
Hari yang dinantikan Zahra pun tiba. Dimana dia tersenyum puas dengan keputusan pengadilan. Sidang perceraian berjalan dengan lancar dan hak asuh Deena pun jatuh ke tangannya. Namun, sebagai seorang ayah, Alzam tidak terima jika anaknya diasuh oleh pria lain selain dirinya.
Setelah ketuk palu, Alzam segera meninggalkan ruang sidang untuk menemui Deena yang sedang bersama dengan mbak Yani di taman terdekat. Alzam sudah bertekad, jika dia tidak bisa mendapatkan Deena dengan cara halus, maka Alzam akan menggunakan dengan cara lainnya untuk mendapatkan Deena.
"Mereka pikir aku akan tinggal diam?" cibir Alzam dalam hati. Dia pun segera melajukan mobilnya agar lebih cepat sampai tempat tujuan.
Terlihat Deena dan mbak Yani sedang bermain di taman. Dengan cepat Alzam menghampiri mereka dan segera mengajaknya untuk pulang. Tampa rasa curiga, Deena langsung menyetujuinya. Namun, tidak dengan mbak Yani yang merasa tidak enak.
"Pak Al, ini bukan jalan ke rumah kita," kata mbak Yani yang menyadari jika Alzam menempuh jalan yang berbeda.
"Oh ini ... kita singgah ke rumahku dulu," balas Alzam.
Mbak Yani pun mengangguk pelan. Hatinya semakin tidak enak. Dia pun berniat untuk menghubungi majikannya, tetapi dia baru menyadari jika ponselnya tidak ada.
"Tunggu Pak!"
Alzam pun menoleh dan memberhentikan mobilnya. "Ada apa?"
"Ponselku ketinggalan," jawab Mbak Yani. "Tolong kita putar arah, Pak," pintanya.
"Yah ... ini udah jauh dan udah mau sampai di rumah. Ganti yang baru aja deh, nanti aku belikan."
Alzam tak peduli dengan ponsel milik mbak Yani. Yang dia harapkan saat ini adalah sampai di rumahnya tanpa diikuti oleh Zahra.
"Dee, maafkan papa. Kamu adalah anak papa dan kamu harus menjadi milik papa," batin Alzam.
Tak butuh waktu lama, mobil yang dikendarai Alzam telah sampai didepan rumahnya. Sebuah rumah di kawasan elit, dan baru sial dibangun.
"Ini rumah, Om?" tanya Deena takjub.
"Iya. Tapi sebagai belum siap. Rencana Om, rumah ini akan om berikan kepada anak Om jika suatu saat nanti ketemu," ujar Alzam dengan berat.
Deena merasa kasihan atas apa yang telah terjadi kepada Alzam. Dalam hati dia bersyukur meskipun rumah yang dia tempati saat ini tak sebesar yang ada didepan matanya, setidaknya dia masih memiliki keluarga yang utuh.
__ADS_1
"Ya udah, masuk yuk!" ajak Alzam.
Deena dan Mbak Yani akhirnya mengikuti langkah Alzam untuk masuk kedalam.
"Nah, ini rumah Om. Deena adalah orang pertama yang Om ajak kesini. Dsini juga belum ada asisten rumah tangga, jadi mbak Yani nanti tolong bantu masak dulu ya."
Mbak Yani hanya mengangguk pelan. Namun, semakin lama Mbak Yani memperhatikan ternyata wajah Deena memiliki sedikit kemiripan dengan Alzam. Namun, mbak Yani mencoba untuk menepis prasangkanya. berharap itu hanya perasaannya saja.
"Dee, gimana dengan playgroup-mu? teman-temanmu baik semua kan?" tanya Alzam.
"Teman-teman Deena baik semua Om. Om, kenapa Om nggak cari anak sama istri Om? mereka pasti merindukan Om," celetuk Deena.
Alzam hanya tersenyum tipis melihat ke arah Deena. Bukan tidak ingin mencari tetapi percuma saja dicari jika pada akhirnya mereka tidak akan pernah kembali.
"Mereka tidak akan mau kembali karena Om jahat, Dee. Mungkin selamanya mereka akan membenci Om. Tapi Om harap, Kamu juga jangan membenci Om. Om hanya ingin merasakan bagaimana dekat dengan anak Om," ujar Alzam.
