
Akhirnya setelah sekian purnama Alzam memendam hasratnya, kini bisa ia salurkan kembali kepada Melani, sang istri. Kali ini ia akan mendengarkan nasehat dari dokternya untuk mengakui perasaannya sendiri. Terlebih Melani memiliki sifat keibuan.
Alzam masih memeluk erat tubuh Melani dibawah selimut tebal. Permainan beberapa menit yang lalu membuat keduanya masih saling membisu. Semua berjalan lancar tanpa penolakan seperti yang Alzam bayangkan. Melani bersedia memberikan apa yang diinginkannya, meskipun dengan rasa gugup. Bahkan sampai saat wajah Melani masih terlihat bersemu.
"Mel, sampai kapan kita akan seperti ini?" tanya Alzam sambil membelai rambut Melani.
"Maksud Pak Alzam?"
"Kamu panggil aku apa?" Alzam menaikkan satu alisnya. Saat itu juga Melani baru menyadari jika mulai saat ini dia telah diminta untuk mengganti panggilannya. Dengan tawa kecil Melani pun meminta maaf karena dia lupa.
"Udah kebiasaan jadi agak susah. Tapi akan aku usahakan untuk memanggil dengan panggilan Mas Al, gimana?"
"Jangan bilang kamu pencinta sinetron, sehingga ingin menjadikan aku seperti artis idola kamu, bukan begitu?" tebak Alzam.
Melani tertawa pelan. Tebakan Alzam memanglah bener. Melani memang sangat mengidolakan salah satu aktor yang membintangi sebuah drama sinetron. Bahkan ia juga berharap jika Alzam bisa romantis seperti sinetron yang sangat ia gilai.
Cukup lama keduanya masih nyaman dalam posisi yang sama. Bahkan tanpa rasa malu, Melani merapatkan tubuhnya serta memeluk pinggang Alzam. Ia merasa enggan untuk bangkit.
"Apakah kamu tidak merasa lapar?" tanya Alzam yang merasakan cacing di perutnya sudah mendemo.
"Sepertinya hari ini aku tidak akan merasa lapar jika kita terus bisa seperti ini, Mas," ujar Melani dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
"Tapi aku harus juga bekerja. Nanti malam lagi ya?" tawar Alzam.
Meskipun terasa berat tetapi Melani mengikuti tawaran Alzam. Penantinya selama ini telah berbuah manis sampai-sampai ia tidak rela untukmu ditinggalkan Alzam. Namun, ia juga tak boleh egois dengan perasaannya sendiri. Bagaimanapun suaminya juga harus bekerja.
"Ya udah kita mandi ya. Abis itu kita keluar cari sarapan."
Siapa yang menyangka jika ritual mandi akan membutuhkan waktu hampir 1 jam. Bahkan Melani tidak memikirkan apa yang akan dilakukan oleh Alzam ketika ia mengajaknya untuk mandi bersama. Ternyata ada ritual lain yang mereka lakukan dalam kamar mandi.
🥕🥕🥕
Beruntunglah Melani bisa meluluhkan hati Alzam yang keras. Bahkan selama ini pria dingin itu belum pernah menunjukkan sifat hangatnya kepada siapapun termasuk kepada Zahra dan juga Aira. Hanya dalam hitungan jam Alzam mampu menghujani Melani dengan kasih sayangnya.
Sesuai dengan janjinya, setelah mandi mereka akan mencari sarapan di luar, karena memang Alzam belum memiliki stok bahan makanan untuk diolah.
__ADS_1
Selama perjalanan tak hentinya bibir Melani terus mengembangk saat mengingat ritual yang baru saja mereka lakukan. Awalnya memang terasa sakit tetapi lama-lama Melani malah menikmatinya. Dengan kebodohannya ia juga mende.sah layaknya seorang wanita malam yang haus akan belain.
"Kenapa senyum-senyum sendiri? Apakah kamu masih membayangkan ritual tadi? jika tidak mengingat pekerjaanku, mungkin aku akan membuatmu mende.sah berkali-kali," ujar Alzam sambil melirik ke arah Melani.
Pipi Melani seketika terasa panas. Pengalaman pertama untuknya yang tak akan pernah bisa dilupakan begitu saja, meskipun keduanya sempat mengalami kendala saat ingin melakukan peluncuran karena jalanan yang masih sempit.
"Gak usah dibahas kenapa Pak—" Saat itu juga memang langsung menutup mulutnya mulutnya yang sudah terbiasa memanggil Alzam dengan sebutan Pak.
"Sepertinya lidahmu sudah terbiasa dengan sebutan itu. Tidak apa-apa lah yang penting kamu suka dan bahagia. Karena saat ini kebahagiaanmu adalah tanggung jawabku sepenuhnya."
