
Suasana rumah Uti-nya masih ramai. Masih banyak orang yang berdatangan untuk berbela sungkawa. Mata Deena meneliti kepada beberapa orang yang duduk disamping Uti-nya. "Mereka," gumam Deena.
"Kenapa dengan mereka?" tanya Zahra yang sempat mendengar gumaman Deena.
"Tidak ada, Ma," jawab Deena dengan mata yang masih tertuju pada orang yang disebut 'mereka'.
Zahra segera membawa Deena kepada seseorang yang sedang menunggu Deena. Wajah Deena sangat berpindah saat melihat orang tersebut.
"Kakak ... Nenek," ucap Deena terkejut. Semenjak Deena pindah, dia tak lagi bertemu dengan wanita yang dipanggil kakek dan nenek.
Dia adalah pak Dhe dan bu Dhe. Seseorang yang berjasa dalam Zahra. Bahkan Zahra juga menganggap mereka sebagai orang tuanya.
"Ya ampun, cucu Nenek sudah besar," kata Bu Dhe yang langsung memeluk tubuh mungil didepannya. "bagaimana kabarmu, Sayang?"
"Deena baik-baik, Nek."
Setelah dipeluk oleh neneknya, kini tubuh Deena berpindah dalam pelukan kakeknya. Sang kakek yang peka dengan raut wajah Deena segera bertanya pada bacaan itu.
"Ada apa? Sepertinya ada yang sedang mengganjal lagi pikiranmu?"
Deena menatap pria yang dipanggil kakek tersebut. Karena selama ini hanya dia yang sangat peka dengan keadaannya. "Apa kamu melihat sesuatu?"
Kepala Deena mengangguk pelan. Dia tidak ingin ada orang yang mengetahui jika Deena memang sedang melihat seseorang yang sedang berada disamping Uti-nya.
"Mereka berdua, Kek. Laki-laki sama perempuan."
Kakeknya mengernyit mendengar ucapan Deena. "Maksudnya?"
"Kakek lihat saja ada dua orang di samping Uti."
Pak Dhe langsung beranjak dari tempat duduknya dan melihat ke arah ibunya Kanna duduk. Di sana hanya ada Dayat dan juga Shena yang turut pembacaan yasin untuk bapaknya. "Kenapa dengan mereka?"
"Mereka itu jahat!"
__ADS_1
"Hiss ... gak boleh ngomong seperti itu, mereka itu pak Dhe sama bu Dhe kamu juga. Gak boleh bilang seperti itu ya!" nasehat kakeknya.
Deena tak menanggapi ucapan kakeknya. Kata Calline orang yang sudah merusak mobil kakeknya ada laki-laki dan perempuan dengan aura yang hitam pekat. Deena menemukan aura itu pada kedua kakak kandung papanya.
Jika aku berkata jujur, maka tak akan ada satupun orang yang mempercayaiku, karena aku hanya anak kecil. Tapi aku tidak mau jika mereka akan kembali menyelakai orang lain. Mereka itu orang jahat!
Deena hanya bisa membatin karena sudah pasti tak akan ada yang percaya padanya. Terlebih mereka berdua mempunyai dua wajah yang bertolak belakang.
"Sudah kamu jangan berpikir macam-macam. Mereka itu baik, hanya saja mereka memang jarang pulang. Kegiatan mereka sangat padat," ujar kakeknya.
🍂🍂🍂
Tak terasa sudah tiga hari kepergian sang bapak. Kanna masih terpukul dengan kenyataan. Beruntung saja ada Zahra dan Deena yang menguatkan dirinya.
Kanna baru saja keluar dari kamarnya. Dia melihat empat orang sedang duduk di depan ibunya. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, tetapi terlihat sangat serius. Kanna yang penasaran, segera menghampiri mereka.
Mata Kanna terbelalak tak percaya saat melihat beberapa dokumen berada diatas meja. Matanya juga menyapu satu persatu mereka yang duduk dan berhenti pada mata ibunya yang kosong.
"Apa ini?" tanya Kanna dengan tangan gemetar saat mengambil satu persatu dokumen tersebut. Dengan teliti, Kanna membacanya.
