
Meskipun beberapa hari aku sangat dekat dengan mas Kanna, tetapi aku tetap menjaga jarak. Aku tidak ingin kedekatan kami akan menimbulkan efek samping untuknya. Menjadi anak salah seorang anggota Dewan pasti akan menjadi pusat perhatian dan sorot berbeda dari orang-orang tertentu yang ingin menjatuhkannya.
Seperti biasa, saat keadaan kantin sepi mas Kanna tiba-tiba muncul di kantin. Kedatangan bukan untuk memesan makanan atau minuman, melainkan untuk mengajakku untuk berbicara.
"Ra," panggilannya dengan melambaikan tangannya ke arahku. Ku dekati dia lalu bertanya, "Ada apa, Mas?"
"Kamu gak ada niat untuk melanjutkan pendidikan kamu?" tanya mas Kanna dengan ragu-ragu.
"Memangnya kenapa, Mas? Apakah mas Kanna mau menawarkan beasiswa?" tanyaku dengan pede.
Mas Kanna menarik kedua garis bibirnya. "Kalau kamu berminat, aku bisa membantumu untuk mengajukan beasiswa di kampus ini, bagaimana? Seingat ku, dulu kamu adalah salah satu murid yang berprestasi di sekolah. Kamu pasti bisa mendapatkan beasiswa kampus ini."
Aku yang memang sangat berharap bisa melanjutkan sekolah lagi, merasa sangat terharu mendengarkan penuturan dari mas Kanna. Tanpa aku pikir panjang lagi, aku segera menyetujui ucapannya.
"Aku akan sangat berterima kasih jika mas Kanna memang serius ingin membantuku untuk mendapatkan beasiswa di kampus ini. Aku berjanji jika aku bisa diterima, aku akan belajar dengan sungguh-sungguh agar aku kelak bisa menjadi orang yang sukses di kemudian hari." Janjiku pada mas Kanna yang masih menatapku tanpa ekspresi.
"Kalau begitu akan aku usulkan. Kamu tunggu saja berita selanjutnya dariku," ujar Mas Kanna yang kemudian terlalu meninggalkan kampus.
Terkadang aku suka merasa heran dengan kelakuan mas Kanna yang hilang-hilang timbul.
Aku yang sangat bahagia langsung menceritakan kabar baik ini kepada Bu Endang. Alhamdulillah Bu Endang mendukungku 100%. Bahkan dia mempermasalahkanku jika aku ingin keluar dari pekerjaanku. namun seketika aku terdiam dan membeku. Jika aku keluar dari pekerjaan ini, lalu bagaimana aku akan bertahan selanjutnya.
Yang mendapatkan beasiswa adalah pendidikanku, bukan kehidupanku. Aku masih membutuhkan pekerjaan ini untuk bertahan hidup, sebelum aku benar-benar memiliki modal sendiri.
__ADS_1
"Bu, sebelum usulan beasiswa itu diterima, aku masih bisa kan bekerja di sini?" tanyaku pada Bu Endang jangan ragu-ragu. aku takut setelah mengatakan keinginanku, Bu Endang akan segera mencari penggantiku.
Bu Endang menatapku dengan mengulum senyum di bibir. "Kamu tenang saja, ibu tidak akan mencari penggantimu sebelum kamu mengatakan ingin berhenti," kata Bu Endang dengan lembut.
"Alhamdulillah," ucap ku, dengan penuh rasa syukur. Aku bersyukur bisa ditemukan dengan orang-orang baik disekelilingku, meskipun aku juga dipertemukan dengan orang-orang jahat di sampingku, salah satu contohnya adalah mas Alzam. Entah mengapa beberapa hari ini pikiranku terus memikirkan mas Alzam yang sudah jelas lebih memilih mbak Aira ketimbang aku.
"Memangnya aku siapa?" cibir ku, dengan rasa getir.
***
Karena mas Alzam terus aja menghubungiku, aku memutuskan untuk menemuinya hari ini agar masalahku dengannya cepat selesai. Aku tidak ingin menanggung rasa sakit hati yang lebih mendalam. Aku ingin bebas, terlebih saat ini ada sepercik harapanku untuk melanjutkan pendidikanku ke jenjang kuliah.
Sebenarnya berat untuk bertemu mas Alzam. namun jika aku terus menghindar, masalah ini tidak akan pernah selesai.
"Baru beberapa minggu tidak bertemu denganmu, sepertinya ada yang berubah. Kamu terlihat sangat kurus. Apakah kamu tidak makan?" tanya mas Alzam saat aku baru menarik sebuah kursi di depannya.
"Mungkin saja," lirihnya.
Tak ingin membuang waktuku lebih lama, segera kutanya apa maksud dan tujuan mas Alzam memintaku untuk menemuinya.
"Ra, aku tahu aku salah. Tapi aku tidak bisa membiarkan Aira tinggal sendiri di rumahnya. Aku memang pria bodoh yang telah menyia-nyiakanmu. Ra, bisakah kamu mempertahankan pernikahan kita dalam waktu satu tahun ini saja? Aku berjanji akan memberikan nafkah lahir kepadamu, tetapi tolong kembalilah padaku."
Aku tersenyum getir menatap mas Alzam yang berbicara seperti tak merasa bersalah sedikitpun. Tanpa merasa berdosa dia memintaku untuk kembali padanya.
__ADS_1
"Mas, pernikahan kita tak dilandasi dengan kata cinta dan kamu juga telah menikahi perempuan yang kamu cintai. Lalu mengapa kamu memintaku untuk kembali? Bukankah kamu saat ini sudah bahagia? Apakah kamu sengaja ingin balas dendam atas apa yang telah dilakukan ibuku kepadamu?" Aku sudah tidak bisa lagi untuk menahan emosiku. Inilah yang aku takutkan jika bertemu dengan mas Alzam, aku bisa mengendalikan diri.
"Tak perlu kamu membawa pasal dalam perjanjian mu dengan ibuku. Perjanjian itu tidak sah, karena aku tidak mengetahui apa isi dari perjanjian yang telah kalian buat," ujar ku dengan napas yang masih naik turun.
Mas Alzam masih terdiam belum bisa membuka mulutnya.
"Sepertinya pertemuan kita ini tidak ada artinya. Aku permisi pulang," kataku yang sudah bersiap untuk pergi. Namun, dengan cepat tangan mas Alzam menahanku.
"Aku belum selesai berbicara, Ra" ujarnya.
Ku hembuskan napas beratku dari mulut. Sungguh Aku tidak tahu apa yang diinginkan oleh mas Alzam padaku.
"Perlu kamu tahu, aku sama sekali tidak mencintai Aira, tetapi aku dipaksa oleh keadaan yang mengharuskanku untuk mencintainya. Saat ini aku membutuhkan bantuan mu, Ra. Tolong bertahanlah dengan pernikahan kita selama satu tahun ini. Setelah itu aku akan melepaskan mu dan tidak akan mengganggumu lagi," jelas mas Alzam.
Dadaku semakin sesak. Aku tidak mengerti mengapa mas Alzam dipaksa oleh keadaan untuk mencintai mbak Aira. Kepalaku terasa pusing, mataku pun berkunang-kunang.
BRUUKK
.
.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG