
Alzam yang sudah menyelesaikan masakannya segera mencari keberadaan Deena. Baru saja ditinggal 5 menit, bocah itu sudah tak terlihat batang hidungnya lagi. Alzam tak hentinya untuk memanggil Deena, karena tidak mungkin bocah itu hilang ataupun diculik.
"Dee ... Deena," panggil Alzam.
Deena yang mendengar jika papa sedang memanggil namanya, dia pun bergegas lari ke tempat papanya berada.
"Kamu darimana?" tanya Alzam saat Deena telah menghampirinya.
"Deena habis lihat pintu itu." Tangan Deena menuju ke sebuah pintu yang ada di sudut ruangan.
"Kamu ngapain ke sana? Ayo makan!" Alzam tak yang tak ingin mendapatkan cecaran dari Deena segera membawanya ke meja makan. Untuk saat ini Alzam belum siap untuk memberitahukan tempat apa itu, sehingga dia melarang siapapun untuk masuk ke dalamnya.
"Kata mama kamu harus bobo siang," ujar Alzam di sela-sela makannya.
"Iya, Pa," jawab Deena dengan singkat. Bukan Deena jika tidak memikirkan tempat apa yang berbeda itu. Pasti ada sesuatu di dalamnya sehingga tempat itu berbeda. Ingin sekali Deena menanyakan kepada sang papa tempat apa itu. Namun, Deena melihat jika sang papa selalu mengalihkan pembicaraan mereka.
"Pa, kenapa Papa tidak menikah saja?" celetuk Deena tiba-tiba.
Alzam yang tengah mengunyah mendadak tersedak saat mendengar pertanyaan Deena. Sebuah pertanyaan yang tak pernah terpikirkan lagi olehnya.
"Kamu mengapa bertanya seperti itu?"
"Agar Papa tidak sendiri dan tidak kesepian," ujar Deena.
Alzam mendengus pelan. Selama ini dia sudah terbiasa dengan kesendirian dan keseniannya. Lalu untuk apa dia menikah sedangkan orang yang dia cintai tak bisa membalas perasaannya. Saat ini Alzam belum bisa membuka hatinya untuk siapapun, karena sesungguhnya hatinya telah dia berikan kepada Zahra.
"Asalkan ada kamu, Papa tidak akan merasa sendiri dan kesepian. Tidak usah memikirkan bagaimana Papa melewati semua ini, karena Papa sudah terbiasa." Bibir Alzam menyungging lebar. Dia tak percaya jika Deena mampu memikirkan bagaimana perasaannya di saat usianya masih menginjak 5 tahun.
"Papa harus bahagia seperti mama!"
"Bagi Papa bisa ikut merawat dan membesarkanmu adalah sebuah kebahagiaan, tanpa harus menikah."
Setelah usai makan siang, Deena langsung dibawa Alzam di sebuah kamar. Dimana kamar itu memang telah disiapkan untuknya sebelum dia lahir. Awalnya kamar itu bernuansa biru langit, tetapi setelah mengetahui anaknya adalah perempuan, Alzam menggantinya dengan warna pink.
__ADS_1
Didalam kamar juga banyak boneka. Tiba-tiba mata Deena menatap saat melihat boneka seperti miliknya. Tangannya segera terulur untuk mengambil boneka itu.
"Ini kenapa mirip dengan Calline?" tanya Deena sambil membolak-balikkan boneka yang ada di tangannya.
Alzam segera mendekat. "Ini adalah boneka keluarga, jadi hanya keluarga Papa yang memiliki boneka ini. Boneka ini juga tidak diperjualbelikan di manapun," jelas Kanna.
"Jadi boneka Calline juga milik Papa?" tanya Deena terkejut.
Alzam mengangguk pelan. "Iya," jawabnya singkat.
Ingatan Deena yang masih tajam biasa mengingat siapa yang telah memberikan boneka itu kepadanya. Dengan cepat, Deena bertanya, "Tapi mengapa saat itu yang memberikan boneka Celine itu seorang kakek tua, bukan Papa?"
Alzam mende.sah pelan. Bahkan dia sendiri tidak tahu bagaimana caranya salah satu boneka milik keluarga bisa sampai ke tangan Deena. Alzam juga tidak tahu siapa kakek tua yang dimaksud oleh Deena.
"Mungkin itu adalah seorang Malaikat yang sengaja menitipkan boneka itu agar Papa tahu jika Deena adalah anak Papa."