"Maksud Om?" Deena mengernyitkan dahinya karena merasa ada yang janggal dengan ucapan Alzam. Menyadari akan ucapan yang salah Alzam segera meralatnya.
"Maksud Om, dengan kehadiranmu di sini Om merasa jika sedang dekat dengan anakmu. terlebih kalian sangat mirip."
Perasaan Mbak Yani pun semakin tidak enak. Dia yakin jika Alzam sedang berbohong. Karena tidak akan mungkin majikannya akan mengizinkan Deena untuk menginap di rumah pria asing.
"Ada yang tidak beres," batin mbak Yani.
"Deena mau kan bobok satu malam aja di rumah Om? Besok Om janji akan mengantarkan Deena pulang," pinta Alzam dengan wajah yang mengiba.
Deena merasa kasihan kepada Alzam. Diapun tidak keberatan untuk tidur satu malam di rumah Alzam. Terlebih jika mamanya sudah memberikan izin. "Iya Om, Deena mau."
.
.
.
__ADS_1
Zahra hampir seperti orang gila ketika tidak menemukan keberadaan anaknya. semua sudut tempat sudah dia cari, tetapi dia tidak bisa menemukan keberadaan Deena. Air matanya terus mengalir, bahkan dia juga tidak mau pulang sebelum Deena ditemukan.
"Mas, kita harus lapor polisi. Aku tidak mau terjadi sesuatu kepada Deena, Mas."
Kanna hanya bisa menenangkan hati Zahra. Dia sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi Deena tak bisa dia temukan.
"Tapi polisi tidak akan memproses sebelum 24 jam atas hilangnya Deena, Ra. sekarang udah malam kita pulang dulu ya. besok kita cari lagi," saran Kanna.
"Tidak, Mas! Aku tidak mau pulang sebelum Deena ditemukan. Aku akan merasa gagal menjadi seorang ibu jika Deena sampai hilang," isak Zahra dalam dekapan Kanna.
"Aku tahu. Tapi kamu juga butuh istirahat. Aku juga tidak mau terjadi sesuatu kepadamu. Aku akan meminta bantuan kepada bapak, semoga dia bisa membantu untuk menemukan Deena," bujuk Kanna.
Akhirnya Zahra pun luluh. Sepanjang perjalanan Zahra hanya bisa menangis atas hilangnya Deena.
Kanna yang mengemudi tiba-tiba teringat akan Alzam yang dinyatakan gagal untuk mendapatkan hak asuh Deena. Jangan-jangan saat ini Deena sedang culik oleh Alzam, mengingat pria breng*sek itu banyak sekali akal bulusnya. Namun, dia tidak bisa untuk memberitahu Zahra. Kanna takut jika Zahra tidak mau pulang dan memilih untuk ke rumah Alzam.
"Deena, kamu dimana, nak."
Tak hentinya Zahra memanggil nama Deena, berharap sang anak itu bisa ditemukan.
Setelah sampai di rumah, Kanna segera membawa Zahra ke kamar. Satu hari berada di luar rumah pasti akan menguras tenaganya Zahra. Kanna tidak mau jika Zahra akan jatuh sakit karena kelelahan.
"Kamu istirahat dulu aku akan menelpon bapak," kata Kanna.
Akhirnya karena keluar dari kamar. Namun bukan untuk menghubungi bapaknya, melainkan menghubungi seseorang yang bisa diandalkan. Berharap mereka bisa menemukan keberadaan Deena.
"Aku menginginkan kabar baik dari kalian," kata Kanna sebelum menutup teleponnya.
Kanna tak pernah berpikir jika Alzam akan secepat ini untuk mengambil paksa Deena. Meskipun Alzam adalah ayah kandung Deena, tetapi apa yang dilakukan oleh Alzam itu sudah sangat keterlaluan. Kanna takut jika apa yang dilakukan oleh Alzam akan mempengaruhi mental Deena kedepannya.
"Jika memang ini adalah perbuatan dari pria breng*sek itu, aku tidak akan pernah tinggal diam. Meskipun aku tahu dia adalah ayah kandung Deena."
.
__ADS_1
.