Belenggu Pernikahan Semu

Belenggu Pernikahan Semu
114 | Memberikan Pengertian


__ADS_3

Baru saja Melani dan Deena sampai di rumah, seorang pria tengah baya sudah menunggu kedatangan mereka. Dengan pakaian kaos oblong dan celana jeans yang robek di lututnya membuat Deena merasa ketakutan dan bersembunyi di belakang Melani.


Pria itu tak lain adalah pak Hasan, bapak dari Melani. Pak Hasan yang merasa diabaikan oleh Melani nekat untuk mendatangi rumah Alzam untuk melancarkan misinya.


"Bapak ngapain disini?" tanya Melani terkejut.


"Dasar anak tidak tahu balas budi! Apakah kamu tega dengan nasib bapakmu yang dikejar-kejar rentenir setiap hari?" Pak Hasan nyolot karena merasa kesal dengan Melani yang tak bisa dijadikan ATM berjalan.


"Bapak apa-apa, sih? Semua itu salah bapak sendiri yang tak bisa berubah. Harusnya Bapak itu sadar mengapa bapak dikejar-kejar rentenir!"


PLAKK ....


Satu tamparan di layangkan ke pipi Melani. Pipi yang putih itu lekas memerah dan meninggalkan jejak lima jari bapaknya disana. Deena yang melihat kejadian itu tak berani untuk menatap pria yang di panggil bapak oleh Aunty-nya.


"Mentang-mentang sudah menikah dengan orang kaya, sombong kamu sekarang ya! Ingat kamu bisa seperti ini karena siap!" bentak Pak Hasan dengan kesal.


Melani terdiam sambil memegangi pipinya yang terasa panas akibat sebuah tamparan keras dari bapaknya. Dia tak bisa lagi berkata apa-apa hingga akhirnya Deena yang ketakutan mengajaknya untuk masuk kedalam.


"Aunty, kita masuk ya," kata bocah itu dengan rasa takut.


Mata pak Hasan mengalih pada Deena yang bersembunyi dibalik tubuh Melani. Saat dirinya hendak mendekat, Melani segera menghadangnya.


"Jangan sentuh dia! Mending bapak pulang sebelum aku berteriak minta tolong sama warga!" ancam Melani dengan tubuh yang gemetar, karena ini adalah kali pertama dia melawan pada bapaknya.


"Dasar anak durhaka! Lihat saja apa yang akan aku lakukan pada kakakmu nanti!" ancam bapaknya.


Pak Hasan yang tidak terima dirinya diusir langsung mengancam Melani. Dia tahu jika Naura adalah segalanya untuk Melani.


"Aku akan menjual dia pada pria hidung belang!" lanjut bapaknya yang kemudian berlalu.


"Pak! Jangan lakukan itu! Bapak Jangan gila, itu anak Bapak!" teriak Melani yang sudah tak didengar oleh bapaknya.


Melani menangis untuk menumpahkan perasaannya, tetapi suara bocah kecil membuatnya langsung menghapus air matanya.


"Aunty jangan nangis! Ayo masuk!"


Sambil mengusap jejak air matanya, Melani langsung membawa Deena masuk kedalam rumah. Dia tak habis pikir mengapa sang bapak sangat kejam pada anaknya sendiri. Padahal selama ini dirinya dan sang kakak yang harus banting tulang untuk membayar semua hutang-piutangnya. Bukan semakin sadar, tetapi semakin menggila.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Sepulang dari kantor, Alzam langsung mencari keberadaan Melani. Karena dilihat tak ada di lantai bawah, itu artinya dia berada di kamarnya. Kejadian yang menimpanya siang tadi sudah Alzam lihat dari kamera CCTV. Dia tahu jika saat ini pipi Melani pasti memar akibat semua tamparan keras dari bapaknya.

__ADS_1


Saat membuka sebuah pintu Alzam kembali mengangkat kedua garis simpul di bibirnya. Matanya menangkap Melani sedang mengikat rambut Deena, seperti sang anak baru saja selesai mandi.


"Hem ... hem .... "


Suara deheman membuat Deena dan Melani menoleh kebelakang.


"Papa .... " kata Deena yang langsung berlari menuju kearah Alzam.


"Cantik sekali, Sayang," puji Alzam pada Deena.


"Aunty yang buat Deena cantik," ujarnya.


Seketika mata Alzam menatap kearah Melani yang masih duduk di depan cerminnya. Bisa dilihat bagaimana jejak gambar tangan bapaknya yang masih melekat di pipinya.


