
Zahra tidak tahu sejak kapan Deena bertemu dan mengenal Alzam. Bahkan sampai memiliki nomor teleponnya. Saat ini dia hanya memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. Tidak tahu bagaimana Deena sampai tahu jika Alzam adalah ayah kandungnya.
"Mama sakit?" tanya Deena saat memasuki kamarnya.
Zahra mencoba untuk menyungging, meskipun hatinya sedang meronta. "Iya Dee. Mama sedikit pusing," jawab Zahra.
Bocah kecil itu segera menghampiri mamanya dan membantu untuk memijat pelipisnya. "Mama itu mudah capek. Seharusnya Mama gak usah sekolah lagi," celetuk Deena.
"Tapi Mama ingin sekolah Dee. Mama ingin melanjutkan cita-cita yang sempat tertunda," kata Zahra.
"Memang cita-cita mama apa? Kalau cita-cita Deena mau jadi dokter biar bisa ngobatin kalau mama sama papa sakit," celoteh Deena.
Zahra terdiam saat dia ditanya mengenai cita-citanya. Sebelum cita-citanya dipatahkan oleh Alzam, Zahra pernah berkeinginan untuk memiliki ijazah yang bagus agar dia bisa bekerja di sebuah perusahaan. Mungkin cita-citanya dahulu terlalu naif. Dia hanya ingin membahagiakan ibunya dengan jerih payahnya. Namun, semua itu sirna sudah. bahkan sampai saat ini, Zahra tidak menemukan di mana keberadaan keluarganya.
"Cita-cita kamu mulia sekali, Dee. Mama sangat bangga kepadamu," ujar Zahra.
.
.
.
.
Malam ini Zahra tidak bisa memejamkan matanya. Kehadiran Alzam yang secara tiba-tiba membuatnya tidak tenang. Terlebih Alzam memang sedang menginginkan Deena. Sesak di dadanya membuatnya terus gelisah. Saat melihat ke samping, Kanna sudah terlelap dalam mimpinya. Zahra mende.sah pelan. Akhirnya dia memutuskan untuk ke kamar Deena.
Zahra membuka pintu kamar Deena dengan pelan. Dia takut jika kedatangannya hanya akan membangunkan Deena. Namun, Zahra terkejut saat melihat Deena belum tidur. Bahkan Zahra bisa melihat jika Deena sedang berbicara dengan boneka Calline. Padahal dua hari yang lalu Deena mengadu jika boneka Calline sudah mau berbicara lagi dengannya.
"Jadi aku harus bagaimana? Mama pasti akan marah jika mengetahuinya."
Zahra tidak tahu apa yang sedang dibahas oleh Deena dan juga bonekanya. Karena Zahra merasa penasaran, akhirnya dia memilih untuk langsung menghampiri Deena.
"Kamu lagi bahas apa, Dee?" tanya Zahra yang mengagetkan Deena.
"Mama," lirih Deena yang sangat terkejut dengan kedatangan mamanya. "Kok Mama ke sini?" tanya Deena gelagapan. Beruntung saja boneka Calline hanya bisa berkomunikasi dengannya saja. Mungkin jika Calline bisa berkomunikasi dengan mamanya, sang Mama akan memaksa Calline untuk berterus terang.
__ADS_1
"Kok malah ganti nanya? Mama itu lagi nanya kamu bahas apa sama Calline?" ulang Zahra.
"Deena gak bahasa apa-apa kok mah," kilah Deena.
"Bohong! Tadi Mama sempat dengar loh katanya kalau Mama sampai tahu Mama bakalan marah. Hayo apa itu?"
Deena terdiam untuk memikirkan alasan apa yang akan dia berikan kepada mamanya. Namun siapa yang menyangka Calline membantu untuk memberikan jawaban yang tepat. Dengan senyum yang mengembang di bibirnya Deena pun memberi penjelasan kepada mamanya.
"Deena itu hanya ingin membawa Calline ke playgroup. Tapi Deena takut jika mama marah karena Deena mau membawa Calline," jelas Deena.
Akhirnya Zahra menepis perasaannya. Dia pun tersenyum lalu mengelus pucuk rambut anaknya. "Mama gak marah kok, asalkan gak kamu boleh berbicara kepada Calline selama berada di playgroup. Anggap saja Calline itu boneka pada umumnya dan Jangan pernah memberitahu kepada siapapun jika boneka Calline bisa berbicara!" pesan Zahra.
