
"Bapak tunggu aja disini!" kata Melani saat kedua sudah sampai disebuah cafe, tempat Melani bekerja sebelumnya.
Alzam menautkan alisnya saat ingin melepaskan seat belt. "Maksudmu aku harus menunggumu di mobil?"
Melani mengangguk pelan. "Tadi kan udah janji kalau mau ikut gak boleh masuk." Melani mengingatkan kembali barangkali Alzam lupa.
"Baiklah, tapi waktumu hanya 5 menit. jika lebih dari itu aku akan masuk."
Terpaksa Melani harus mengiyakan saja keinginan Alzam, daripada dia ikut dan membuat rusuh di dalam. Saat ini Melani hanya ingin menanyakan tentang penculikan Deena kemarin. Jika Alzam ikut pasti dia tidak bisa menahan emosinya.
Adam yang sudah menunggu Melani tersenyum lebar pada gadis yang selama ini diincarnya. Jarang-jarang Melani mau mengajaknya untuk bertemu. Mungkin saja ada sesuatu yang ingin dibahas olehnya.
"Maaf sudah menunggu lama," kata Melani yang kemudian menarik sebuah kursi.
"Tidak apa-apa. Aku juga belum lama kok. Kamu mau pesan apa?"
Melani mende.sah pelan. Dia tak ingin berbasa-basi karena di luar sudah ada pawang yang menemui dirinya.
"Gak usah repot-repot, karena aku tidak memiliki banyak waktu. Kedatanganku ke sini hanya untuk menanyakan bagaimana Deena bisa di tangan bapakku? Bukankah aku sudah menitipkan Deena kepadamu?" tanya Melani langsung pada intinya.
Alzam tercengang heran untuk sesaat. "Lho, bukannya bapakmu adalah kakaknya Deena juga? Kemarin kami sedang menunggumu, tapi tiba-tiba bapakmu datang dan mengatakan jika kamu tidak bisa menjemput Deena. Akhirnya aku berikan bujuk Deena untuk pulang bersama dengan bapakmu. Memangnya ada apa?" tanya Adam yang memang tidak mengetahui kabar atas penculikan Deena.
"Apakah kamu yakin tidak sedang bersekongkol dengan bapakku?"
"Astaghfirullahaladzim, Mel! Kamu lagi menuduhku? Meskipun aku memang ingin dekat denganmu, tapi aku tak sejahat itu, Mel!" sanggah Adam.
Belum juga ada lima menit Alzam sudah menyusun Melani ke dalam. Dirinya sangat penasaran dengan pria yang sedang ditemuinya. Apakah lebih cool darinya atau malah lebih minus darinya.
"Buang semua rasa yang ada untuk Melani, karena dia sudah menikah." Tiba-tiba saja suara itu mengagetkan kedua orang yang sedang bertanya jawab. Melani tak percaya jika Alzam akan ikut masuk meskipun waktu belum nyampe 5 menit. Ini namanya curang!
"Pak Alzam kok kesini, sih?!" gerutu Melani saat Alzam nekat masuk kedalam.
__ADS_1
"Aku hanya ingin memastikan apakah istriku ada yang menggodanya."
Susah payah Melani menelan kasar salivanya. Dia tak menyangka jika Alzam mampu mengakuinya sebagai istri di depan Adam.
Adam yang mendengar langsung mengernyit. Dia tidak percaya jika Melani sudah menikah dengan om-om yang ada di depannya. Mungkinkah ini hanya trik Melani agar bisa menjauh darinya?
Sambil mengulum senyum di bibir Adam menertawakan ucapan Alzam. "Aku tahu, Om hanya disuruh Melani untuk mengakuinya istri agar dia bisa menjauh dariku 'kan? Tapi sayangnya aku nggak percaya, Om."
Mata Alzam menyeret tajam ke arah Adam dan bertanya, "Apa hubunganmu dengan Melani?"
Adam hanya nyengir karena di antara keduanya tidak ada hubungan apa-apa, tetapi yang Adam tahu dia menyukai Melani.
