
Entah dapat angin segar dari mana, tiba-tiba Alzam menghubungi Melani untuk menyiapkan makan malam, karena malam ini dia akan pulang lebih awal. Sebagai seorang istri dia akan menjamu suaminya dengan jamuan istimewa, jika bisa Melani akan bumbu cinta untuk menghipnotis Alzam.
Melani merasa heran dengan sikap Alzam yang tiba-tiba berubah menjadi pengertian kepada dirinya. Bahkan semua bahan sayuran yang hendak dimasak telah dikirimkan ke rumah. Melani hanya tinggal mengolahnya saja. Mungkin saat ini Alzam sudah ketagihan dengan masakannya yang baru saja dia cicipi tadi pagi.
Dengan penuh semangat Melani telah berhasil sayuran mentah menjadi sebuah menu istimewa bak masakan restoran bintang lima. Bahkan Melani juga sudah menaburkan bumbu cinta pada setiap sayuran yang dimasak. Kini tinggal menunggu Alzam pulang saja untuk menyantap makan malam bersama. Sungguh Melani sudah tak sabar lagi menantikan momen spesial dalam hidupnya.
Tak lupa Melani memoles tipis wajahnya menggunakan bedak yang bisa menempel di pipinya, tetapi untuk malam ini dia hanya memoles tipis.
"Pakai lipstik warna apa, ya?" Melani memilih lipstik yang ingin dia gunakan. "Pakai nude aja ya biar gak kelihatan menor," ujarnya.
Setelah selesai menghias wajah, akhirnya Melani turun untuk menunggu Alzam di ruang tamu. Rasa sudah tak sanggup untuk menyambut kedatangan Alzam, pria yang saat ini menjadi suaminya.
Cukup lama Melani menunggu Alzam yang tak kunjung pulang. Padahal dia mengatakan akan pulang cepat, tetapi nyatanya hingga pukul tujuh malam Alzam belum juga pulang. Melani mendadak murung dan berpikir jika Alzam telah membohongi dirinya.
"Apakah aku terlalu berharap hingga berlebihan?" Hanya helaan napas panjang yang keluar dari mulut Melani. Sepertinya apa yang dia bayangkan hanya zonk. Dia pun memilih untuk menyalakan televisi untuk menghilangkan rasa kecewanya. Namun, gak lama kemudian Melani mendengar suara mobil masuk kedalam garasi. Bibirnya terangkat lebar saat derap langkah mulai terdengar. Melani pun segera berlari untuk membukakan pintu untuk Alzam.
Saat pintu dibuka, pertama kali yang dia lihat adalah sosok bocah yang ada didalam gendongan Alzam.
"Deena," gumam Melani.
"Aunty cantik sekali," celoteh Deena saat dia melihat tantenya yang sekarang berstatuskan ibu tiri.
Begitu juga mata Alzam yang hampir tak berkedip saat melihat Melani yang bersinar malam ini.
"Ayo masuk, Sayang. Kamu udah makan belum? Aunty udah masak banyak, lho."
Deena yang awalnya berada dalam gendongan Alzam kini turun dan menggandeng tangan Melani untuk masuk kedalam.
__ADS_1
"Deena tunggu bersama Aunty Mela, Papa jangan lama-lama mandinya!" celoteh Deena lagi pada ayahnya. Alzam hanya mengiyakan saja. Toh buat apa mandi lama-lama, yang ada hanya akan masuk angin.
Di ruang tengah, Deena bersama Melani bersabar untuk menunggu kedatangan Alzam. Namun, suasana masih terlihat hambar karena Melani yang merasa canggung dan Deena yang tak banyak berbicara membuat Melani hanya bertanya sekedarnya saja. Padahal sebelumnya Deena sudah diberi pencerahan oleh Zahra jika dia harus bisa menerima tantenya sebagai ibu sambung untuknya.
"Deena bagaimana kabar mama dan papa di rumah?"
"Mereka bahagia, Aunty."
Melani mengangguk pelan sambil menyunggingkan senyum dibibirnyanya. Tentu saja bahagia karena Kanna terlihat sangat mencintai Zahra.
"Syukurlah," ucap Melani.
