Belenggu Pernikahan Semu

Belenggu Pernikahan Semu
70 | Menyadari


__ADS_3

Hanya kecupan singkat karena ada Deena yang melihatnya. Namun, meskipun singkat sudah mampu mengguncangkan dadanya. Jantung Kanna berdetak kencang seperti habis maraton.


'Semoga saja Zahra tak mendengar detak jantung sialan ini,' batin Kanna.


Mendadak tubuh Zahra membeku untuk beberapa saat. Aliran pembuluh darah bak sengatan arus listrik yang menjalar ke tubuhnya. Meskipun singkat, efek yang ditimbulkan membuat jantung bertalu-talu.


Deena yang menyaksikan dengan mata dan kepalanya memilih menutup mata saat sang papa telah menodai penglihatannya yang masih suci.


"Udah belum?" tanya Deena yang masih menutup kedua matanya.


Kanna dan Zahra saling melempar tatapannya seraya melihat arah bawah. Keduanya ingin tertawa saat melihat bocah itu berjongkok dengan kedua telapak tangan menutup matanya.


"Kamu kenapa, Dee?" tanya Zahra yang sudah mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Deena.


Deena mengintip pelan lalu mendongak keatas. Adegan yang menodai matanya sudah tidak ada dan kini papa dan mamanya ada disampingnya.


"Papa jahat! Papa sudah menodai mata Deena!" seru Deena saat melihat Kanna.


Kanna terkekeh pelan. Dia seakan lupa jika Deena bukan bocah biasa. Pikiran Deena adalah pikiran orang dewasa.


"Papa hanya —"


"Hanya mencium mama ditempat umum? Papa gak sopan!" protes Deena dengan bijak.


"Nah, Iya! Papa nakal," timpal Zahra dengan menahan tawanya.


Akhirnya suasana canggung itu tercairkan oleh sosok Deena. Dia mampu membuat Kanna melupakan gengsinya.

__ADS_1


Tidak lengkap jika sudah sampai didepan menara tinggi itu tak mengabadikan dengan berfoto.


"Sini biar Deena yang fotoin!" Deena langsung mengambil ponsel papanya.


Bocah kecil itu layaknya seorang fotografi yang sedang ingin mengambil gambar artisnya. Bahkan Deena juga memberi isyarat agar mama dan papanya saling mendekat.


"Kalian sudah tua tapi masih malu-malu!" protes Deena yang merasa kesal karena kedua orang tuanya sangat kaku.


"Pa, dengerin Deena, dalam hitungan ketiga Papa harus melakukan adegan seperti tadi!"


Kanna hanya pasrah saat Deena mengatur dirinya. Bahkan dia juga tidak marah saat Deena memintanya untuk mengulangi adegan yang menodai mata sucinya bocah itu. Tepat berlatar belakang sebuah menara yang menjulang tinggi, Deena berhasil mengabadikan potret mesra kedua orang tuanya. Namun, sayangnya hasilnya tak sesuai harapan Deena, karena Kanna hanya mengecup pipi Zahra saja.


🍂🍂🍂


Puas menikmati senja di depan Menara, kini saatnya mereka harus kembali lagi ke penginapan. Meskipun nyatanya menara itu akan terlihat indah di malam hari. Kanna hanya mengkhawatirkan kesehatan Deena dan juga Zahra. Terlebih tubuh Zahra yang sekarang mudah tumbang jika terlalu kelelahan.


"Kenapa?" tanya Kanna saat menyadari jika Zahra memasang wajah masamnya.


"Aku belum melihat bagaimana suasana malam, kamu sudah membawaku pulang," ujarnya.


"Kamu harus ingat, besok kita akan pulang ke Indonesia. Bukankah kita juga sudah menghabiskan waktu lama disana? Apakah masih kurang?"


Kini Zahra hanya bisa terdiam. Alasan Kanna memang masuk akal. Namun, tetap saja Zahra masih belum mengikhlaskan kepulangannya malam ini.


"Sebelum aku menikmati malam disana, aku belum mau pulang," ucap Zahra tiba-tiba.


Kanna yang mendengar langsung mengernyitkan dahinya. "Jadi kita harus kembali kesana lagi?"

__ADS_1


Zahra hanya mengangguk pelan sebagai jawabannya.


Tanpa Kanna sadari kini suasananya sudah kembali normal seperti sediakala. Meskipun masih ada rasa sakit dalam hatinya saat mengingat kembali vidio singkat itu. Sesakit apapun, Kanna tak bisa menyalakan Zahra sepenuhnya. Siapapun wanita yang bergelar ibu pasti akan mengutamakan keselamatan anaknya dari pada nyawanya sendiri.


Apa yang dilakukan oleh Zahra hanya ingin membuat anaknya lepas dari tangan Alzam. Dia tidak tahu jika Alzam akan memanfaatkan dirinya.


Malam ini, saat Deena sudah terlelap dalam alam mimpinya. Tak lama setelah makan malam, bocah itu langsung terlelap. Mungkin saja Deena kelelahan saat dia bermain.


"Mas," panggil Zahra saat Kanna baru saja akan naik ketempat tidurnya. "boneka Calline dimana, ya?"


Kanna yang sejak membawa Deena pulang tak menemukan boneka kesayangan Deena. Bahkan Deena juga tak membahas tentang Calline. Bisa jadi Calline sedang tertinggal di apartemen milik Alzam. Namun, selama Zahra tinggal disana, dia tak menemukan wujud boneka Calline.


"Aku tidak tahu, Ra. Bukankah malam itu Deena tak membawa bonekanya?"


"Tapi selama aku tinggal disana, aku tak menemukan akan keberadaan boneka Calline."


Kini tak adalagi percakapan diantara keduanya. Zahra pun memilih untuk berpura-pura tidur.


"Ra, maafkan sifat ku yang kekanakan-kanakan, ya."


"Aku juga minta maaf sudah mengecewakanmu, Mas."


"Lupakan masalah itu. Aku ingin kamu segera menghapus semua ingatan malam itu, Ra!" tegas Kanna. "aku mencintaimu, Ra."


.


.

__ADS_1


.


Ya Allah, ngantuk berat. Demi kalian aku Up lagi. Jangan lupa yang punya celengan Vote bisa kalian bongkar untuk kalian berikan ke novel receh ini.♥️


__ADS_2