Belenggu Pernikahan Semu

Belenggu Pernikahan Semu
106 | Memberi Pengertian


__ADS_3

Hingga Kanna pulang, Deena masih mengurung dirinya di dalam kamar. Bahkan saat ini dia juga mengabaikan celotehan Kala yang ada di sampingnya. Dulu dia sangat berharap memiliki seorang adik. Namun, adik mampu merebut perhatian semua orang. Saat ini Deena sedang berada rasa cemburu, dimana semua orang terus memuji dan menyanjung Kala.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Kanna dengan lembut pada anak sambungnya.


Deena tak menjawab pertanyaan Kanna, dia malah menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya. Kanna hanya bisa mende.sah pelan.


"Apakah ada masalah? Coba cerita dulu sama Papa," bujuk Kanna.


"Papa keluar aja. Deena mau sendiri!"


Kanna mengernyit. Dia merasa heran mengapa Deena berubah ketus. Dia juga yakin jika ada sesuatu yang sedang dipendam oleh Deena. "Kalau Deena tidak mau bercerita, Papa tidak mau keluar."


Rasa kecewa karena menganggap diabaikan, membuat Deena berpikir jika semua orang sudah tak lagi menyayanginya. Semua orang hanya menyayangi Kala.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Kanna sambil membuka selimut yang menutupi tubuh Deena.


Saat dibuka, Kanna bisa melihat jika anak sambungnya menangis. Entah apa yang telah terjadi padanya.


"Kok nangis, ada apa? Coba sini cerita sama Papa?" Kanna berusaha untuk mengangkat tubuh Deena untuk dipangkunya. Rambut panjang itu dia belai dengan lembut serta dihapus jejak air mata di pipi Deena.


"Kalau ada masalah, cerita aja. Papa siap untuk mendengarkan, ada apa?" tanya Kanna berharap sang anak mau untuk terbuka.


Kelopak mata kecil itu mengedip saat menatap Kanna, seseorang yang selama ini menyayangi sejak kecil. Bahkan selalu ada dalam suka dan dukanya. Namun, semenjak kehadiran Kala, perlahan perhatian Kanna untuknya mulai pudar. Deena menganggap jika Kanna tidak lagi menyayanginya.


Bukannya menjawab pertanyaan Kanna, Deena malah menangis. Kanna dengan Deena. "Ada apa, Sayang?"


"Papa jahat, Mama jahat semuanya juga jahat," ucap Deena dalam tangisnya.


Kanna mengernyit saat kata jahat itu keluar dari mulut Deena. Dalam hati Kanna berpikir apakah kata itu dia dapatkan dari Alzam? Apakah Alzam sudah mempengaruhi Deena?


"Jahat?" cicit Kanna. "Jahat kenapa, Sayang?"

__ADS_1


"Papa dan semua sudah gak sayang lagi sama Deena. Semuanya lebih sayang sama Kala."


Jantung Kanna seakan berhenti berdetak saat mendengar penuturan Deena. Hatinya sedikit tertampar. Apakah selama ini dia telah mengabaikan Deena? Hati Kanna berdenyut karena kelalaiannya untuk tetap memperhatikan Deena.


Jadwal mengajar yang menguras waktunya, membuat Kanna tak mempunyai banyak waktu untuk bercengkrama dengan Deena lagi. Kala yang selalu rewel membuat Zahra lebih mengutamakan Kala dan mengabaikan Deena.


"Sayang, bukan begitu. Papa dan semua orang sayang pada Deena. Rasa sayang itu sama sekali tidak berubah, Nak. Deena maafkan Papa yang telah mengabaikan Deena. Akhir-akhir ini Papa sibuk dengan pekerjaan dan mama sibuk untuk mengurus dedek Kala, tapi percayalah semua masih menyayangi Deena," jelas Kanna sambil memeluk tubuh kecil itu, berharap dia bisa mengerti dengan keadaan yang ada.


"Bukankah Deena tahu kalau dedek Kala itu suka rewel? Memangnya Deena mau adiknya nangis terus? Kan kasihan kalau dibiarin, Sayang. Maknanya sebisa mungkin mama mencoba untuk mendiamkan dedek Kala. Mama itu sayang kalian berdua, maafkan mama yang saat ini masih sibuk dengan dedek Kanna, ya." tambahnya lagi.


Deena hanya terdiam dalam sisa tangisan. Sebisa mungkin Kanna memberikan pengertian agar Deena bisa memahaminya.


