
Sebuah kejutan tak terduga untuk Kanna. Saat dia masuk ke dalam rumah, suasana rumah hening. Bahkan saat dia memanggil satu per satu penghuni rumah tak mendapatkan jawaban. Kanna semakin heran saat tak menemukan orang di rumahnya.
"Kemana perginya mereka, ya?" gumam Kanna yang telah memeriksa satu persatu ruangan di rumahnya.
Saat naik ke lantai 2, samar-samar Kanna mendengar celotehan anak perempuan di kamar Deena, kamar yang selama setahun terakhir tak pernah ditempati. Semakin mendekat suara itu semakin jelas. Bahkan bulu kuduknya telah berdiri. Kanna semakin merinding saat saat suara tawa itu menyerupai suara Deena.
Dengan pelan, Kanna mencoba untuk membuka pintunya. Saat itu juga mata Kanna terpana saat melihat bocah dengan rambut panjang sedang mengajak bermain Kala. Terlihat juga tiga orang wanita penunggu rumah juga ada di dalam. Karena posisi duduk Deena membelakangi kanna, membuat Kanna tak mengetahui siapa bocah itu.
"Kalian ngapain di sini? Dan siapa yang menyuruh kalian untuk masuk ke kamar ini? Sudah berulang kali aku katakan jika kalian tidak boleh masuk ke kamar ini kecuali hanya untuk membersihkan. Ayo keluar!" usir Kanna yang tidak terima jika kamar Deena dijadikan tempat bermain.
Zahra yang semula duduk jenis kera bangkit untuk menyalami suaminya. "Baru pulang jangan marah-marah. Minum dulu ya," tawar Zahra.
Kanna mendengus pelan sambil melonggarkan dasi yang melingkar di kerah lehernya. "Gak usah. Anak siapa dia? Mengapa dibawa masuk kamar ini?"
"Dia anakku, Mas."
"Bukan Kala yang aku maksud, tapi anak perempuan itu?"
Ibu Kanna dan juga mbak Ida berusaha dengan keras untuk tidak tertawa. Semua ini karena permintaan Deena.
"Dia anakku, Mas! Kalau kamu nggak percaya tanya aja sendiri sama dia!"
Kanna yang merasa geram dengan jawaban Zahra akhirnya memilih untuk menanyakan sendiri kepada bocah itu siapa dirinya. Namun, mendadak Kanna merasa jantungan saat melihat Deena yang ada didepan matanya saat ini. Bahkan untuk memastikan sedang bermimpi atau tidak, Kanna menampar pelan pipinya.
"Bukan mimpi. kamu beneran Deena?" tanya Kanna ragu.
Deena hanya mengulum senyum dibibir dan langsung menghambur ke dalam pelukan Kanna. Pria yang sangat dia rindukan, meskipun bukan ayah kandungnya.
"Deena rindu Papa," ucap Deena saat berada dalam pelukan Kanna.
Kanna masih tak menyangka jika bocah itu adalah Deena. Dengan perasaan ragu, tangan Kanna mengusap rambut panjang anak sambungnya dan berkata, "Papa juga sangat merindukanmu, Sayang. Mengapa kamu terlalu lama meninggalkan Papa? Papa hampir mati dan hampir gila saat itu. Syukurlah saat ini kamu sudah pulang, Sayang." Kanna menge,cupi kepala Deena.
"Maafkan Deena yang pergi terlalu lama. Tapi saat ini Deena sudah kembali. Makasih ya, dedek Kala-nya lucu dan imut. Besok bikinin lagi ya perempuan, ya," celetuk Deena.
__ADS_1
Seketika Kanna tersenyum saat mendengar ucapan Deena. Kalau masalah untuk mencetak tak perlu di suruh, Kanna sudah membuatnya hampir setiap malam. Hanya saja untuk saat ini masih ditunda dulu karena Kala masih kecil.
"Gampang itu kalau soal membuat adik lagi, Papa selalu bersemangat. Tapi untuk sekarang belum bisa dikabulkan oleh mama kamu, tunggu adek Kala besar dulu baru bisa cetak lagi," ujar Kanna.
"Memangnya harus dicetak?"
Zahra tidak ingin perbincangan itu semakin melebar. Akhirnya dia menyuruh Kanna untuk mandi terlebih dahulu agar lebih segar.
Suasana malam ini tak seperti malam sebelumnya. Ada pelatihan Deena yang menggema di sudut ruangan. Bahkan saat makan pun tak hentinya Deena berceloteh untuk menceritakan kegiatannya selama berada di luar negeri.
***
Pagi ini Alzam mulai kembali muncul ke perusahaannya setelah sekian lama vakum. Perusahaan yang dia titipkan pada tangan kanannya kini dia ambil kembali. Mungkin saat ini Alzam harus bisa menerima kenyataan jika dia tidak bisa memiliki Zahra. Namun, meskipun begitu Alzam merasa sangat bersyukur saat Zahra memberikan izin untuk tetap bisa mengunjungi Deena. Saat ini Alzam sudah bertekad untuk berdamai dengan kenyataan.
Lama tak turun langsung ke salah satu mall miliknya, membuat Alzam ingin sekali melihat perkembangannya disana. Kali ini bersama dengan Dafa, Alzam mengunjungi Mal miliknya.
Tak ada yang mengetahui jika Alzam adalah pemilik Mal, sehingga kedatangannya tidak mendapatkan sambutan apa-apa.
Saat dia sedang berjalan, tiba-tiba ada seseorang yang menabraknya dari depan.
Wanita yang sedang terburu-buru itu segera menyembunyikan diri ketika melihat seseorang yang mengejarnya semakin mendekat. Dia bersembunyi di balik badan Alzam. Saat Dafa ingin menegurnya, dengan cepat Alzam menggelengkan kepala.
Dua orang pria gagah dan bertato celingukan saat kehilangan jejak wanita yang sedang diburunya.
"Sepertinya dia ke arah sana," kata salah satu dari mereka.
"Kalau begitu kamu cari dia ke sebelah sana dan aku ke sana!" temannya menimpali.
Wanita yang bersembunyi di balik tubuh Alzam akhirnya bernapas dengan lega ketika dua orang yang mengejarnya telah pergi.
"Aman," ujarnya.
"Jika sudah aman, bisakah kamu menjauh dari tubuh atasanku?" tanya Dafa.
__ADS_1
"Oh, maaf. Aku bener-bener tidak tahu. Tapi ngomong-ngomong terima kasih sudah melindungiku. Beruntung sekali aku bertemu dengan kalian," ujarnya lagi.
"Apakah kamu sedang ketahuan mencuri?" tanya Alzam.
Wanita yang ada di sampingnya itu langsung menggelengkan kepalanya untuk menepis tuduhan Alzam.
"Bukan! Aku bukan pencuri. Enak aja wanita cantik seperti ini dikatakan pencuri. Aku lagi dikejar-kejar sama penagihan hutang. Bapakku punya hutang dan gak bisa bayar jadi mereka ngejar aku buat bayar hutang bapak.".
Alzam terdiam untuk sesaat. Dia menatap kearah Dafa. Sebenarnya Dafa tidak tahu kode apa yang diberikan Alzam, tetapi detik kemudian, Dafa pun memahaminya.
"Apakah kamu mau bekerja dengan kami? Kebetulan kami sedang mencari seorang sekretaris. Jika kamu mau, kamu akan mendapatkan gaji besar untuk melunasi hutang bapakmu, bagaimana?" tawar Dafa.
"Tapi aku tidak memiliki tamatan apapun. Hanya selembar ijazah SMP, apakah bisa?"
Dafa terdiam untuk beberapa saat. Dia memberikan isyarat kepada Alzam apakah wanita itu akan diterimanya. Alzam mengangguk pelan membuat Dafa terbelalak lebar.
"Yang benar saja, Pak?"
Alzam hanya melotot kearah Dafa, seketika Dafa mendengus pelan.
"Baiklah, tidak masalah. Siapa namamu dan berapa usiamu?" tanya Dafa.
"Namaku Melani, umur 17, status singgel belum boleh pacaran. Tinggal bersama dengan satu kakak dan satu ayah, karena satu kakakku sudah menikah dan ibuku menghilang dan ini KTP ku." jelas Melani panjang lebar dan mengambil sebuah KTP yang ada di dompetnya.
"Sudah cukup. Aku hanya menanyakan nama dan usiamu, bukan tentang keluargamu. Ini kartu nama bosku. Besok pagi kamu datang saja ke kantornya." Daffa menyerahkan sebuah kartu nama milik Alzam.
Tangan Melani segera menerima kartu nama itu dan segera membaca nama yang tertera.
"Alzam," gumamnya dan langsung menatap ke arah pria yang ada di sampingnya. Nama yang begitu familiar, tetapi dia tidak tahu apakah Alzam yang ada di depannya saat ini Alzam yang sama dengan pria kaya kenalan ibunya.
.
.
__ADS_1
.
Maaf ya kalau hari Sabtu dan Minggu upnya lelet kayak siput soalnya tugas negara numpuk 🙈