
"Ra, aku minta maaf karena tidak bisa mengantarmu pulang. Kamu gak papa kan? Soalnya kelas aku hampir mulai. Kamu tenang aja, aku akan pesankan taksi untukmu," ujar Kanna yang sedikit kecewa karena harus membiarkan Zahra pulang sendiri.
"Gak papa, Mas. Aku tahu. Makasih ya udah mau nganterin aku." Senyum indah itu mengembang di bibir Zahra.
Setelah mobil Kanna pergi, Zahra masih berdiri di pinggir jalan untuk menunggu taksinya yang sebentar lagi sampai. Tak menunggu lama, sebuah mobil hitam berhenti tepat di samping Zahra. Tanpa aba-aba Zahra malah langsung masuk.
"Jalan, Pak!" perintah Zahra.
Sang pengemudi pun menjalankan mobilnya, sesekali dia melirik dari arah spion. Ada debaran jantung yang telah bertalu-talu setelah meyakinkan jika itu adalah Zahra. Namun, sang pengemudi memilih diam.
"Kemana?" Akhirnya suara itu membuat Zahra terkejut.
Dengan hati yang bergetar, Zahra memberanikan diri untuk memastikan siapa yang sedang mengemudi. Jantungnya hampir lepas saat dia mengetahui siapa yang sedang mengemudi.
"Berhenti!" tegas Zahra.
Namun, sayangnya mobil terus melaju tanpa memperdulikan ucapan Zahra.
"Berhenti sekarang juga!" ulang Zahra dengan nada tinggi.
"Kita harus berbicara sebentar!"
Zahra hanya bisa merutuki kecerobohannya yang tak memperhatikan mobil siapa yang dia naiki. Bahkan Zahra juga tidak tahu akan dibawa kemana dirinya.
"Kamu kemana saja selama ini? Aku mencarimu ke mana-mana tetapi tak menemukanmu. Kamu baik-baik saja kan? bagaimana dengan anak kita? Dia laki-laki atau perempuan?"
__ADS_1
Zahra hanya tersenyum getir saat mendengar pertanyaan yang konyol dari pria yang sudah menamakan luka dihatinya.
"Ra, aku tahu kamu tidak akan pernah bisa untuk memaafkannya kebodohanku. Aku telah menyakitimu, Ra."
Zahra tak bergeming meskipun dadanya sudah bergerumuh. Ketakutan selama ini akhirnya terjadi juga.
"Ra, beri aku satu kesempatan untuk memperbaiki semuanya."
Lagi-lagi Zahra hanya tersenyum dekil mendengar ucapan Alzam. Baginya nasi telah menjadi bubur, tak ada lagi yang harus diperbaiki karena semuanya sudah berakhir.
"Kesempatan seperti apa yang kamu maksud, Mas? Apakah kesempatan untuk menyakitiku lagi? Maaf, aku tidak bisa."
Alzam memilih untuk menepikan mobilnya sejenak. Dia menoleh kebelakang. Tatapan matanya menatap dalam pada wanita yang ada didepannya saat ini. Tubuh yang dulu ramping dan kecil, kini sudah mulai berisi. Bahkan saat ini Zahra terlihat sudah dewasa ketimbang lima tahun yang lalu.
"Hubungan kita telah berakhir, Mas. Antara kita sudah tidak ada hubungan apa-apa. Oh iya, aku juga saja mendaftarkan perceraian kita," ucap Zahra dengan rasa gugup.
"Aku tahu, Ra. Aku hanya pria breng*sek yang tak pantas untuk mendapat kata maaf. Aku tidak akan memaksakan egoku untuk menahanmu lagi. Tapi aku juga ingin kamu tidak egois, Ra. Aku tahu kamu sudah melahirkan anak kita. Aku hanya ingin mendapatkan pengakuan ayah untuk anak kita."
Zahra kembali lagi menyungging tipis. "Apakah kamu ingin mengambilnya? Kamu memang ayah biologisnya, tapi sampai kapanpun aku tidak akan pernah memberikannya kepadamu, Mas. Hak asuh dia akan aku perjuangkan. Sudahlah, hubungan kita sudah berakhir. Sekarang biarkan aku turun aku ingin pulang."
"Aku tidak akan mengambilnya dirimu, tetapi aku hanya ingin melihat dan mendapatkan pengakuan Ayah darinya."
"Maaf, Mas. Dia sudah memiliki ayah yang sangat menyayanginya. Aku sudah menikah," ujar Zahra dengan jujur.
Tubuh Alzam membeku dengan pernyataan dari Zahra yang mengatakan jika dia sudah menikah, sedangkan saat ini Zahra masih berstatus sebagai istri sahnya. Alzam menggeleng pelan, tak percaya. Dia menganggap jika Zahra sedang membohonginya saja.
__ADS_1
"Terserah kamu mau percaya atau tidak, tapi begitulah kenyataannya."
Zahra pun akhirnya meminta Alzam untuk membuka pintu mobil.
"Tidak! Ara pasti hanya mencari alasan saja. Tidak mungkin dia sudah menikah." Alzam menepis pernyataan Zahra.
Meskipun Alzam sadar sudah menabur luka, tetapi saat mendengar Zahra telah melayangkan gugatan perceraian, hatinya terasa sangat sakit. Rasa tidak rela untuk melepaskannya kembali menguat, terlebih Zahra telah melahirkan anaknya.
"Jika aku tidak bisa memiliki ibunya, aku harus bisa memiliki anaknya. Dia anakku, darah daging ku. Aku berhak sepenuhnya atas anak itu," ucap Alzam dengan mata yang lurus ke depan.
Tidak mudah baginya untuk melewati hari-hari selama lima tahun terakhir. Dirundung kesendirian dalam balutan penyesalan. Alzam hanya meminta jika suatu saat dia bisa bertemu dengan Zahra dan memperbaiki semuanya.
"Meskipun aku tidak merelakan perpisahan, tatapi aku akan menerimanya. Bagaimanapun caranya, aku akan mendapatkan anakku. Ra, maaf jika aku harus egois. Karena saat ini hanya anakku yang aku miliki."
.
.
.
.
BERSAMBUNG
Yuk, selagi nunggu aku up lagi Mampir dulu ke novel terbaru aku IMAM PENGGANTI
__ADS_1