
"Mel, kamu kenapa?" tanya Naura panik saat Melani terus mengigau menyebut nama Alzam. Saat disentuh keningnya, ternyata Melani demam. Melani yang panik segera mencari alat untuk mengompres sang adik.
"Duh, gak ada obat penurun panas lagi," gerutu Naura. Saat melihat jarum jam ternyata baru pukul tiga malam. Tidak mungkin Naura menghubungi Arya hanya memberitahu jika melanin sedang demam. Seperti itu sudah wajar, karena Naura sering menghadapi melanin yang seperti ini. Namun, untuk kali ini Naura benar-benar sangat takut dan panik.
"Kamu kenapa sih, Mel? Jangan pakai acara sakit-sakitan, dong!" dengan telaten Naura menampilkan kain handuk di kening Melani, berharap dengan cara seperti itu demam Melani akan berkurang.
"Apakah segitunya kamu merindukan pria dingin itu. Sudah jelas-jelas dia tidak mencintaimu tetapi kamu terus saja berharap padanya. Mel ... Mel malang sekali hidup kita. Mencintai pria yang tidak mencintai kita," lirih Naura yang masih menjaga Melani.
Karena masih pukul tiga, Naura memilih untuk kembali tidur, tetapi perasaan tidak tenang ketika Melani tak hentinya menyebut nama Alzam.
"Kayaknya gak ada cara lain. Aku harus segera menghubungi Alzam." Dengan tekad bulat Naura mengambil ponsel milik Melani lalu menghubungi pria dingin itu. Ia tidak peduli pukul berapa saat ini di sana.
Namun, ternyata panggilan ke nomor Alzam di luar jangkauan. Berulang kali Naura mencoba untuk menghubunginya, berharap itu hanya gangguan sinyal. Namun, nyatanya nomor Alzam benar-benar tidak bisa di hubungi.
"Apa sih maunya orang ini. Kalau gak cinta mending langsung cerai saja, daripada menyelipkan luka di hati orang lain. Dasar pria gak punya hati!" rutuk Naura.
...
Pagi ini, demam Melani sudah mulai menurun. Karena Naura sangat mengkhawatirkan adiknya, ia ingin meminta izin kepada Arya untuk libur, tetapi Melani melarangnya. Dia mengatakan bahwa dia tidak apa-apa. Mungkin karena kurang beristirahat sehingga kelelahan dan akhirnya demam.
"Ya udah aku berangkat dulu ya, Mel. Kalau ada apa-apa langsung telepon, oke?!" pesan Naura sebelum berangkat kerja.
"Siap Mbak. Nanti siang juga udah sembuh total, kok. Mbak Na gak usah khawatir," kata Melani dengan senyum dibibirnyanya.
Setelah kepergian Naura Melani merasa perutnya sangat melilit. Ia tidak tahu mengapa perutnya terasa sakit, bahkan belum pernah terjadi sebelumnya. Untuk mengurangi rasa sakitnya ia hanya meringkuk sambil mere.mas perutnya yang kian terasa sakit.
"Ini perut kenapa ya?"
Sejenak Melani berpikir, apakah karena ia selalu makan telat hingga akhirnya mag-nya kambuh? Rasanya ingin menjerit saat sakitnya hingga ke ulu hati. Mata berkaca-kaca untuk menahan rasa sakit yang terus menyerangnya.
Satu jam Melani dalam keadaan seperti itu. Ia meringis diatas tempat tidur tanpa satu orang pun yang tahu. Keringat dingin bercucuran, hingga akhirnya ia benar-benar sudah tak sanggup lagi. Penglihatannya mulai kabur. Namun, samar-samar ia melihat bayangan Alzam mendekatinya. Mungkin karena ia sangat berharap ingin bertemu dengan Alzam hingga sebelum pingsan pun ia masih bisa melihat bayangan Alzam.
"Mas Alzam."
__ADS_1
🥕🥕🥕
Entah sudah berapa lama Melani tak sadarkan diri. Saat ia mengerjap, perlahan ia mengedarkan pandangannya. Dalam hati ia membatin mengapa tempatnya berbeda. Samar-samar ia juga mendengar suara beberapa orang berbincang. Saat ia ingin bangkit sebuah tangan mencegahnya.
"Jangan banyak bergerak!"
Dengan pelan Melani menoleh kesamping. Saat dilihatnya ternyata om Arya. Sebelumnya Melani sudah berharap jika pria yang disampingnya saat ini adalah Alzam.
"Kamu udah sadar, Mel. Alhamdulillah," seru Zahra yang langsung mendekati Melani. Pandangannya terus mengedar untuk mencari sosok yang ia cari, tetapi hasilnya nihil. Alzam tidak ada. Melani mende.sah pelan. Mungkin ia hanya berhalusinasi saja jika tadi ia sempat melihat Alzam. Bahkan seperti nyata saat Alzam mengangkat tubuh dari tempat tidur.