Malani benar-benar sangat terharu dengan ucapan Alzam yang terasa mustahil untuknya. Tetapi karena Melani yakin akan kekuatan doa, maka tidak mustahil baginya jika ia bisa membuat Alzam membalas perasaan.
Sebelum berangkat ke kantor Alzam
mengajak Melani untuk sarapan di restoran.
Bahkan setelah itu, ia juga menyempatkan diri singgah ke supermarket untuk membeli beberapa kebutuhan yang akan diperlukan Melani.
"Nanti aku akan pulang lebih awal, jangan lupa kamu siapkan makan malam agar kita bersemangat lagi dalam melakukan pertarungan," kata Alzam saat menurunkan istrinya di depan rumah.
Alzam tersenyum tipis saat melihat wajah Melani yang sudah merah. Entah mengapa, menggoda Melani adalah kesukaannya saat ini.
"Ya udah, aku berangkat kerja dulu ya." Sebuah lambian tangan diarahkan kepada Melani sebelum menjalankan mobilnya lagi. Hari ini mood Alzam benar-benar sangat baik.
Sepanjang perjalanan menuju ke kantor, Alzam tak melepaskan senyum di bibirnya sambil mengingat bagaimana panasnya ritual yang baru dilakukannya. Bahkan dalam hati ia merutuki mengapa baru sekarang ia membalas perasaan Melani.
Namun, senyum itu berubah menjadi rasa tegang saat ia merasakan ada sesuatu yang keluar dari dalam hidungnya. Bisa dilihat cairan yang keluar dari hidungnya adalah darah. Alzam langsung mengusapnya menggunakan tisu.
"Kenapa keluar darah?" batin Alzam dengan menepis perasaannya.
Alzam yakin jika ini adalah salah satu efek penyakit yang ia derita. Apakah ini adalah pertanda jika usiaku sadah tidak lama lagi?
....
Sesampainya di kantor ia langsung menghubungi dokter Mada untuk menanyakan mengapa ia bisa mengeluarkan darah dari hidung, apakah itu pertanda jika usianya tidak akan lama lagi? Namun, dokter Mada berusaha untuk membuat pasiennya tidak berpikir macam-macam, meskipun itu memang salah satu pertanda jika penyakit yang diderita oleh Alzam sudah memburuk.
__ADS_1
Baru saja ia ingin merasakan sebuah kebahagiaan kecil, tiba-tiba ia harus ditampar dengan sebuah kenyataan, dimana kebahagiaan yang ia rasakan tidak akan bertahan. Dadanya terasa sesak ketika ia membayangkan bagaimana waktu itu akan tiba dan memisahkan dirinya dengan orang-orang yang ia cintai termasuk Melani dan juga Deena.
"Tidak! Aku tidak boleh menyerah. Aku harus tetap berjuang, demi Deena dan juga Melani, meskipun aku tahu waktu itu akan datang, cepat atau lambat. Tuhan, jika Engkau mengizinkan berikanlah aku kesempatan untuk membahagiakan Melani sebentar saja. Aku ingin menghapus setiap air mata yang telah ia keluarkan untuk menangisi kebodohanku. Berikanlah kesempatan kami berdua untuk merangkai sebuah keluarga kecil yang pernah menjadi impian kami."
..
Seperti janjinya tadi pagi, Azlam pulang lagi awal. Rasanya ia ingin segera memeluk tubuh Melani untuk mengeluarkan semua keluh kesahnya dan kekhawatirannya. Ia sangat takut jika waktu itu datang tetapi ia belum bisa memberikan kebahagiaan untuk Malani.
"Assalamualaikum." Sebuah kata salam diucapkan ketika ia masuk ke dalam rumahnya. Tak ada jawaban, tetapi Alzam melihat telah tersaji hidangan di atas meja makan.
"Mel, aku pulang," kata Alzam sambil memanggil nama Melani
Karena tidak menemukan keberadaan melalui, Alzam langsung menuju kamar. Ia sudah bisa menebak juga Melani ada di dalam kamar.
"Mel," panggil Alzam lagi.
Mata Alzam mengedarkan untuk mencari keberadaan Melani, tetapi tetap saja tak ditemukan. Hatinya sudah sangat khawatir, iya takut jika Melani diculik lagi. Namun, matanya fokus pada pintu kamar mandi. jika ia tidak menemukan keberadaan hewan di mana-mana, mungkinkah saat ini Melani ada di dalam kamar mandi?
Dengan cepat Alzam membuka pintu kamar mandi yang tidak dikunci. Matanya harus melotot lebar, bahkan untuk menelan ludahnya saja terasa sangat berat.
"Mela," ucapanya dengan detak jantung yang setelah bergerumuh.
.
.
.
🥕🥕🥕
BERSAMBUNG
Halo-Halo, sambil nunggu novel ini update lagi ambil dulu yuk ke novel teman aku judulnya WANITA PENGANTIN KEKASIH SANG CEO mampir ya
__ADS_1