Belenggu Pernikahan Semu

Belenggu Pernikahan Semu
110 | Sedikit Usaha


__ADS_3

Jika hati telah mati, sulit rasanya untuk dihidupkan kembali. Terkadang hanya akan terlihat bodoh dan egois, karena penyesalan telah mengurung hatinya. Terkadang cinta itu akan datang terlambat ketika seseorang itu telah pergi.


Selamat Membaca


Malam terasa panjang ketika ingatan Alzam berputar pada 6 tahun silam, dimana dirinya dan Zahra melewati malam pertama tanpa cinta. Dulu Alzam memang menginginkan Zahra agar wanita itu bisa melahirkan anaknya, tetapi kali ini tak ada tujuan lain yang membuat Alzam ingin menyentuh Melani.


Sebenarnya Alzam bisa saja menolak untuk menikah dengan Melani, tetapi mendengar cerita hidupnya yang menyedihkan membuat Alzam merasa tidak tega. Niatnya sejak awal hanya ingin membantu Melani yang gadis yang malang. Namun, kini dia terjebak dalam pernikahan yang semu dengannya.


Rasa sesal yang dimiliki hingga sampai saat ini membuat Alzam belum terhapuskan dari ingatannya, terlebih dia menyadari jika dia mencintai Zahra.


"Sungguh aku tidak bisa mencintai Melani. Apakah aku begitu egois mementingkan perasaanku sendiri?" tanya Alzam dirinya sendiri.


🍂🍂🍂


Pagi ini ada yang berbeda dari biasanya. Saat alasan membuka pintu kamar, aroma makanan telah menusuk ke hidungnya. Sudah lama rumah itu tidak pernah mengeluarkan aroma masakan setiap paginya. Namun pagi ini aroma itu tercium kembali.


Dengan pelan, Alzam menuju ke dapur. Bayangan Zahra kembali muncul saat melihat Melani sedang memasak. Dulu dia pernah mengabaikan Zahra, apakah saat ini dia juga akan mengabaikan malam juga?


Alzam tersentak ketika Melani memanggil namanya. Gadis dengan senyum indah itu membuyarkan lamunan Alzam.


"Mas Alzam udah bangun? Maaf aku pakai dapurnya untuk memasak, karena setiap pagi inilah pekerjaanku saat di rumah. Aku akan menyiapkan sarapan untuk mbak Naura dan juga ayah," ucapnya.


"Pakai aja. Bagian dapur itu juga jarang digunakan untuk memasak hanya sesekali jika aku mau."


Saat melihat Melani lebih dekat, jantung Alzam berdetak tak menentu. Mungkin karena Melani satu rahim dengan Zahra sehingga dia memiliki sedikit kemiripan.


"Pak Alzam mau sarapan?" tanya Melani ragu. Sebenarnya Melani tahu jika Alzam akan menolak tawarannya, tetapi tidak salah untuk memberi penawaran. Toh posisi dia saat ini hanyalah menumpang.


Alzam terdiam dan menatap beberapa hidangan yang sudah tersaji di atas meja.


"Pak Alzam tenang saja masakanku enak kok, buktinya ayah dan mbak Naura selalu memintaku untuk memasak."


"Oke. Aku mau coba."

__ADS_1


Melani tersenyum lebar saat Alzam tak menolak untuk makan bersama. Mungkin Melani harus bersabar untuk meluluhkan hati Alzam. Dia akan menuruti saran dari Zahra. Meskipun usia Alzam sudah berada di atas kepala tiga, tetapi tak membuatnya terlihat tua.


Saat baru satu suapan, mata Alzam melotot kearah Melani. Rasa yang sudah hilang kini dia bisa rasakan kembali meskipun bukan dengan tangan yang sama. Butuh beberapa saat Alzam meresapi, membuat Melani merasa jantungan, apakah makanannya tidak enak.


"Ada apa, Pak? Tidak enak ya?" tanya Melani dengan jantung yang berdebar.


Alzam menggelengkan kepalanya pelan. "Enak," ucapannya singkat.


Alzam yang merindukan masakan Zahra, tanpa pikir panjang dia melahap menu yang sudah dimasak oleh Melani. Tak peduli siapa yang mau masak karena rasa itu sudah melekat di lidahnya meskipun sudah bertahun lamanya.