"Mel, ada apa?" tanya Naura yang heran saat melihat Melani seperti orang linglung.
"Mel!" Kini Zahra mencoba untuk menggoyangkan pelan bahu Melani. "Ada apa?"
Saat itu juga Melani langsung tersadar. Ternyata semua hanya halusinasinya, karena ada sosok Alzam di sekitarnya.
"Gak ada apa-apa, Mbak. Hanya sedikit pusing saja," kilahnya.
"Makanya kamu istirahat aja! Jangan banyak gerak!" pesan Zahra.
"Iya, Om. Maaf telah membuat kalian khawatir. Aku tidak apa-apa." Melani menyunggingkan senyumnya, menutupi sakit di hatinya saat apa yang ia rasakan tadi hanyalah sebuah halusinasi saja.
🥕🥕
Karena keadaan Melani sudah membaik, ia pun diperbolehkan untuk pulang dengan catatan harus beristirahat selama 3 hari agar benar-benar pulih. Terlebih Melani juga harus menjaga pola makannya jangan sampai terlambat lagi.
Sesampainya di apartemen Melani langsung memberikan tubuh di tempat tidur. Masih jelas dalam ingatannya jika beberapa jam yang lalu sosok yang ia lihat itu nyata bukanlah halusinasinya saja.
"Untuk beberapa hari kedepan kamu nggak usah mikirin pekerjaan. Yang penting kamu istirahat agar cepat sehat," pesan Arya.
"Iya Om. Maaf udah merepotkan."
"Mel, untuk beberapa hari kedepan kamu pantau makanan Melani. Jika yang bandel pukul sapu," kata Arya untuk menakuti Melani.
__ADS_1
Seketika tawa kecil itu keluar membuat hati Arya terasa hangat. "Ih, aku bukan anak kecil, Om!"
"Memangnyamemangnya hanya anak kecil saja yang boleh dipukul pakai sapu? Tidak kan. Pokoknya aku nggak mau tahu untuk ke depannya kamu nggak boleh telat makan lagi, kalau kamu sampai bandel terpaksa Om akan pecat kamu dari kantor Om!" ancam Arya.
"Iya ... iya, Om. Aku gak bakalan telat makan lagi."
Karena Arya masih memiliki banyak pekerjaan maka dengan berat hati ia meninggalkan Melani bersama dengan Naura.
Perhatian yang diberikan Arya pada Melani membuat Naura bisa menebak jika duda itu sedang menyimpan hati pada adiknya. Pria mana yang tak akan terhipnotis oleh kecantikan dan kesederhanaan yang dimiliki oleh Melani. Hanya adzan yang bodoh saja yang mengabaikan cinta dan ketulusan Melani.
Setelah Arya berlalu, langsung bertanya kepada Naura, tentang siapa yang membawanya ke rumah sakit. Naura menggelengkan kepalanya karena ia tidak tahu siapa yang telah membawa adiknya ke rumah sakit.
"Aku tidak tahu, karena aku tahu dari pihak rumah sakit yang memberitahu jika kamu ada di rumah sakit. Apakah itu Adam?"
Sejenak Melani berdiam.tidak mungkin jika yang membawanya ke rumah sakit adalah Adam, karena ia tahu persis bagaimana sifat sahabatnya. Mana mungkin ini akan pergi begitu saja terlebih saat mengetahui jika dirinya sakit.
"Sepertinya tidak mungkin, karena jika itu ada dia pasti akan ada di sana," sanggah Melani.
"Ya sudahlah sekarang kamu sudah sembuh. jangan diulangi lagi ya! Sekarang beristirahatlah aku akan membuatkan bubur untukmu."
Melani mengangguk pelan. Pikirannya terus berputar untuk menebak-nebak siapa yang telah membawanya ke rumah sakit. Apakah yang ia lihat tadi bukanlah halusinasi, Apakah memang Alzam datang untuk menolongnya? Lalu jika benar itu adalah Alzam mengapa pria itu tidak datang untuk menemuinya? Kemana dia saat ini?
"Mas Alzam, apakah itu kamu? Apakah selama ini kamu membohongiku? Mas Alzam katakan dimana kamu saat ini!" teriak Melani sambil mengeluarkan semua isi dalam hatinya
.
.
.
...🥕🥕🥕...
...BERSAMBUNG...
__ADS_1
sambil nunggu novel ini update kembali mampir dulu yuk ke novel teman aku yang judulnya SECRE WEDDING ( Jimmy & Alisa ) mampir ya!