
Dua pasang mata telah mengintai kediaman rumah Kanna. Sejak pagi buta mereka sudah bersiap menunggu Kanna meninggalkan rumahnya. Mereka tahu jika hari ini Kanna akan kembali mengajar.
"Kamu gak salah informasi 'kan Shen?" tanya Dayat pada adiknya.
"Gak, Mas! Aku yakin keduanya akan kembali ke kampus hari ini," kata Shena dengan yakin. "kita tunggu aja, nanti mereka juga keluar."
Dayat dan Shena tidak terima jika Kanna merusak rencana yang sudah dia susun dengan rapi. Bahkan demi untuk mendapatkan harta warisan orang tuanya, mereka rela mencelakai ayahnya sendiri. Hati keduanya telah dibutakan oleh harta yang tak akan dibawa mati.
Akhirnya penantian mereka selama 1 jam membuahkan hasil. Terlihat mobil Kanan sudah keluar dari rumahnya yang menandakan jika saat ini hanya ada anak dan pembantunya di rumah.
Setelah mobil Kanna sudah tak terlihat lagi, keduanya turun untuk melakukan rencana selanjutnya. Hanya dengan cara seperti ini, mereka akan mendapatkan warisan ayahnya.
Tanpa mengetuk pintu, Shena masuk dan memanggil nama Deena.
Deena yang baru saja siap makan, merasa terkejut dengan kedatangan orang yang membawa aura gelap. Deena yang ketakutan langsung berlari menuju kamarnya. Shana yang melihat Deena lari segera mengejarnya.
"Kalian mau apa?" tanya mbak Ida yang melihat dua orang yang mengejar Deena ke lantai atas.
"Mas, kamu urus wanita itu, biar aku yang mengurus bocah itu!" saran Shena.
Dayat setujui dengan saran Shena langsung menghampiri mbak Ida untuk mengamankannya.
Sementara itu, Deena sudah mengunci pintu kamarnya. Dia sangat takut jika kedua orang itu akan mencelakai dirinya. Deena baru menyadari jika di dalam kamarnya tidak ada telepon. Dia tidak bisa menghubungi papanya.
"Pa, Deena takut, Pa. Papa tolong," kata Deena dengan ketakutan.
"Call, kita harus bagaimana? Aku takut."
Deena hanya bisa menangis ketika Calline juga tidak tahu mereka harus apa. Calline hanya sebuah boneka yang tidak bisa berbuat apa-apa.
"Call, bagaimana cara memberitahu kepada papa? Ayo dong, bantu aku!"
Pintu Deena sudah digedor semakin keras dengan teriak Shena yang menyuruh Deena untuk keluar.
"Hei, bocah sialan! Buka pintunya atau aku akan melakukan kekerasan kepadamu!"
Deena menggeleng. Dia tidak ingin ditangkap. Mata Deena melihat kaca jendela kamarnya. Namun, saat Deena mendekat dan melihat bahwa, ternyata sangat tinggi. Jika Deena lompat pasti tubuhnya akan hancur, tetapi dia tidak ingin ditangkap oleh mereka.
"Tidak! Aku tidak boleh melakukan ini. Mama pasti akan sangat sedih jika aku mati. Tapi aku juga takut jika mereka akan membunuhku."
__ADS_1
Belum juga menemukan jawaban, pintu kamar sudah berhasil didobrak oleh Dayat. Shena yang melihat bocah di depan matanya ketakutan, merasa sangat senang. "Mau kemana?"
Dengan cepat, Shena menarik tangan Deena. "Gak bisa lari lagi kan?" kekeh Shena dengan puas.
Dayat tersenyum smirk saat sang adik sudah berhasil menangkap bocah yang menjadi penghalangnya untuk mendapatkan warisan ayahnya. "Berteriaklah, Sayang! Karena tak akan ada orang yang bisa menolongmu sekarang!"
Sekuat apapun Deena memberontak, tegangannya tak bisa menandingi tenaga Dayat yang sudah menggendong tubuhnya.
"Lepaskan aku! Lepaskan!" teriak teriak Deena yang masih berusaha untuk memberontak.
Dayat hanya tertawa melihat Deena yang memukul punggungnya. Pukulan kecil yang tidak apa-apanya.
"Sekarang tidak ada yang bisa menyelamatkanmu. Sekarang waktunya kita untuk bersenang-senang," ujar Shena dengan ada puas.
Dengan kaki dan tangan yang terikat, serta mulut ditutup dengan sebuah lakban, Dayat dan Shena segera meninggalkan rumah Kanna. Kini keduanya sangat puas karena berlian sudah berada di tangannya.
"Aku yakin setelah ini, Kanna tidak bisa berbuat apa-apa. Dia akan melakukan apapun demi bocah ini," ujar Dayat.
