Belenggu Pernikahan Semu

Belenggu Pernikahan Semu
87 | Kritis


__ADS_3

Tak peduli darah siapa yang mengalir pada tubuh Deena. Meskipun tak ada hubungan darah, cinta dan kasih sayang Kanna cukup besar untuk Deena.


"Bu, titip Ara. Jika Kanna tidak pulang, tolong tetap dampingi Zahra dalam suka dan dukanya. Jangan tinggalkan dia sendiri untuk bersedih," ujar Kanna saat dia ingin berangkat untuk mencari keberadaan Deena.


"Kamu ini ngomong apa sih? Kayak mau pergi sama aja," kata ibunya.


Kanna hanya tersenyum tipis lalu menggenggam tangan sang ibu. "Maafkan Kanna jika selama ini belum bisa membahagiakan ibu. Setelah ini Kanna berjanji akan membahagiakan ibu. Hanya tinggal menunggu beberapa bulan lagi keinginan ibu untuk memiliki seorang cucu akan terkabulkan. Ibu akan dipanggil nenek oleh cucu ibu." Tiba-tiba saja Kanna memeluk erat tubuh ibunya. "Kanna sayang Ibu."


Setelah puas berpamitan dengan ibunya, kini giliran Kanna sang istri. Kanna menatap dalam mata Zahra yang juga sedang menatapnya. Senyum tipis terukir dibibir Kanna. "Ra, selama aku tidak pulang, jaga anak kita baik-baik ya. Maaf jika aku belum bisa menjadi suami yang sempurna," kata Kanna yang kemudian mengelus pelan perut Zahra. "Papa sayang kamu, Sayang."


Zahra hanya mengernyit ketika ucapan Kanna sedikit ngelantur. "Kamu ini ngomong apa sih, Mas? Kamu itu 'kan cuma mau cari Deena, masa gak pulang sih? Aneh!" gerutu Zahra.


Hanya senyum kecil yang terukir di bibir Kanna. Dia segera menarik tubuh Zahra agar bisa masuk kedalam pelukannya. Dengan erat Kanna memeluk tubuh sang istri.


Dada Zahra kian berdebar. Ada rasa berat saat melepaskan kepergian Kanna untuk mencari Deena. Ingin mengatakan 'jangan pergi' tetapi lidahnya kelu. Zahra pun erat pelukan Kanna.


"Cintaku untukmu tak bisa ku ungkapkan dengan kata-kata. Mungkin aku bukan pria romantis yang penuh kejutan. Namun, satu hal yang perlu kamu tahu, aku sangat mencintaimu. Apapun akan aku lakukan untuk kebahagiaanmu dan juga anak-anak kita. Berdoalah semoga Deena segera ditemukan," kata Kanna sambil melepaskan pelukannya.


Tanpa disadari, air mata Zahra menetes begitu saja. Hatinya sangat berat untuk melepaskan Kanna.


Tangan Kanna dengan lembut menyeka air mata yang membasahi pipi Zahra. "Jagan menangis. Semua akan baik-baik saja."


"Mas—"


Kanna tak ingin membuang waktunya lagi. Dia harus segera pergi untuk mencari keberadaan Deena. Namun, saat baru saja Kanna ingin membuktikan badan, ponselnya berbunyi. Tertera dari salah seorang yang diutus untuk mencari keberadaan Deena.


"Ada apa?" tanya Kanna pelan.


Mata Kanna membulat lebar. Sesekali dia melirik kearah Zahra. "Baiklah, aku kesana," ujarnya.


Zahra dan ibunya ingin tahu apa yang telah terjadi. Mereka sudah sangat takut hal buruk terjadi pada Deena.


"Ada apa, Mas?" yang Zahra penasaran.


"Apakah itu kabar Deena?" timpal ibu ibunya.

__ADS_1


Kanna menatap sang ibu dan juga Zahra secara bergantian. Dengan berat dia berkata, "Mas Dayat kecelakaan."


"Apa?" Tubuh ibu Kanna langsung terhuyung. Beruntung saja Zahra segera menangkapnya.


Napas Kanna sudah naik turun, terlebih jika Deena juga ada di mobil Dayat.


"Mas Kanna, ibu!"


Dua pilihan yang sangat berat. Antara ingin berada disamping ibunya yang sedang sesak, atau pergi untuk mencari Deena.


"Ra, ambilkan obat ibu!" titah Kanna.


Kanna memilih untuk mengurus ibunya terlebih dahulu sebelum dia pergi. "Ibu tenanglah. Aku akan melihat keadaan mas Dayat." Terasa berat, tetapi Kanna harus pergi.