Tak berapa lama Alzam keluar dari kamarnya dan segera memanggil Deena untuk makan. Melani hanya terdiam ketika perhatian Alzam hanya ditujukan kepada Deena seorang, padahal ada dirinya yang sudah menantikan sejak tadi.
"Aunty, ayo sini!" panggil Deena saat menyadari Melani masih duduk di sofa.
Layaknya seorang istri dan ibu, Melani meladeni kedua orang yang ada di depannya saat ini. Setelah mengambilkan nasi untuk Alzam, tangannya beralih untuk mengambilkan nasi Deena.
"Makan yang banyak ya, Dee," kata Melani sambil menyerahkan diri untuk di Deena.
"Iya Aunty," balas Deena ramah.
Baru satu kali suapan Deena menghentikan kunyahannya membuat Melani ikut terdiam. gadis itu takut jika masakannya tidak enak dan membuat Deena tak ingin melanjutkan makan malamnya.
"Kenapa, Dee?" tanya Alzam.
"Ini Aunty yang memasaknya?" tanya Deena heran.
__ADS_1
"Iya, Sayang. Ada apa? Gak enak ya? Ya udah Aunty masakan yang baru ya?" gugup Melani. Namun, sebuah gelengan mengisyaratkan jika tidak ada yang salah dengan masakan Melani.
"Tidak Aunty. Masakan anti sangat enak rasanya seperti masakan mama. Kalau Aunty bisa masak seperti masakan mama, Deena bakalan betah tinggal di sini karena mama tidak akan khawatir dengan bagaimana Deena makan," ujar Deena dengan kepalanya. Seketika Melani mengelus dadanya, dia merasa lega tidak ada yang salah dengan masakannya.
Akhirnya Deena melanjutkan lagi untuk menyantap makanannya yang sudah ada di piring. Begitu juga Alzam yang menyentak habis makanan yang telah disediakan oleh Melani.
"Mel, untuk beberapa hari kedepan Deena akan menginap di sini. Aku harap kamu tahu apa yang harus kamu lakukan sebagai seorang ibu untuknya," ujar Alzam.
Melani sedikit terbelalak dengan pengakuan dari mulut Alzam yang mengatakan tugas seorang ibu. Apakah saat ini Alzam sudah menganggapnya sebagai ibu sambung untuk Deena? Bibir Melani tak hentinya menyunggingkan senyum di bibir.
'Sepertinya kelemahan pak Alzam ada pada Deena. Jika aku bisa mengambil Deena secara otomatis aku juga sudah mengambil hati pak Alzam. Saat ini tugas kamu adalah membuat Deena merasa nyaman denganmu, niscaya pak Alzam juga akan merasa nyaman denganmu,' batin Melani yang tak hentinya mengangkat kedua garis bibirnya.
"Mel, kamu dengar gak sih?" tanya Alzam saat melihat Melani yang melamun.
"Ah, iya dengar kok, Pak. Tenang aja aku pasti akan menjadi seorang ibu sambung yang baik untuk Deena. Pak Alzam gak usah khawatir, Melani bisa mengatasinya," ujar Melani dengan tingkat kepercayaan yang tinggi.
"Bagus. Karena malam ini ada Deena kamu tidur saja di kamarku untuk menemaninya. Aku ada sedikit pekerjaan yang harus diselesaikan malam ini," ujar Alzam.
Sepertinya aku harus sering-sering menyuruh Deena untuk menginap di sini agar aku bisa tidur di kamar pak Alzam, batin Melani sambil menawarkan pikiran konyolnya.
Setelah membereskan meja makan, Melani langsung menyusul Deena yang sudah berada di kamar Alzam. Namun, saat matanya mencari keberadaan pria itu, Melani merasa heran karena tak menemukan sosok Alzam di dalam kamarnya.
"Dee, papa kamu dimana?" tanya Melani pelan.
"Papa bilang dia mau menyelesaikan pekerjaannya. Papa juga bilang kalau Aunty nggak usah nungguin papa."
"Siapa juga yang mau nungguin dia. Mending kita bobok aja kan? Tapi, sebelum bobok Aunty bacakan dongeng ya?"
__ADS_1
Deena mengangguk pelan. Dibacakan dongeng memang kegiatan rutin untuknya, jadi dia tak menolak sedikitpun