
Karena keadaan Deena sudah mulai membaik, saat ini dia sudah diperbolehkan untuk pulang. Selama dua hari berada di rumah sakit membuatnya tak bisa bermain dengan Kala.
Saat Deena hendak dibawa pulang, dia melihat orang asing yang turut di dalam ruangan. Karena merasa penasaran akhirnya Deena menanyakan siapa wanita yang berada disamping mamanya.
"Sebenarnya Mama ingin memberikan penjelasan di rumah, tetapi berhubung Deena sudah tahu ya, apa boleh buat," kata Zahra melirik kearah Melani.
"Deena, Sayang. Kenalin ini adalah aunty Mela, adiknya Mama," jelas Zahra pada anaknya
Melani tersenyum dan langsung mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Deena. Saat tangan Deena bersalaman dengan Melani, bocah itu langsung menatap mata Melani tanpa ekspresi.
"Bolehkah aunty berteman dengan Deena?" tanya Melani dengan senyum di bibirnya.
Deena hanya bisa mengangguk pelan. Bahkan dia enggan untuk menjawab dengan kata. Zahra dan Melani tak ambil hati ketika Deena tak merespon dengan baik ajakan Melani. Mereka menganggap jika saat ini Deena belum memulihkan kondisi tubuhnya dengan baik.
Tak lama pintu ruang rawat inap itu dibuka oleh dua orang laki-laki yang saling beriringan. Siapa lagi jika bukan Kanna dan juga Alzam. Kedua ayah dari Deena.
"Bagaimana, Sayang? Udah siap untuk pulang?" tanya Kanna saat melihat Deena sudah tak mengenakan seragam rumah sakit lagi.
Kepala kecil itu mengangguk pelan. Namun, saat melihat salah satu papanya, tiba-tiba Deena juga ikut bersedih. Dia tahu jika sebenarnya Alzam juga menginginkan kebahagiaan kecil dalam hidupnya. Sayangnya saat ini tak ada yang peduli perasaannya.
"Pa, bisakah Deena tidur di rumah papa Alzam untuk beberapa hari saja?" tanya Deena dengan tiba-tiba.
Kanna dan Zahra saling melemparkan tatapan. Mereka heran saat Deena menginginkan tidur di rumah Alzam. Begitu juga dengan Alzam yang tak kalah terkejut saat mendengar permintaan Deena. Sebenarnya itu adalah salah satu keinginan Alzam, tetapi karena Alzam tak ingin mengganggu ketentraman rumah tangga Zahra, dia hanya bisa memendamnya seorang diri.
"Kasihan papa Alzam, Ma. Dia gak ada temannya," celoteh Deena lagi.
Saat ini Kanna tak ingin egois. Kanna juga berhak atas Deena, terlebih suatu saat nanti Deena akan menjadi penerus keluarga Alzam.
"Tapi, De—"
__ADS_1
"Sudahlah, Ra. Biarkan saja Deena tidur di rumah Alzam untuk beberapa hari ini. Kita sebagai gak boleh egois. Bagaimanapun Alzam adalah ayah kandungnya Deena. Mungkin saat ini Deena sedang merindukan papa Alzam," jelas Kanna yang memberikan sedikit pengertian pada istrinya.
Zahra membuang kasar napasnya. Meskipun saat ini Alzam sudah tobat, tetapi ada rasa tidak rela jika Deena lebih memilih tinggal bersama dengan Alzam.
"Baiklah, Mama izinkan. Tapi hanya dua hari," kata Zahra.
"Kok dua hari, Ma? Deena maunya satu Minggu!" protes Deena.
"Dee, dengerin Mama. Satu Minggu itu waktu yang lama. Papa Alzam juga harus mengurus kantornya. Kalau Deena lama tinggal di rumah Papa Alzam nanti pekerjaan papa Alzam terganggu, Sayang. Emangnya kamu gak main sama dedek Kala?" Zahra berusaha untuk bernegosiasi dengan Deena.
Deena langsung terdiam untuk beberapa saat. Selama pulang dari luar negeri Alzam hanya beberapa kali mengunjungi Deena. Padahal Deena masih ingin bersama dengannya, tetapi Alzam harus pulang.
Melihat Deena yang terdiam, sebagai seorang ayah, Alzam meras tak tega. Baginya tak ada yang lebih penting daripada Deena.