"Sudahlah, Pak! Urusanku dengannya sudah selesai mari kita pulang," ajak Melani yang tak ingin memperpanjang cerita.
Seketika Adam tertawa lepas saat mendengar Melani memanggil pria yang ada di depannya itu dengan sebutan Pak.
"Tuh kan apa aku bilang, Om ini bukan suaminya Melani. Mana mungkin seorang istri memanggil suaminya dengan sebutan Pak," cibir Adam.
"Kamu apa-apaan sih Mel! Kamu sengaja mau menyembunyikan pernikahan ini dari teman pria mu itu?"
"Bukan begitu Pak, tapi malu ribut di cafe dilihatin orang."
Dengan perasaan kesal, Alzam mengemudikan lagi mobilnya untuk menuju ke rumah. Entah mengapa dadanya terasa terbakar ketika melihat Melani pria di masa lalunya. Apakah ini pertanda jika Melani juga akan meninggalkan dirinya seperti Zahra?
****
Setelah insiden penculikan kemarin, Naura terpaksa harus tinggal bersama dengan Zahra atas permintaan kakaknya sendiri.
Kehadiran Naura membawa warna dalam rumah Kanna. Selain ramah dan mudah bergaul, Naura juga bisa mengambil hati Deena. Kali ini Deena merasa tidak kesepian lagi.
"Na, makasih ya, kamu mau bantuin mbak buat jagain Deena," ucap Zahra saat Naura berhasil mengajak Deena untuk keluar dari kamarnya.
__ADS_1
"Mbak Ara gak usah sungkan seperti itu. justru aku yang terima kasih sudah diperbolehkan untuk tinggal di rumah mbak Ara dan mas Kanna," ujar Naura.
Meskipun saat ini Deena sudah kembali ke rumah, tetapi rasanya ada yang hambar. Bocah itu sudah itu tak sehangat dulu lagi sedikit menjauhi ibunya sendiri. Meskipun Zahra telah memberikan pengertian kepada Deena jika dia harus bersabar lebih sedikit lagi, tetapi bocah itu sudah merasa pusing dengan janji ibunya. Nyatanya setelah sang adik tidur, ibunya juga langsung tertidur dengan alasan kelelahan.
"Dee, papa pulang cepat kamu mau pesan apa?" tanya Zahra saat melihat Deena juga keluar dari kamarnya.
"Deena gak mau apa-apa, Ma."
Naura hanya bisa menyemangati kakaknya karena kondisi ini memang wajar dialami oleh anak Deena. Saat ini yang dibutuhkan adalah perhatian yang lebih untuk Deena.
"Kalau gitu Mama masakin makanan kesukaan kamu ya, kata Aunty Mel—"
"Stop! Jangan sebut Aunty jahat itu, Ma!"
Zahra dan Naura saling menatap. Kejadian kemarin benar-benar membuat Deena masih merasa kesal dengan Melani.
"Ya udah, kalau gitu biar Aunty Na yang masak buat Deena ya," tawar Naura. Dengan sigap, Deena mengangguk.
Naura tersenyum lebar ketika telah berhasil mengambil hati Deena. Anak seusia Deena memang harus diberi perhatian ekstra agar dirinya tak merasa tersisihkan. Dengan senang hati Naura menjaga Deena karena bukan hanya satu hati yang dia dapatkan, melainkan hati seluruh penghuni rumah.
'Mbak Ara, maafkan aku jika aku tumbuh menjadi benalu di rumah ini. Namun, aku tidak bisa membohongi perasaanku. Benar apa yang telah diucapkan oleh Melani jika selain tampan, mas Kanna juga sangat baik.' batin Naura
.
.
.
...BERSAMBUNG...
Eh, Naura pesan Author kamu jangan macam-macam sebelum diamuk sama para pembaca. Selagi nunggu novel ini Up, mampir dulu yuk ke novel teman aku dengan judul Anyelir, Mampir ya!
__ADS_1