Belenggu Pernikahan Semu

Belenggu Pernikahan Semu
33 | Meminta Jatah


__ADS_3

Mentari pagi menyambut dengan cerah, secerah wajah bocah perempuan yang merasa sangat bahagia, karena sang Uti mengatakan ingin mengajaknya jalan-jalan.


Setelah sarapan Deena langsung langsung bersiap-siap meskipun masih pukul 07.00 pagi.


"Kamu semangat sekali Dee?" tanya Kanna yang melihat Deena sudah rapi. "Ini masih pukul 07.00 pagi. Uti kamu mungkin belum bangun," lanjut Kanna lagi.


"Biar aja. Lebih baik menunggu daripada ditunggu," celoteh Deena.


"Terserah kamu sajalah, Papa mau berangkat kerja dulu," sambung Kanna lagi.


Deena akhirnya memilih menunggu Uti-nya di depan tv. Sudah lama Deena memimpikan ingin mengelilingi kota, tetapi tak pernah diizinkan oleh mamanya. Namun, kini mamanya sudah menyerah. Deena telah dibebaskan dengan keinginannya.


"Ra," panggil Kanna pada Zahra yang sedang membereskan meja makan.


"Iya, Mas." Zahra menoleh kebelakang, dimana dia melihat Kanna sudah siap untuk berangkat bekerja. "Udah mau berangkat?" tanya Zahra.


Kanna mengangguk. "Iya. Kamu harus ingat gak boleh mengerjakan pekerjaan rumah. Disini sudah ada ART dengan tugas mereka masing-masing. Tugas kamu hanya cukup mengawasi Deena saja," pesan Kanna.


Zahra tersenyum tipis. "Iya ... iya, Mas. Bawel."


Zahra pun segera mengantar Kanna sampai ke teras. "Biasanya mas Kanna pulang jam berapa?" tanyanya.

__ADS_1


Kanna menghentikan langkahnya dan menatap Zahra dengan tatapan dalam. Kanna tidak percaya bahwa dia bisa mencintai wanita polos seperti Zahra. Bahkan yang sampai saat ini masih berstatus istri pria lain, karena Zahra dan Alzam belum bercerai secara hukum negara.


"Hari ini jadwalku sangat padat, tapi akan aku usahakan untuk pulang lebih awal."


"Oh. Nanti kasih kabar aja kalau udah mau pulang biar aku bisa siapkan makanan untuk kamu.


Senyum dibibir Kanna gak pernah sirna jika sedang melihat wajah polos Zahra. Ingin terus berada disampingnya, tetapi dia sadar, jika hidupnya tidak akan kenyang hanya dengan modal cinta. Butuh uang untuk membahagiakan pasangannya.


"Iya ... iya. Bawel," ujar Kanna.


Zahra langsung mengernyit saat mendengar kata andalannya di copy paste oleh Kanna.


"Itu kata-kata aku, kenapa kamu comot sih, Mas?" protes Zahar. "Udahlah sana berangkat, nanti keburu telat," ujar Zahra dengan mendorong tubuh Kanna untuk masuk ke dalam mobilnya.


Mata Zahra pun langsung membulat. Tubuhnya mendadak membeku saat Kanna sudah mendekatkan wajahnya sambil menunjuk pipinya. "Sun dulu."


"Apaan sih, Mas? Kan malu kalau ada yang lihat," tolak Zahra yang sudah menahan rona pipinya.


"Ngapain malu, kalau mereka mau tinggal minta sama pasangan sendiri. Udah cepetan, nanti aku telat beneran nih," ujar Kanna lagi.


Zahra membuang napas berat Dengan segera dia mengeecup pipi Kanna dengan mata yang memejam. Meskipun itu bukanlah ciuman yang dia berikan kepada, tetapi Zahra masih saja merasa malu.

__ADS_1


CUP!


Sebuah kecupan singkat di pipi Kanna, membuat dada Zahra bergerumuh dan membuat tubuhnya seperti sedang tersengat arus listrik.


Kanna pun langsung menarik tubuh Zahra untuk memberikan kecupan singkat di keningnya.


"Nah, kalau seperti ini aku bakalan tenang saat bekerja. Mulai saat ini kamu gak boleh melupakan jatah aku, oke!" ujar Kanna dengan mata mengerling.


Zahra hanya bisa menatap punggung Kanna yang sudah masuk kedalam mobil sambil memegangi dadanya.


"Sudah lima tahun, tapi dada ini masih saja bergerumuh saat bersentuhan dengan mas Kanna," batin Zahra yang masih melihat mobil Kanna keluar dari halaman.


Setelah kepergian Kanna, Zahra memutuskan untuk masuk kembali ke dalam rumah. Zahra tak pernah berpikir jika Kanna akan benar-benar tulus menerimanya dan juga Deena. Begitu juga dengan kedua orang tuanya, yang begitu baik memperlakukan Deena seperti jujur kandung mereka sendiri. Namun, tidak dengan kedua kakak Kanna yang sangat tidak menyukai kehadiran Zahra dan Deena. Keduanya menganggap jika Zahra sengaja mendekati Kanna hanya untuk mengincar hartanya saja. Terlebih saat ini hubungan Deena sangat dekat dengan ibunya Kanna.


Namun, Zahra yang tak memiliki niat seperti yang dituduhkan oleh kedua kakaknya Kanna hanya bisa berlapang dada. Zahra hanya berharap jika suatu saat nanti, kedua kakak Kanna bisa menerima kehadirannya di keluarga mereka.


.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


Tunggu bentar lagi ya mas Al mau keluar. Dia lagi menata puing-puing yang sudah hancur 🤣🤣


__ADS_2