"Kalau Papa sih, gak masalah Deena mau tinggal berapa lama di rumah Papa. Hanya saja dapat izin gak dari Mama," kata Alzam sambil melirik kearah Zahra.
"Yes, pulang ke rumah Papa Alzam," ucap Deena dengan girang.
Tanpa disadari ada hati yang begitu sakit saat melihat wajah bahagia Deena lebih memilih Alzam daripada dirinya. Dia adalah Kanna. Entah mengapa hatinya begitu nyeri seakan tidak ikhlas akan pindah Deena. Namun, dia mencoba untuk menepis kegundahan hatinya. Deena berhak untuk menentukan pilihannya, termasuk untuk tinggal bersama dengan Alzam, karena Alzam adalah ayah kandungnya.
Zahra hanya bisa melihat punggung ayah dan anak yang meninggalkan ruang rawat. Hatinya juga sangat nyeri, tetapi dia tak boleh egois.
"Mbak, aku pulang dulu ya," pamit Melani yang sejak tadi hanya menjadi pigura tanpa ada yang peduli dengannya. Bahkan sang keponakan pun tak menyambutnya dengan baik.
"Iya. Hati-hati, ya," pesan Zahra.
Dengan rasa kecewa, Melani meninggalkan ruangan Deena. Langkahnya gontai menyusuri lorong rumah sakit. Percuma saja dia hadir, tetapi keadaannya sama sekali tak dianggap.
"Enak ya jadi mbak Zahra dikelilingi orang ganteng dan kaya, terlebih mas Arakan yang sangat mencintainya. Bahkan dia juga sangat menyayangi Deena melebihi anak kandungnya sendiri. Sepertinya gak ada celah untuk masuk kedalam hatinya, deh. Kalau aku gak bisa mendapatkan mas Arkana, aku ambil aja pak Alzam," kata Melani dengan lesu.
__ADS_1
"Eh, tunggu! Masa iya sama pak Alzam, sih? Yang bener aja? Pak Alzam udah 33 tahun sedangkan aku baru mau naik ke 18. Masa om-om aku embat, sih? Gak ah, gak mau!" Melani bergidik saat membayangkan perbedaan usianya dengan Alzam. Tak ingin terlalu banyak berkhayal, Melani memilih berlalu meninggalkan rumah sakit.
Sementara itu Zahra dan juga Kanna kerjakan gontai. Memang berat untuk melepaskan Deena, tetapi mereka juga tidak bisa mengingkari jika Alzam juga berhak atas Deena.
"Mas, bagaimana jika Deena lebih memilih Mas Alzam daripada kita? Aku tidak akan pernah sanggup jika itu terjadi," ucap Zahra dengan tatapan kosong.
Kanna mengelus rambut istrinya. "Itu tidak akan terjadi. Mungkin saat ini Deena merindukan Alzam, karena selama setahun dia mereka tinggal bersama. Kita tidak bisa memutuskan ikatan anak dan ayah. Biarkan semua mengalir apa adanya dan berdoa untuk kebaikan kita semua."
***
Alzam merasa sangat bahagia ketika Deena menginginkan untuk tidur di rumahnya. Akhirnya tanpa diminta, Deena akan datang dengan sendirinya. Mungkin itulah yang dikatakan ikatan batin seorang ayah dengan anaknya.
"Tumben Deena mau menginap di rumah Papa? apakah Deena sedang ada masalah?" tanya Alzam di tengah perjalanannya.
Deena menggelengkan kepala. "Tidak, Pa. Deena hanya merindukan Papa saja."
Alzam mengerti akan perasaan Deena. Namun, detik kemudian Alzam diterkejutkan dengan pertanyaan Deena yang membuatnya langsung menginjakkan rem secara mendadak. Bagaimana mungkin Deena bisa bertanya sejauh itu kepada dirinya, sedang saat ini Alzam sedang berusaha untuk menata hidupnya dari puing-puing kehancuran.
"Dee, kamu ngomong apa? Itu tidak mungkin, Sayang," ujar Alzam sambil menatap kearah anaknya.
"Apakah Deena tidak menyayangi papa Kanna? Dia sangat baik dan sangat menyayangimu, Sayang. Kamu tidak boleh berharap seperti itu. Bagi Papa saat ini adalah melihatmu bahagia tanpa menyakiti siapapun," lanjut Alzam dengan tulus.
.
.
.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1