"Deena gak usah merasa sedih. Semua orang sayang sama Deena. Dedek Kala tidak merebut kasih sayang semua orang. Deena jangan merasa bersedih lagi ya."


Butuh waktu dan kesabaran untuk meluluhkan hati Deena. Mungkin ini adalah teguran untuk Kanna agar bisa lebih memperhatikan Deena dan tidak hanya fokus kepada Kala.


Tak berapa lama Deena turun bersama Kanna. Meskipun lelah satu hari dengan pekerjaannya, tetapi Kanna masih sanggup untuk menggendong Deena turun ke lantai bawah. Zahra dan ibunya menyunggingkan senyum saat melihat Deena yang berada dalam gendongan Kanna.


"Aku harus bagaimana?" Alzam menatap luas hamparan gedung tinggi yang ada di depan matanya. Saat ini dia masih berada di kantor meskipun hari telah larut.


"Aku tidak mungkin meminta bantuan kepada mereka lagi," de. sah Alzam untuk mengeluarkan rasa sesak di dalam dadanya.


Alzam menatap bintang yang berada diatas langit. Saat ini dia sangat merindukan keluarganya. Takdir Tuhan tak pernah berpihak padanya. Bukan hanya keluarga saja yang dia rindukan, tetapi sosok yang sangat dia cintai sebelum hatinya terkunci pada Zahra. Dia adalah Aira. Seharusnya Aira-lah yang melahirkan anak untuknya, bukan Zahra. Namun, karena Aira tak bisa melahirkan seorang anak, akhirnya Alzam memilih Zahra sebagai gantinya.


"Aira, apakah saat ini kamu sudah bahagia disana? Jika sudah, bawah-lah aku pergi dari sini. Aku sudah lelah," ujar Alzam dengan satu bintang yang terang.


Dering ponsel membuat Alzam tersadar dalam lamunannya. Sebuah panggilan tanpa mana mengambang di ponselnya. Dengan dahi yang mengernyit Alzam segera mengangkatnya.


"Halo," kata Alzam dengan datar.


"Halo Pak, ini Melani. Bapak dimana, apakah saya sudah boleh pulang? Ini sudah sangat malam dan pekerjaan saya juga sudah siap."

__ADS_1


Seketika Alzam mengingat jika dia sedang menyuruh Melani untuk lembur. Entah apa alasan Alzam memperkerjakan Melani,sedangkan garis itu tidak memiliki tanda-tanda apa-apa. Sebenarnya Alzam n hanya merasa iba dengan apa yang dialami oleh Melani.


"Tunggu saja jadi ruanganmu, aku akan segera ke sana," kata Alzam yang langsung mematikan panggilan telepon.


Saat melihat jam di layar ponselnya, Alzam terkejut karena saat ini sudah menunjukkan pukul 11 malam. Dia langsung bergegas untuk ke ruangan Melani.


Terlihat gadis itu sedang berdiri di depan ruangannya, karena sebelumnya Alzam menyuruh Melani untuk menunggunya.


"Maaf aku lupa jika aku sedang menyuruhmu untuk lembur," sesal Alzam saat melihat beberapa kali Melani menguap.


"Gak apa-apa, Pak. Lagian saya juga baru siap," ujar Melani.


Karena hari yang sudah larut, Alzam memilih untuk mengantarkan Melani pulang. Dia tidak menginginkan sesuatu hal buruk terjadi pada karyawannya, karena biasanya malam hari sangat rawan untuk seorang perempuan yang di luar sendirian.


"Tapi sepeda motor saya bagaimana, Pak?"


"Kamu tenang saja sepeda motor kamu akan aman di sini."


Melani pun akhirnya mengikuti langkah azab untuk meninggalkan kantornya. Ini adalah kali pertama Melani berada dalam satu mobil dengan seorang pria. Jangan ditanya lagi, meskipun dia tidak memiliki perasaan kepada Alzam tetapi jantungnya berdebar tak karuan.


Selama perjalanan mata Melani sesekali melirik ke arah Alzam. Ternyata mantan suami kakaknya itu lebih tampan daripada Kanna, tetapi mengapa kakaknya memilih untuk meninggalkan Alzam yang bisa dikatakan memiliki segalanya.


"Dunia memang sempit. Saat aku dipertemukan dengan seorang pria, mengapa pria itu sangat tampan, tapi sayangnya dia bekas kakakku sendiri," batin Melani dengan menelan kasar ludahnya.


.


.


...Bersambung...


eh, mampir juga dong ke novel Dinikahi Mr. A punya teh ijo

__ADS_1



__ADS_2