Belenggu Pernikahan Semu

Belenggu Pernikahan Semu
42 | Rencana Alzam


__ADS_3

Semenjak pertemuannya dengan Zahra, pendirian Alzam goyah. Terlebih Zahra telah mendaftarkan gugatan perceraian mereka. Itu artinya Alzam harus mengigit jari ketika benih yang telah dia semai telah tumbuh dan tak bisa dimilikinya. Lima tahun tanpa pendamping hidup membuatnya sangat kesepian. Setiap malamnya Alzam berdoa agar Zahra bisa kembali pulang untuk merangkai sayap yang patah. Namun, nyatanya saat doa itu terkabul, Zahra malah menggugat dirinya.


"Aku harus mencari tahu dimana Zahra tinggal dan dengan siapa dia menikah," ucap Alzam yang semakin merasa resah.


Diusianya yang sudah tidak muda lagi seharusnya Alzam sudah bisa merasakan buah dari pernikahannya. Namun, karena kebodohannya, dia menghancurkan impiannya.


"Aku tidak akan rela jika milikku sampai dimiliki oleh orang lain, terlebih itu adalah jerih payahku. Susah payah aku menanam bibit agar bisa menjadi penerusku, tetapi malah orang lain yang menikmati usahaku. Aku tidak rela!"


Percuma saja jika Alzam memiliki semuanya, tetapi dia tidak memiliki satu orang keluarga yang tersisa. Saat ini hanya anaknya-lah satu-satunya keluarga yang dimilikinya.


"Jika dengan cara baik-baik kamu menolak untuk memberikan anakku, jangan salahkan aku jika aku akan menggunakan cara yang efektif," kata Alzam sambil melihat kembali foto pernikahannya dengan Zahra. Foto yang menjadi wallpaper di ponselnya, siang dan malam tak hentinya Alzam mengelus wajah Zahra.


"Aku tidak menyangka jika kamu sekarang berubah menjadi seperti bidadari. Kamu sangat cantik, Ra," kata Alzam lagi.


"Jika aku bisa memutar waktu, aku tidak akan membiarkanmu sedikitpun untuk terluka. Jika aku bisa memilih, biarlah aku kehilangan semua yang aku miliki, asal tidak kehilanganmu, Ra."


Sepanjang hari tak ada aktivitas yang dilakukan Alzam selain memandangi wallpaper di ponselnya. Pertemuannya dengan Zahra mampu memecahkan konsentrasinya. Kini pikiran Alzam hanya ada Zahra dengan potongan masa lalunya dimana hanya ada air mata yang selalu mengiringi hari-harinya.


🍂🍂🍂

__ADS_1


Jika daun saja bisa berguguran, lalu bagaimana dengan hati yang telah lama tak pernah disiram? Sudah jelas akan layu bahkan juga bisa mati. Begitu juga dengan perasaan Zahra saat ini yang sudah mati terhadap Alzam.


Selama ini Zahra sudah berusaha untuk menghidupkan hatinya yang telah mati. Bersama dengan Deena dia bangkit dan bisa bertahan sampai detik ini karena sport dan dukung dari Kanna.


"Ya Allah, aku harus bagaimana?" Zahra terlihat gelisah, meskipun saat ini dia sudah berada di dalam rumah.


Pikirannya hanya satu, dia tidak ingin Alzam sampai mengambil Deena darinya. Jika sampai itu terjadi, Zahra harus berbuat apa? Alzam juga berhak atas pengakuan ayah untuk Deena.


"Mama kenapa?" tanya Deena saat melihat mamanya hanya mondar-mandir tak menentu.


"Kamu kenapa?" timpal ibu Kanna.


"Ada apa?" ulang ibu Kanna.


"Dia sudah datang dan meminta sebuah pengakuan, Bu. Aku takut jika dia benar-benar akan membawa Deena pergi, Bu," panik Zahra.


"Maksud kamu Alzam?" tebak ibu Kanna.


Zahra mengangguk pelan. "Iya Bu."

__ADS_1


Akhirnya Zahra menceritakan bagaimana dia bisa bertemu dengan Alzam. Sebuah penyesalan yang akan selalu membekas dalam ingatan yaitu ketika salah masuk mobil dan bertemu dengan mantan.


"Kamu tenang saja, ibu akan siapkan pengacara agar bisa memenangkan hak asuh Deena sepenuhnya ke kamu," kata ibu Kanna dengan serius.


"Makasih, Bu," ucap Zahra.


Deena hanya bisa memperhatikan Uti dan Mamanya yang sedang berbicara serius. Meskipun masih berusia 4 tahun, Deena sudah memiliki rasa ingin tahu yang mendalam.


"Call, apakah kamu tahu mereka sedang membahas apa? Mengapa mamaku terlihat sangat tegang dan seperti sedang ketakutan seperti itu?" tanya Deena pada boneka yang ada ditangannya.


"Kenapa kamu tidak tahu?" tanya Deena lagi.


Disaat yang bersamaan, ibu Kanna juga melihat jika Deena yang sedang berbicara kepada bonekanya. Namun, sayang itu bukan boneka pemberiannya.


"Dee, Uti boleh tanya gak?" tanya ibu Kanna.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2