"Kalian punya hati nurani tidak! Dalam suasana seperti ini kalian masih memikirkan harta warisan? Lalu di mana kalian saat bapak sedang kritis? Tak ada satupun dari kalian yang datang untuk menjenguknya bahkan tak ada yang menghibur ibu. Dan sekarang kalian datang untuk meminta harta warisan? Sungguh kalian semua gila!" sentak Kanna dengan amarah yang memuncak.
"Kita hanya minta bagian yang mana menjadi milik kita. Apakah itu salah?" tanya Shena.
"Duduklah! Mari kita bicarakan bagian kita masing-masing!" pintu Dayat.
Kanna tersenyum getir. Bahkan di saat ibunya masih bernapas dan berada di depan mereka, mereka sanggup harta warisan. Padahal yang lebih berkuasa itu adalah ibunya, bukan mereka.
Kanna berdecak kasar. "Kalian itu mikir nggak sih, di depan salon itu adalah ibu kalian. Ibu kalian masih hidup dan masih sehat. bisa-bisanya kalian membahas masalah harta warisan. Dimana hati kalian!"
Suara keributan membuat Zahra dan juga Deena menghampiri mereka yang berada di ruang tengah. Zahra bisa melihat jika mata suaminya sudah memerah, itu artinya jika saat ini Kanna sedang marah.
"Aku tahu kamu adalah anak tertua, tetapi aku tidak setuju denganmu Mas! Selama Ibu masih bernapas tidak akan ada pembagian harta warisan!"
__ADS_1
Shena yang menyadari kedatangan Zahra dan Deena langsung tersenyum sinis. "Jangan bilang jika kamu ingin menguasai semua warisannya sendiri kan?"
"Jaga ucapan mu, Mbak! Aku tidak bila harta seperti kalian!" balas Kanna dengan tegas.
"Mungkin kamu tidak gila harta, tapi siapa tahu istri kamu?" Mata Shena melirik kearah Zahra.
"Astaghfirullahaladzim," ucap Zahra dengan mengelus dadanya.
Kanna sangat tidak setuju dengan tuduhan Shena. Zahra memang dari keluarga biasa saja, tetapi Kanna tahu jika Zahra bukan type wanita gila harta.
"Jaga ucapan mu, Mbak!" bentak Kanna.
Ibu Kanna yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara. Dia juga tidak terima saat Shena menuduh Zahra gila harta.
"Cukup! Ibu sudah pusing dan ibu tidak akan menandatangani surat warisan ini. Karena semua harta warisan sudah dibagi oleh bapak. Jika kalian ingin tahu, lusa pengacara bapak akan datang kesini. Lebih baik sekarang kalian pulang."
Wanita yang bergelar ibu itu akhirnya memilih untuk beranjak pergi dengan tubuh sedikit terhuyung. Beruntung saja Zahra sekarang menangkap tubuh ibu mertuanya.
"Ara bantu ya, Bu."
Ibu bertanya mengangguk pelan. "Bawa Ibu ke kamar. Kepala Ibu pusing."
Setelah kepergian ibunya, kini Dayat menatap sengit ke arah Kanna. Semuanya gagal karena sang adik yang bodoh itu ikut campur.
"Kamu memang adik tak berguna!" cibir Dayat yang segera mengajak istrinya untuk pergi. begitu juga dengan Shena yang merasa geram dengan Kanna.
"Kamu lihat saja jika bagian kita tidak rata!" ancam Shena yang juga mengajak pergi suaminya.
Kanna tak mengerti dengan jalan pikiran kedua kakaknya. Dalam pikiran mereka hanya ada harta dan harta.
"Sampai kapan mereka akan berhenti memikirkan harta dunia yang tidak akan pernah dibawa mati?"
Tanpa Kanna sadari ada sosok Deena di belakangnya. Dengan terkejut Kanna pun bertanya pada Deena. "Lho, kok Deena ada disini?"
__ADS_1
Kanna sudah menebak jika anak sambungnya itu mendengar semua pembicaraan yang telah berlalu. "Pa, mereka jahat!" ujarnya.