***
Saat ini pihak Zahra tidak tenang. dia terus memikirkan bagaimana keadaan Deena saat bersama dengan Alzam. Apakah dia tidur siang, apakah dia makan makanan yang bergizi, apakah Alzam bisa memahami Deena yang pikirannya lebih dewasa. Semua itu mengumpul menjadi satu dalam kepalanya.
Zahra segera menoleh dan menatap ke arah suaminya. "Aku sedang memikirkan Deena. Apakah dia baik-baik saja di sana," ucapnya.
Langkah Kanna semakin mendekat. Dia membelai rambut Zahra sambil membuang napas beratnya. "Aku yakin jika Deena baik-baik saja berada disana. Jika tidak, mungkin saat ini dia sudah memberi kabar ingin pulang. Jangan terlalu berpikir keras! Saat ini kamu sedang meyu.sui Kala. Aku tidak mau kamu stress dan mempengaruhi produksi A S I yang kamu keluarkan," ujar Kanna.
Zahra mendelik saat merasakan tangan Kanna telah menyusup kedalam bajunya. Sesekali Kanna juga menciumi bahu Zahra.
"Mas, gak usah aneh-aneh. Ini masih siang!" tegur Zahra.
"Apa hubungannya dengan siang. Toh saat ini Kala juga sedang bermain bersama dengan ini dan mbak Ida. Dia gak bakalan gangguin kita. Ayolah, sedikit saja," rayu Kanna dengan manja.
Zahra hanya memejamkan saat tangan dan bibir Kanna sudah sibuk untuk menaklukkan dirinya, hingga tanpa disadari suara de.sah.an itu keluar dari mulut Zahra.
Kanna tersenyum puas ketika suara keramat itu telah keluar. Dia pun langsung menonton Zahra untuk ke kamar mandi. Karena disana dia bisa leluasa dengan berbagai macam gaya.
__ADS_1
"Mas, nanti kalau baby Kala nangis gimana?" tanya Zahra sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
"Gak bakalan nangis. Kan ada Ibu sama Mbak Ida. Makanya kita harus cepat biar Kala gak sampai ngamuk. Kamu kan tahu sendiri bagaimana bocah itu kalau sudah ngamuk," ujar Kanna.
Zahra hanya pasrah saat Kanna telah menuntutnya untuk masuk ke dalam. Tak lupa Kanna juga mengunci pintu untuk berjaga, meskipun dia tahu tak akan ada orang yang akan masuk ke dalam kamar mandinya.
Semakin bertambahnya usia semakin bertambah juga hasrat yang dimiliki oleh Kanna.
"Mas, nanti gak pakai tambah ya!" pesan Zahra saat tangan Kanna membatu Zahra untuk membuka kancing bajunya.
"Iya, iya. Paling juga dua ronde," ujar Kanna sambil menahan tawanya. Sontak satu pukulan mendarat di punggungnya.
"Sama itu nambah, Mas!"
Kanna hanya tertawa saat melihat Zahra sudah memanyunkan bibirnya. Karena gemas, Kanna segera menangkup bibir Zahra menggunakan bibirnya.
Selama menikah bertahun-tahun, baru setahun terakhir ini Zahra bisa agresif dan bisa mengendalikan dirinya. Kanna tidak tahu darimana Zahra mempelajarinya. Bahkan saat ini dia juga bisa mengimbangi dirinya saat terbang ke angkasa.
"Sayang, semakin hari kamu semakin menggoda," ucap Kanna disela-sela permainannya.
Zahra tak bisa menjawab. Dia hanya berharap Kanna segera menuntaskan permainan karena perasaan tiba-tiba tidak enak.
"Mas, bisa lebih cepat?"
"Ternyata kamu mau yang cepat ya? Baiklah!" Dengan senang hati Kanna mempercepat gerakannya. Namun, siapa yang menyangka jika gerakan itu harus terhenti di tengah jalan karena sebuah gedoran pintu.
"Kanna ... Ara ...! Apakah kalian didalam? Cepatlah keluar karena Kala ngamuk. Sepertinya dia ingin tidur dan menyu.su."
Kini Mata Zahra dan Kanna saling menatap lebar. Untuk kesekian kalinya Kanna harus berhenti di tengah jalan.
"Mas, kamu terusin sendiri ya. Aku mau urus anak kamu," ujar Zahra yang berusaha mendorong tubuh Kanna.
.
__ADS_1
.
...BERSAMBUNG...