, Kanna sudah yakin jika kecelakaan itu memang ada sangkut-pautnya dengan kedua kakaknya. Seharusnya Kanna mempercayai Deena sedari awal dan langsung mengambil tindakan untuk segera menyelidiki tentang kecelakaan itu. Namun, Kanna masih sedikit santai untuk menanggapinya.


"Tunggu saja aku akan memberikan hukuman yang setimpal!" ujar Kanna.


"Jangan bermimpi! Sebelum kamu memberi hukuman, aku rasa kamu dan juga anak kesayanganmu itu sudah tak lagi bernyawa," kekeh Dayat.


Kini sifat asli Dayat telah muncul. Selama ini dia berusaha untuk menutupi belangnya. Namun, karena Kanna memancing terlebih dahulu, akhirnya Dayat menujukan wajah aslinya didepan Kanna.


"Sepertinya tak ada yang harus ditutupi lagi karena kamu juga sedang mengetahuinya. Aku salut kepadamu karena tebakan mu benar. Aku yang sudah mensabotase mobil bapak. Awalnya aku hanya ingin memberinya pelajaran kecil saja. Namun, siapa yang menyangka jika akan parah. itu semua karena anak sialan itu!" Tunjuk Dayat pada Deena.


Dada Kanna semakin panas saat mendengar pengakuan dari Dayat yang telah mensabotase mobil bapaknya.

__ADS_1


"Keterlaluan kamu, Mas!" Kanna berusaha untuk menghantam wajah Dayat. Namun, dengan cepat Dayat menangkis dan membekukan tangan Kanna.


"Kamu kira kamu bisa melawanku? Dasar adik tak berguna!"


Deena yang melihat papanya sedang dihakimi oleh kakaknya sendiri tidak bisa berbuat apa-apa. "Calline, jangan biarkan papaku mati di tangan mereka!" lirih Deena pada boneka yang turut diikat dengannya.


Tak berapa lama Dayat dan juga Shena terkejut dengan beberapa orang yang masuk kedalam ruangan tersebut. Yang lebih mengejutkan lagi ketika orang-orang itu malah menangkapnya dengan paksa.


"Bawa mereka jangan sampai kabur! Aku akan mengurus anakku terlebih dahulu," kata Kanna yang berusaha untuk bangkit.


Beruntung saja nasib baik memihak kepada dirinya, jika tidak mungkin saat ini Kanna sudah sekarat di tangan Dayat.


"Lepaskan! Lepaskan aku!" teriak Shena dengan memberontak.


"Kanna kamu tidak bisa melakukan ini padaku! Lepaskan aku!" Shena terus memberontak.


Dayat hanya tersenyum sinis kearah adik bungsunya dan berkata, "Tunggu saja, aku pasti akan datang untuk membalas mu!"


Kanna segera menghampiri Deena yang terlihat pucat. Dia segera membuka tali yang mengikat tubuhnya. "Sayang, kamu gak papa 'kan? Kita ke rumah sakit, ya."


"Deena gak apa-apa, Pa."


🍂🍂🍂


"Saya merasa heran dengan anak Bapak, padahal lukanya tidak dalam tetapi daranya yang keluar lumayan banyak. Tapi Bapak tenang saja saya sudah memberikan obat untuk menghentikan pendarahan. Semoga lekas membaik anaknya ya, Pak," kata sang Dokter kepada Kanna.


Kanna merasa lega saat mendengar jika sayatan itu tidak dalam. Kanna tempat panik saat darah Deena terus mengalir.


"Baik, Dok. Terima kasih."


Selama perjalanan Deena hanya terdiam. Mungkin dia masih merasa trauma atas apa yang telah menimpanya tadi. Kanna tidak bisa membayangkan lagi bagaimana sakitnya saat pisau itu menggores pipi Deena.


"Sayang, maafkan Papa, ya. Papa gak bisa jaga kami dengan baik," ujar Kanna disela-sela mengemudinya.


"Papa jangan merasa bersalah. Deena tidak apa-apa, Pa."


Kanna sudah berjanji pada dirinya sendiri akan memberikan pelajaran yang setimpal atas apa yang dilakukan kedua kakaknya.


'Aku tidak pernah menyangka jika anak yang dibesarkan dengan kasih sayang orang tua, mampu mencelakai orang tuanya sendiri hanya karena harta warisan. Sebagai seorang anak yang aku tidak terima atas apa yang telah mereka lakukan. Aku akan menuntut tanggung jawab mereka, tetapi dengan caraku sendiri.'

__ADS_1


Tak berselang lama, mobil yang dikendarai oleh Kanna telah sampai didepan rumahnya. Terlihat Zahra juga sudah menunggu di teras. Saat Kanna baru saja keluar, Zahra langsung bergegas untuk menanyakan bagaimana dengan Deena. Senyum simpul itu terukir di bibir Kanna meskipun terasa berat.


"Deena aman. Dia tertidur."


Mendengar jawaban dari suaminya, sejarah mereka sangat lega. Namun, saat melihat Kanna memotong tubuh Deena, mata Zahra menangkap ada sesuatu yang berbeda.


"Itu kenapa, Mas?" panik Deena saat melihat balutan kain kasa yang menempel di pipi Deena.


"Itu luka sayatan."


"Apa?!"


Zahra yang panik ingin melihat lebih jelas. Namun, Kanna melarang dengan alasan Deena baru saja tertidur.


"Aku antar Deena ke kamarnya, nanti aku jelaskan."


Zahra hanya mengikuti langkah Kanna menuju ke kamar Deena. Namun, nyatanya setelah keluar dari kamar Deena, Kanna tak memberikan penjelasan apa-apa kepada dirinya.


Zahra terus menodong Kanna untuk memberikan penjelasan agar Zahra mengetahui apa yang sudah terjadi sebenarnya.


"Sekarang jelaskan apa yang sudah terjadi? Mengapa wajahmu juga seperti ini, Mas?" tanya Zahra dengan rasa penasaran.


Kanna belum bisa menjelaskan apapun kepada Zahra hanya bisa mende.sah pelan.


"Aku mandi dulu, ya. Nanti aku jelaskan."


.


.


.


.


Bersambung.


Halo-halo selagi nunggu bab ini up, mampir dulu yuk ke novel temen aku. Dia baru buat novel jadi sangat membutuhkan dukungan dari kalian semua. Mampir ya!


Judul Novel : Dan Ternyata Cinta

__ADS_1


Author : Javanese



__ADS_2