Melani hanya mengernyit saat melihat Alzam menyantap masakannya dengan lahap. Bahkan dia juga hampir menghabiskan separuh dari masakannya. Melani tidak menyangka jika Alzam akan benar-benar menghabiskan masakannya.


"Wahh ... amazing! Luar biasa. Jika aku bisa meluluhkan pak Alzam dengan masakanku, aku rela setiap hari memasak untuknya. semoga saja Ini adalah sebuah awal yang baik," batin Melani sambil menahan senyum di bibirnya.


Karena saat ini Melani telah menjadi istri


Alzam, dia tak lagi mengizinkan gadis itu untuk bekerja di kantor. Meskipun saat ini kantor sedang ada masalah, tetapi dia masih sanggup untuk menghidupi Melani. Alzam paling tidak suka saat melihat seorang istri ikut bekerja, karena bagi Alzam tugas istri hanyalah di rumah.


"Tapi juga aku dipecat, bagaimana aku bisa melunasi hutang ayahku, Pak. Please tolong izinkan aku untuk tetap bekerja, ya?" iba pada Alzam saat pria itu mengatakan Melani tidak boleh bekerja lagi.


"Banyak, Pak. Sekitar 30 juta," jelas Melani gugup.


"Hanya 30 juta?" Alzam mende.sah pelan. "Aku akan melunasinya." setelah mengucapkan kata itu Alzam langsung berpamit untuk pergi ke kantor.


Ada rasa bahagia dan dan juga ada rasa sedih di hati Melani saat mengingat status pernikahannya. Dia hanya diberi kesempatan 6 bulan untuk bisa hidup enak bersama dengan Alzam, setelah itu dia akan kembali menjadi anak jalanan lagi. Menyedihkan sekali!


"Apa yang sudah aku dapatkan tak akan aku lepaskan. Aku akan memastikan jika pak Alzam akan bertekuk lutut di hadapanku sebelum waktu itu habis. Mari kita lihat siapa yang akan menang," kata Melanie dengan penuh ambisi.


🍂🍂🍂


Tok ... tok .. tok


"Papa ... " Deena mengetuk pintu kamar orang tuanya ketika sudah pukul 7 tetapi mereka belum juga keluar dari padahal hari ini Deena harus ke sekolah.

__ADS_1


"Papa ... Mama ... bangun! Ini udah siang! Deena mau sekolah!" teriak Deena sambil mengetuk pintu.


Seperti biasa setiap pagi orang tua Deena harus berolahraga terlebih dahulu sebelum mereka keluar dari kamarnya.


"Mas, Deena, Mas!" kata Zahra memberi peringatan kepada Kanna.


"Biarkan saja. Nanti kalau lelah pasti dia akan turun untuk menemui ibu. Kamu jangan cari alasan untuk lari dari tanggung jawab!"


"Tapi, Mas—"


"Sudahlah, sebelum baby Kala bangun kamu selesaikan!"


Teriakan Deena mampu didengar oleh ibu Kanna. Wanita tengah banyak itu sudah tahu apa yang dilakukan anak dan menantunya di dalam kamar yang tak kunjung keluar. Akhirnya dia membawa denah untuk sarapan terlebih dahulu.


"Apakah mereka sakit, Uti?" tanya Deena dengan rasa penasarannya.


"Mungkin mereka belum bangun, Sayang. Tadi malam kan dedek Kala rewel, jadi mama dan Papa tadi malam nggak bisa bobok. Beri mereka sedikit waktu, nanti kalau sudah bangun pasti mereka akan turun." Ibu Kanna memberikan penjelasan kepada sang cucu.


"Oh, gitu ya. Padahal hari ini Deena ingin mengucapkan Happy father kepada papa." Wajah Deena terlihat lesu dengan sebuah kertas yang ada tangannya.


"Apa itu?" tanyanya.


"Ini adalah hadiah untuk papa." Deena memperlihatkan hasil mahakaryanya kepada sang Uti. Sebuah coretan yang menggambarkan empat orang yang saling bergandengan tangan.


"Ini kamu yang buat, Dee?" tanya ibu Kanna.


"Iya Uti. Ini adalah gambaran terbaik yang Deena buat. Kata Miss, hari ini adalah hari ayah jadi Deena ingin memberikan hadiah untuk papa Kanna," celoteh Deena dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


.


.


.

__ADS_1


...HAPPY FATHER DAY...


ALFATIHAH UNTUK AYAH YANG SUDAH TENANG DI SISI-NYA


__ADS_2