Tanpa kata Alzam mendekat dan langsung menyentuh pipi Melani yang memar.


"Aduh ...," ringkasnya.


"Sakit sekali ya?"


Melani hanya bisa menggeleng meskipun rasanya masih sakit. Tanpa diduga ternyata tangan Alzam langsung mengoleskan cream yang terasa dingin ke pipinya.


"Biarkan saja biar sakitnya hilang," kata Alzam saat Melani menyentuh pipinya.


"Gak, Pak. Karena baru kali ini melawannya."


Melihat jejak tangan yang menempel di pipi Melani mendadak hati Alzam berdesir. Diusianya yang masih muda, tak seharusnya Melani menanggung beban seberat ini hanya untuk melindungi seorang bapak bang sat seperti bapaknya.


"Pa, kakek itu sangat jahat. Dia sudah marah-marah dan menampar pipi Aunty." Deena pun mengadu pada Alzam.


"Iya. Orang seperti itu harus diberi pelajaran agar dia tidak semena-mena terus. Katakan apa yang diinginkan bapakmu?" tanya Alzam saat menatap kearah Melani.


Melani menelan kasar ludahnya. Ada keraguan dalam hatinya untuk mengatakan apa yang diinginkan bapaknya, takut jika Alzam juga akan membenci dirinya.


"Mel?" panggil Alzam.


"Bapak minta uang Pak untuk membayar hutangnya," jelas Melani dengan menunduk.


"Berapa?"


"10 juta, Pak."

__ADS_1


Alzam menghela napas berat. "Beri tahu bapakmu besok aku ingin bertemu dengannya!"


Melani mendongak untuk menatap Alzam. "Bapak mau apa menemuinya?"


"Itu urusanmu, bukan urusanmu."


.


.


Malam ini seperti malam sebelumnya, Melani membacakan dongeng untuk Deena sebelum tidur, tetapi Alzam datang dan menyerahkan ponselnya pada Deena.


"Dee, ada telepon dari mama kamu."


Deena pun mendongak dan segera mengambil ponsel dari tangan papanya.


"Halo," kata Deena saat ponsel itu menempel di telinganya.


"Dee, Mama merindukanmu, apakah kamu tidak merindukan Mama?" tanya Zahra dari balik teleponnya.


"Deena juga merindukan Mama tapi Deena masih ingin bobok ditempat papa karena ada Aunty yang akan membacakan dongeng untuk Deena."


"Tapi Deeβ€”"


"Ma, udah ya, Deena mau dengerin Aunty baca dongeng." Seketika Deena mematikan sambung teleponnya.


Ada rasa tak enak hati yang menyelip di dada Melani. Dia takut jika Zahra menganggap saat ini dia sedang merebut Deena dari sisinya. Saat ponsel itu telah dikembalikan kepada Alzam, Melani segera memberikan pengertian kepada Deena jika saat ini mamanya sedang merindukan dirinya.


"Dee, lain kali gak boleh seperti itu lagi ya. Kan tadi mama belum selesai berbicara tetapi Deena sudah mematikan telepon, itu tidak sopan. Besok jangan diulangi lagi ya."


"Tapi Deena gak mau pulang, Aunty. Nanti gak ada yang mau bacain dongeng untuk Deena lagi." Deena berbicara dengan tatapan sendu.


"Kan Aunty udah pernah bilang sama Deena, saat ini mama sedang kewalahan untuk mengurus dedek Kala, jadi Deena gak boleh berkecil hati kalau mama belum ada waktu untuk Deena. Nanti kalau dedek Kala udah bisa main sendiri, makan sendiri, bobok sendiri, pasti mama akan punya banyak waktu untuk nemenin Deena lagi. Kan Deena mau jadi kakak yang baik untuk dedek Kala, jadi untuk saat ini Deena harus mengalah sedikit ya, Nak."


Alzam pun langsung naik keatas tempat tidur untuk meyakinkan anak semata wayangnya jika apa yang diucapkan oleh Melani itu benar. Tidak akan ada orang tua yang akan pilih kasih terhadap anaknya yang pernah berjalan dalam suka dan duka.


.


.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


Halo-halo, selagi nunggu novel ini up, mampir dulu yuk ke Novel kak TYATUL Dengan judul DEWI UNTUK DEWA dijamin ceritanya seru. Mampir ya!



__ADS_2