Deena bernapas. Akhirnya alasannya bisa diterima oleh sang mama. Dia tidak tahu bagaimana jadinya jika sama mama mengetahui pembahasannya bersama dengan Calline.
"Ya sudah kamu istirahat ya. Besok adalah hari pertama kamu untuk masuk ke playgroup, jadi kamu nggak boleh ke sana. Katakan juga kepada Calline agar jika dia sampai mengajakmu berbicara selama di playgroup, Mama akan membawa jauh bahkan jika perlu Mama akan membakarnya!"
Deena hanya mengganggu. "Iya Ma." Deena pun menarik selimutnya untuk menutupi tubuhnya.
Setelah memastikan sang anak akan tidur, Zahra pun segera meninggalkan kamar Deena. Namun, sebelum pergi, Zahra mematikan lampu kamar agar Deena bisa tidur dengan nyenyak.
Setelah memastikan jika sang Mama sudah pergi, Deena menyibakkan selimutnya. "Hampir saja ketahuan," katanya pada boneka Calline.
"Call, kamu dengarkan apa kata mamaku tadi. Besok kamu nggak boleh mengajakku berbicara. Kalau sampai ketahuan sama mama bisa-bisa kamu dibakar."
Deena langsung mengambil bonekanya dan membawanya untuk tidur di sananya. "Jadi apa yang harus aku lakukan?" tanya Deena lagi.
.
.
.
Mentari pagi telah menyapa. Zahra terlihat sangat sibuk menyiapkan perlengkapan yang akan dibawa oleh Deena. Bahkan dia sampai mengabaikan Kanna yang sudah menunggunya di kamar.
"Astaghfirullahaladzim." Zahra hanya menggelengkan kepala saat melihat Kanna masih mengenakan handuk. Dia sama sekali belum memakai pakaiannya.
__ADS_1
"Kenapa belum dipakai bajunya Mas? kita bisa terlambat loh."
"Gak tahu baju mana yang akan aku pakai."
Zahra hanya mendengus pelan. Sambil memijat pelipisnya, Zahra mengambilkan pakaian untuk Kanna.
"Mas Kanna kan bisa ambil sendiri."
"Iya aku tahu. Tapi aku tidak mau nanti kena marah sama kamu," balas Kanna.
Zahra pun menyadari jika dirinya yang akan cerewet saat melihat tumpukan bajunya berantakan karena ulah Kanna saat mengambil baju.
"Ya udah sekarang pakai! Kasihan Deena sudah menunggu di depan."
Deena yang sudah rapi merasa sangat bahagia, karena hari ini dia akan memiliki banyak teman. Dan dia juga bisa melihat alam luar tanpa dilarang lagi oleh mamanya.
"Wah ... cantik sekali anak Papa," puji Kanna saat melihat Deena sudah siap untuk berangkat.
"Papa ngapain aja sih? Lama sekali!" gerutu Deena.
"Papa minta maaf ya. Semua ini karena mama kamu yang melupakan papa."
"Enak saja. Dasar papa kamu aja yang manja," timpal Zahra.
Ketiganya pun sudah bersiap untuk berangkat. Namun, saat hendak masuk ke dalam mobil Kanna melihat sebuah mobil yang masuk ke halaman rumahnya. Zara yang berada di belakang Kanna pun bertanya, "Mobil siapa itu, Mas?"
Kanna menyedikan bajunya. "Entahlah."
Tak lama sosok Alzam datang dengan senyum mengambangkan bibirnya. "Selamat pagi? Apakah aku belum terlambat?"
Zahra tidak tahu mengapa pagi-pagi Alzam sudah sampai di rumahnya.
"Ah iya, aku ke sini hanya untuk memberikan semangat untuk Deena. Aku juga sudah menyiapkan bekal untuknya," kata Alzam yang terlihat menenteng paper bag.
"Tidak perlu! Deena tidak membutuhkan bekal darimu! Mending sekarang kamu pergi, Mas!" usir Zahra.
__ADS_1
Deena yang mendengar ada keributan langsung turun dari mobil. Dia terkejut saat melihat sosok Alzam yang berdiri di belakang mobilnya.
"Om Al," teriak Deena yang langsung menghampiri Alzam.