
Semenjak pertemuannya dengan Alzam, pikiran Zahra semakin tidak tenang. Ucapan lima tahun lalu kini terngiang-ngiang di kepalanya. Dimana Zahra harus menyerahkan anaknya kepada Aira.
"Tidak! Aku tidak akan menyerahkan Deena kepada pria itu. Deena anakku."
Selama satu hari, dia dan Deena mengurung diri didalam kamar dan tak sedikitpun membiarkan Deena untuk keluar kamar.
"Mama aneh," celetuk Deena pada mamanya yang tak mengizinkannya untuk keluar kamar. Bahkan makan siangnya saja harus diantar ke kamar.
"Pokoknya Deena harus dengerin kata Mama! Deena gak boleh keluar!"
"Tapi kenapa, Ma? Deena hanya gak kemana-mana, hanya di rumah saja. Mama kenapa, sih?" gerutu Deena.
Bagi Deena tak masalah dia berada dalam kamar, toh diluar pun dia juga tidak memiliki teman. Saat ini hanya Calline satu-satunya teman yang dia miliki.
"Mama aneh. Kamu tahu dia kenapa?" tanya Deena pada Calline yang ada ditangannya.
"Oh ... mama jadi Mama ketemu orang aneh? Pantes aja Mama ikutan jadi aneh," celetuknya lagi
Zahra yang melihat dan mendengar Deena berbicara dengan bonekanya merasa merinding. Jangan-jangan memang benar jika boneka itu hidup, mengingat apa yang dikatakan Deena sebelum dirinya pergi tadi.
"Tadi kamu bilang apa, Dee? Mama aneh karena ketemu orang aneh? Apa maksudnya?" tanya Zahra dengan bulu kuduk yang sudah merinding.
"Bukan aku yang bilang, Ma. Tapi Calline."
"Iya. Tapi kenapa Calline bicara seperti itu? Apa dia tukang ramal?"
Zahra yang tidak bisa mengontrol emosinya langsung tersadar dan menyesali ucapannya. Dia langsung meminta maaf kepada Deena karena terbawa suasana hatinya.
__ADS_1
"Dee, maafin Mama. Mama gak bermaksud marah, tapi mengapa ucapan Calline bisa benar? Siapa dia sebenarnya, Dee? Hantu dari mana?"
"Dia bukan hantu, Ma. Dia temannya Deena!"
Zahra hanya bisa membuang napas beratnya. Meskipun selama ini Zahra tahu jika Deena bisa melihat makhluk tak kasat mata, tetapi baru kali ini Deena mau berkomunikasi langsung dengan makhluk tak kasat mata itu.
Semua ini bermula dari sebuah boneka pemberian dari ibunya Kanna. Entah boneka apa yang diberikan kepada Deena.
Suasana menjadi tegang manakala anak dan ibu tak saling berbicara. Deena merasa tidak terima jika Calline dikatakan hantu oleh mamanya.
Ketegangan itu segera terpecahkan oleh kepulangan Kanna yang merasa heran kerena Zahra mengurung diri didalam kamar.
"Ada apa ini?" tanya Kanna dari ambang pintu.
Deena yang melihat sosok papanya langsung berlari untuk menghambur dalam pelukannya.
"Mama jahat, Pa," adu bocah itu pada papanya.
"Memangnya kenapa jahat?" tanya Kanna yang sudah menggendong tubuh Deena.
"Mama aneh! Deena gak dibolehin keluar dari kamar dan mama juga nuduh Calline adalah hantu. Calline barunya Deena, Pa," beber Deena lagi.
Alis Kanna menaut dengan rasa penasarannya. Namun, dia mencoba untuk menutupinya.
"Benarkah seperti itu? Baiklah jika benar, papa ingin berbicara sebentar dengan Mama. Deena jangan kemana-mana ya," pesan Kanna sambil menurunkan Deena dari gendongan.
"Ayo Ra," lanjut Kanna yang memberi isyarat agar Zahra keluar dari kamar Deena.
__ADS_1
Zahra mengikuti langkah Kanna. Setelah sampai di dalam kamarnya, Kanna segera meminta Zahra untuk memberikan penjelasan apa yang sudah terjadi.
"Ra, apa yang sudah terjadi? Mengapa wajahmu memegang?"
Zahra mencoba untuk menatap Kanna, pria yang selama ini telah menjadi ayah terbaik untuk Deena. Yang menyayangi Deena dengan ketulusannya.
"Mas, sepertinya kita harus mencarikan teman untuk Deena sebelum terlambat, Mas! Kamu tahu gak, dalam satu harian ini Deena hanya mengobrol dengan bonekanya, Mas," adu Zahra yang masih menyelipkan rasa kesalnya.
"Anak seusia Deena memang wajar jika mengajak bonekanya berbicara, Ra."
"Tapi ini beda, Mas. Boneka yang Deena bukan sembarang boneka. Dia bisa berkomunikasi beneran sama Deena, Mas. Mas Kanna harus ingat jika Deena bisa melihat apa makhluk tak kasat mata. Aku takut jika itu adalah hantu yang bersemayam di rumah ini, Mas," ujar Zahra dengan rasa cemas dan takut.
"Kamu ini ngomong apa sih, Ra. Di rumah ini gak hantu! Mungkin itu hanya halusinasi Deena saja yang memang merasa kesepian karena tak memiliki teman," ujar Kanna.
"Tapi apa yang dikatakan bonekanya Deena nyata, Mas."
Akhirnya Zahra menceritakan pada Kanna apa yang telah terjadi pada dirinya yang tak sengaja bertemu dengan Alzam.
"Mungkin hanya sebuah kebetulan saja, Ra. Sudahlah, kamu tidak usah berpikir macam-macam tentang Deena. Mengenai pertemuan mu dengan Alzam itu wajar karena sekarang kamu tinggal di kota," ucap Kanna dengan lesu.
Zahra menatap Kanna dengan perasaan bersalah. Dia tahu keputusannya menerima pinangan Kanna adalah sebuah kesalahan, karena Zahra belum resmi bercerai dengan Alzam.
"Mas Kanna jangan berpikir macam-macam!" kata Zahra yang bisa menebak apa yang sedang Kanna pikirkan.
.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG.