Belenggu Pernikahan Semu

Belenggu Pernikahan Semu
135 | Kritis Lagi


__ADS_3

Satu hari menghabiskan waktu bersama Deena membuat Melani sedikit melupakan rasa sesak dalam dadanya. Kehadiran Deena mampu memberikan warna untuknya dan juga Alzam. Melani tahu ini adalah salah satu rencana Alzam untuk memberikan sebuah kenangan indah kepada Deena. Melani tidak bisa membayangkan jika kelak Alzam benar-benar akan pergi untuk selamanya. Melani yakin setiap penyakit yang diturunkan pasti akan ada penawarnya. Ia masih bersikeras membujuk Alzam untuk melakukan pengobatan di luar negeri lagi agar bisa sembuh. Namun, nyatanya Alzam menolak dan hanya pasrah dengan keadaan.


Malam ini Deena tidur akan diantara mama tirinya dan juga ayahnya. Ibarat kata ia menjadi guling pembatas untuk orang tuanya. Padahal di rumah papa Kanna ia sudah terbiasa untuk tidur sendirian.


Seperti biasa sebelum tidur Melanie pasti akan membacakan sebuah dongeng untuk Deena. Hal itulah yang selalu dirindukan oleh Deena.


"Ma, papa Alzam kemana, kok belum masuk kamar juga?" tanya Deena yang sedang menantikan kehadiran Alzam untuk tidur di sampingnya.


Melani yang menyadari ternyata suaminya belum ada di atas tempat tidur pun merasa heran, karena setelah menonton tadi Alzam berpamit untuk ke kamar duluan, tetapi karena Melani terfokus kepada Deena ia sampai tidak menyadari keberadaan suaminya di kamar.


"Apakah mungkin ada di ruang kerjanya, ya?" gumam Melani. Mendadak perasaan Melani tidak enak, ia pun turun dari tempat tidur untuk mencari dimana Alzam berada. Begitu juga dengan Deena yang mengikuti langkah Melani untuk keluar.


Tempat pertama yang dituju adalah ruang kerja, karena ruang itu adalah tempat di mana Alzam akan menghabiskan waktunya. Saat pintu dibuka Melani terbelalak dengan dada yang berdesir sangat kuat. Ia melihat tubuh Alzam telah tergeletak di lantai. Dengan cepat ia berlari untuk mengecek keadaan suaminya.


"Mas ... Mas Alzam." Melani menepuk-nepuk pipi Alzam, berharap suaminya bangun, tetapi percuma karena saat ini Alzam sedang pingsan. Terlihat juga bekas darah yang mengalir dari hidungnya.


Deena yang melihat papanya tidak sadarkan diri juga berusaha untuk membangunkannya.


"Papa ... papa kenapa? Bangun, Pa!" Jangan ditanya lagi bagaimana Dee menangisi papanya yang tak kunjung bangun.


Melani berusaha untuk meredam kekhawatirannya. Ia segera menelepon ambulans untuk membawa suaminya ke rumah sakit, karena Melani tidak bisa membawa mobil.


"Pa ... Pa ...."


Deena terus menangisi papanya, bahkan bocah itu juga melihat jika ada bekas darah yang mengalir dari hidung papanya. Dengan pelan tangan Deena mengusapnya.


"Papa berdarah?" pikir bocah itu.


"Papa kenapa, Ma?" tanya Deena setelah Melani selesai menelepon.


Papa sakit, Sayang. Kita harus membawanya ke rumah sakit, tetapi kita harus menunggu mobil ambulans. Kamu nggak usah khawatir Papa nggak apa-apa," kata Melani untuk menenangkan hati Deena.


.


.


.

__ADS_1


Ditengah malam seharusnya menjadi waktu istirahat untuk melepaskan rasa lelah setelah seharian berkutat dengan pekerjaannya, tetapi Kanna dan Zahra harus segera bergegas menuju ke rumah sakit. Mereka mendapat kabar dari Deena jika papa Alzam-nya saat ini masuk rumah sakit. Tanpa pikir panjang kedua orang itu segera meluncur ke sana.


Sesampainya di rumah sakit, Kanna dan Zahra langsung segera menuju kamar di mana Alzam di rawat. Zahra langsung mendekat kearah Melani dan putrinya yang sedang berada di samping Alzam.


"Mama," kata Deena saat menyadari kedatangan mamanya.


"Mbak Ara." Kini giliran berucap. Ia tak sanggup lagi yang segera memeluk Ara. Ia menumpahkan semua air mata yang sejak tadi ia bendung didalam pelukan kakaknya. Zahra hanya bisa mengelus punggung sang adik dan membiarkan ia menangis dalam pelukannya, agar perasaannya menjadi lebih tenang. Sementara itu Kanna segera mengangkat tubuh Deena untuk ia gendong.


"Apa yang terjadi kepada Alzam, Sayang?" tanya Kanna pada Deena.


Bocah itu menggelengkan kepala, karena ia tidak tahu apa yang terjadi kepada papa Alzam-nya, tetapi Deena mengatakan jika Papa Alzam sempat mengeluarkan darah dari hidungnya.


Mendengar penuturan dari putrinya, Zahra dan Kanna saling bersitatap. Mereka dalam satu pemikiran yang sama untuk menebak apa yang telah terjadi kepada Alzam.


"Jadi dia belum sembuh total," gumam Kanna yang mengamati bagaimana wajah Alzam yang kian pucat.


"Iya, Mas. Bahkan keadaannya semakin memburuk. Kemungkinan besar mas Alzam tidak bisa bertahan lama. Aku harus bagaimana, Mas ... Mbak." Melani terus menangis.


Zahra hanya bisa membuang napas kasarnya. Ia tidak tahu jika penyakit yang diderita oleh Alzam belum sepenuhnya sembuh.


"Nenek Rose?" Melani dan juga Kanna sama-sama menyebut nama itu.


"Nenek Rose adalah nenek kandung mas Alzam yang tinggal di Paris. Saat itu aku pernah dibawanya kesana. Rumah itu berada di pinggiran kota, aku pikir itu adalah rumah tak berpenghuni. Namun, nyatanya di dalam ada beberapa orang yang menempatinya termasuk nenek Rose. Aku yakin jika saat itu nenek Rose adalah orang yang membawa pergi Mas Alzam keluar dari rumah sakit. Kamu ingatkan Mas, saat Mas Alzam koma?" Zahra mencoba untuk mengingatkan Kanna akan kejadian saat itu.


"Iya, aku ingat." Kanna menimpali.


"Mas, tolong hubungi teman kamu yang ada di Paris untuk menemukan keberadaan nenek Rose. Kasihan mas Alzam. Tolong Mas, demi adik aku," pinta Zahra dengan mengiba.


Kanna pun hanya bisa menganggukkan kepalanya untuk mengiyakan permintaan istrinya. Bagaimana ia bisa menolak, jika yang sedang terbaring tak berdaya itu adalah ayah kandung dari anak sambungnya. Kanna bukanlah orang jahat yang akan mengeluarkan orang lain dalam kesusahan, itulah sifat Kanna dari kecil.


"Baiklah, aku akan mencoba menghubungi mereka untuk menemukan nenek Rose. Apakah kamu mengingat tempat tinggal nenek Rose?"


Zahra menggelengkan kepala karena ia tidak tahu. Setahu dirinya saat itu tempat tinggal nenek rose berada di pinggiran kota, tepatnya di mana Zahra tidak tahu.


"Mbak, apakah mas Alzam benar-benar akan meninggal?" tanya Melani.


"Huuss, kamu nggak boleh ngomong seperti itu, Mel! Hidup dan mati itu ada di tangan Sang Pencipta. Berdoalah dan meminta untuk kesembuhan Mas Alzam," tegur Zahra.

__ADS_1


πŸ₯•πŸ₯•πŸ₯•


Disaat Melani sedang berusaha kuat untuk menghadapi ujian yang sedang menimpa suaminya, tiba-tiba Naura datang. Namun, kedatangan Naura bukan untuk menjenguk adik iparnya, melainkan untuk mengadu kepada Melani jika saat ini dirinya tengah hamil, dan pria yang sudah menghamili dirinya tidak mau untuk bertanggung jawab.


Bagaikan dihantam bom atum, tubuh Melani mendadak lemas tak berdaya dengan pengakuan kakaknya. Bagaimana bisa kakak yang ia banggakan bisa melakukan perbuatan yang terlarang. Bahkan ia tidak bisa menjaga kehormatan serta harga diri sebagai seorang wanita.


"Mel, aku harus bagaimana?" Naura terus terisak di hadapan Melani.


Bagaimana Melani bisa memberikan nasihat kepada kakaknya sendiri di saat dirinya sedang mencoba untuk kuat.


"Mbak Na, mengapa bisa Mbak Na melakukan hubungan terlarang itu? Mbak Na melakukan dengan siapa, Mbak?"


Sambil terisak di hadapan Melani, Naura menceritakan apa yang terjadi kepada dirinya. Semua ini terjadi begitu saja tanpa keinginannya maupun keinginan pria yang sudah menodainya, karena malam itu keduanya sama-sama dalam pengaruh alkohol.


"Astaga ... Mbak Na." Melani mende.sah pelan sambil memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. "Siapa pria itu?"


Bibir Naura keluh untuk menyebutkan nama pria yang telah menyukai dirinya, karena pria itu tidak mencintai dirinya dan menginginkan agar Naura menguburkan bayi yang sedang tumbuh di rahim Naura.


"Mbak Na, jawab aku!"


"Diaβ€”" Naura menjeda ucapannya dengan perasaan gelisah.


"Siapa?!" Kini Melani mengeluarkan nada tingginya.


.


.


.


...πŸ₯•πŸ₯•πŸ₯•...


...BERSAMBUNG...


Halo-halo, seperti biasa aku mau merekomendasikan sebuah novel untuk kalian baca selagi menunggu novel ini update kembali. Jangan lupa mampir ya ke novel teman aku yang judulnya Young Mommy


__ADS_1


__ADS_2