"Benar sekali, Mas. Setelah ini warisan itu akan jatuh ke tangan kita. Kita akan menjadi orang kaya!" seru Shena yang sudah tak sabar menantikan waktu itu tiba.
Di dalam perjalanan yang menuju ke kampus, perasaan Kanna tidak enak. Dia terus memikirkan Deena yang berada di rumah. Meskipun Baru beberapa menit Kanna meninggalkan rumah, tetapi dia sudah merindukan anak sambungnya yang imut.
"Aku hanya kepikiran saja dengan Deena. Dia lagi apa, ya?"
"Astaga ... belum juga ada 5 menit kita meninggalkan dia, masa udah rindu sih, Mas?"
Kanna hanya menyunggingkan senyum di bibirnya. Kanna tidak peduli meskipun Deena hanya anak sambungnya. Dia tulus menyayangi Deena melebihi sayangnya kepada Zahra. Bahkan bisa dikatakan jika Deena lebih dekat dengan Kanna ketimbang dengan ibunya sendiri.
"Ya udah, aku telepon dulu ya." Zahra segera mengambil ponsel yang berada di dalam tasnya.
Cukup lama dia menunggu panggilan itu diangkat. Sudah hampir tiga kali si Zahra mencoba untuk menghubungi nomor rumah dan juga nomor Mbak Ida. Namun, tak satupun yang diangkat. Zahra hanya bisa mengernyit sambil melihat ke ponselnya.
"Kemana sih, mereka?" gumam Zahra heran.
"Ada apa?" tanya Kanna penasaran dengan wajah Zahra yang sudah ditekuk.
"Aneh aja, Mas. Mereka nggak ada yang mau mengangkat telepon," kata Zahra.
Kanna yang masih menyetir memilih untuk menepikan sejenak mobilnya. Karena dirinya juga penasaran dengan ucapan Zahra akhirnya Kanna mencoba untuk menelepon menggunakan ponsel. Benar saja, tak ada satupun panggilan yang dijawab oleh mereka.
__ADS_1
"Kok perasaanku semakin nggak enak ya?" gumam Kanna.
Kanna yang takut terjadi sesuatu di rumahnya memilih untuk putar arah, dan mengabaikan setiap pertanyaan yang keluar dari bibir ke Zahra. Karena saat ini keselamatan Deena adalah yang paling utama. Dia tidak ingin terjadi sesuatu kepada Deena.
"Mas ... kok kita pulang sih? Kita bisa terlambat loh," kata Zahra yang merasa bingung dengan sikap Kanna.
"Tapi perasaanku nggak enak, Ra. Aku takut terjadi sesuatu kepada Deena."
"Ya ampun, Mas. Mungkin saja saat ini mbak Ida sedang berbelanja dan Deena ikut, makanya dia nggak tahu kalau ada panggilan masuk."
Kanna tak peduli lagi dengan ucapan Zahra, karena hati kecil Kanna mengatakan sedang terjadi sesuatu kepada Deena.
Tak Butuh waktu lama, mobil yang dikendarai oleh Kanna telah sampai di teras rumahnya. Kanna mengernyit saat melihat pintu gerbang tak ditutup begitu juga dengan pintu masuknya yang terbuka lebar. Kanna semakin yakin jika sudah terjadi sesuatu di rumahnya.
"Deena!" panggil Kanna dengan sedikit berteriak.
"Mbak Ida ... Deena," panggil Zahra juga.
Rumah terasa hening seperti tak ada orangnya. Saat Zahra menuju ke dapur dia melihat tubuh mbak Ida tergeletak di lantai.
"Mas Kanna!" teriak Zahra dengan rasa panik. Kanna segera menuju dapur dan langsung terkejut melihat mbak Ida yang tergeletak. Bukannya memeriksa keadaan mbak Ida, Kanna malah langsung segera berlari menuju kamar untuk memastikan keadaan Deena.
Mata Kanna membuat dengan jantung yang ingin terlepas saat melihat pintu kamar Deena telah rusak. "Deena ... Dee!" teriak Kanna.
"Sial!" umpat Kanna yang langsung segera menuju ke kamarnya. Dia segera mengecek CCTV yang terpasang di rumahnya.
Kanna hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dengan jelas rekaman itu memperlihatkan dua orang kakaknya yang membawa Deena pergi. Bahkan Kakak laki-lakinya sempat melukai mbak Ida.
"Apa yang sebenarnya mereka inginkan?" tanya Kanna dalam hati.
Baru saja Kanna ingin menelepon Dayat, tetapi nomor Dayat sudah mengunjungi dia lebih dahulu. Kanna segera mengangkat panggilan dengan hati yang terbakar.
.
.
.
.
__ADS_1
Cuma mau kasih tau aja, mungkin endingnya nanti tak sesuai dengan harapan kalian ðŸ˜ðŸ˜