"Ra, titip ibu ya." Satu mecu.pan mendarat di kening Zahra. Tak lupa dia juga menge.cup perut Zahra, dimana ada calon buah hatinya yang menghuni perutnya. "Sayang, papa pergi dulu, ya. Kelak jadilah anak yang berbakti kepada orang tua dan berguna bagi bangsa."


Kepergian Kanna kali ini terasa sangat berat. Namun, tak ada pilihan lain. Kanna harus menemukan Deena.


"Mas, hati-hati," pesan Zahra.


Kanna mengangguk pelan dengan senyum yang terukir indah. Lambaian tangan mengiring kepergian Kanna.


Dada Kanna naik turun. Bahkan darahnya seakan mendidih di kepalanya. Tanpa pikir panjang lagi, Kanna segera menancapkan gas menuju ke rumah sakit.


Dalam perjalanan Kanna mencoba untuk memberitahu Zahra jika saat ini Deena telah ditemukan. Namun, naasnya ponselnya Kanna terjatuh. Dengan mende.sah pelan Kanna mencoba untuk mengambilnya.


Tiiiiinnn ....


Suara klakson begitu nyaring membuat Kanna tak siap untuk menghindar.


BRAAAKKKK


🍂🍂🍂🍂


Air mata Zahra seakan mengering saat melihat dua orang yang dia sayangi tergeletak di ranjang rumah sakit. Di waktu yang bersamaan keduanya mengalami kecelakaan dan kini sama-sama sedang kritis.

__ADS_1


Alzam merasa tak tega saat melihat kesedihan yang sedang dirasakan oleh Zahra. Biar bagaimanapun dia adalah ibu dari anaknya. Ingin menghibur, tetapi tak memiliki nyali.


Tangannya terulur untuk memegang pundak Zahra, tetapi diurungkan kembali. "Tidak! Tidak boleh!


"Dee, bangun Dee! Ini Mama, Sayang." Suara Zahra terdengar serak akibatnya menangis terlalu lama.


"Bangun, Sayang," lirihnya lagi.


Diseberang ranjang Deena, Kanna juga terbaring tak berdaya dengan berbagai alat medis yang menempel ditubuhnya. Zahra kembali menangis setelah melihat keadaan Kanna. Keduanya di rawat dalam satu ruangan atas perintah Alzam. Meskipun sudah lama menghilang, tetapi pengaruh Alzam masih sangat besar.


"Ra, kamu harus kuat! Serahkan semuanya pada sang Pencipta. Berdoalah pada-Nya untuk kesembuhan mereka." Kini tangan Alzam diberanikan untuk menyentuh pundak Zahra.


Zahra yang rapuh semakin terisak. Alzam semakin merasa tak tega saat melihat seorang wanita menangis didepannya. Dengan penuh keberanian dia mencoba untuk lebih mendekat lagi.


"Ra, sebaiknya kamu beristirahat. Biar aku yang menunggu mereka. Kasihan bayi yang ada didalam perutmu," ujar Alzam.


Zahra menggeleng pelan. Bagaimana dia bisa beristirahat saat kedua orang yang dia cintai tergeletak dalam keadaan kritis.


"Gak, Mas! Aku masih ingin tetap disini untuk menunggu mereka, Mas."


"Tapi kamu juga harus ingat dengan keadaanmu, Ra. Kasihan bayi yang ada di perutmu."


Zahra menatap mata Alzam. Pria yang sama sekali tak pernah peduli kepada dirinya, tiba-tiba menunjukkan rasa iba kepada dirinya. Saat ini Zahra hanya butuh sandaran untuk menguatkan dirinya.


Dengan pelan, Alzam membantu Zahra untuk berdiri. "Aku tahu, aku bukan pria yang baik. Tapi aku tidak suka jika melihat seorang wanita menangis di depanku. Hapuslah air matamu!" kata Alzam.


"Aku tidak memintamu untuk mengasihaniku, Mas. Jika kamu keberatan, pergilah!"


"Ra, luapkan masalah kita dimasa lalu. Aku minta maaf atas apa yang telah ku perbuat kepadamu selama ini. Aku sadar, jika untuk bahagia tak harus memilikinya. Saat ini aku benar-benar tulus untuk membantumu."


.


.


.

__ADS_1


Lupakan masa lalu, lupakan ego dan bangkitlah dengan jati diri yang baru. Bahagia memang tak harus memiliki.


...Alzam...


__ADS_2