
[ Bonus buat kalian ]
Kanna baru saja menerima telepon dari seseorang. Namun, saat melihat Zahra menghampirinya, Kanna segera mengakhiri panggilan teleponnya.
"Dari siapa, Mas?" tanya Zahra penasaran. .
"Dari kenalan aku yang tinggal disini. Dia mau ngajak kita ketemuan malam ini. Kamu nanti siap-siap, ya!"
Zahra hanya mengangguk pelan sebagai jawabannya.
Berada di dalam kamar mewah membuat Zahrah ingin terus ingin memejamkan matanya. Tak terasa sudah 2 jam Zahra tidur. Bahkan Kanna sama sekali tak membangunkan dirinya.
"Jam berapa, Mas?" tanya Zahra dengan mengucek matanya.
"Baru jam lima," jawab Kanna.
Zahra yang terkejut segera membulatkan matanya. "Apa? Kenapa mas Kanna gak bangunin aku," gerutunya.
"Aku tahu kamu pasti kelelahan, makanya aku biarin aja. Ya udah, mandi sana! Abis itu kita jalan-jalan sebentar," ajak Kanna.
Menikmati senja di kota impian membuat Zahra tak ingin menyia-nyiaka kesempatan emasnya. Dengan gawainya, Zahra tak melewatkan satupun momen untuk mengambil fotonya. Sepertinya usah Kanna sudah berhasil untuk membuat Zahra melupakan kesedihannya.
"Ra, kata temen aku ada restoran ala Indonesia lho, disini. Kita cobain yuk! Tapi agak jauh tempatnya. Kamu mau kan?" tanya Kanna dengan tatapan lurus kedepan.
"Gak masalah. Selagi kita berada disini, kemanapun pergi aku gak akan pernah menolaknya."
Setelah mendapatkan persetujuan dari Zahra, Kanna segera membawa Zahra untuk menuju ke restoran tersebut. Kanna sudah tidak sabar ingin segera sampai.
"Mas, temen kamu cewek apa cowok?" tanya Zahra tiba-tiba.
"Kenapa memangnya?"
"Gak ada. Cuma nanya aja sih," jawab Zahra pelan.
"Udah gak usah pikir macan-macam. Aku tahu apa yang kamu pikirkan."
Memang benar ucapan Kanna, tempat yang dituju ternyata agak jauh sehingga harus menggunakan waktu 30 menit dari tempat penginapannya.
Setelah sampai di tempat yang dituju, Kanna segera membukakan pintu mobil untuk Zahra. Bak pasangan baru menikah Kanna memperlakukan Zahra. Dia menggandeng tangan Zahra saat memasuki sebuah restoran yang menyajikan makanan Indonesia.
"Kita tunggu disini dulu ya," kata Kanna yang kemudian menarik sebuah kursi untuk Zahra.
"Lama gak, Mas?"
Kanna melihat arloji yang melingkar dipergelangan tangannya. "Bentar lagi juga sampai. Sabar dulu ya!" Kanna sudah tidak sabar untuk bertemu dengan seseorang yang pasti akan membuat Zahra bahagia.
__ADS_1
Sudah dua bulan terakhir Kanna berusaha keras untuk menemukan keberadaan Alzam Melewati beberapa orang suruhannya, akhirnya Kanna menemukan dimana Alzam berada. Menurut informasi terakhir yang dia dapatkan, saat ini Alzam sedang berada di Paris.
"Sabar ya. Mungkin masih dijalan orangnya," kata Kanna.
"Iya Mas, gak papa kok."
Mata Kanna tak lepas dari pintu masuk. menurut informasi yang didapatkan, Alzam pasti akan membawa Deena ke restoran ini untuk makan malam.
"Ya Allah semoga saja mereka datang," batin Kanna.
"Mas, aku ke toilet dulu ya." Zahra beranjak dari tempat duduknya.
"Oke. Jangan lama-lama ya!"
Setelah Zahra berlalu, Kanna segera menghubungi orang suruhannya untuk menanyakan mengapa sampai saat ini Alzam belum juga nongol.
"Anda sabar lebih dahulu, Tuan. Sepertinya sedang terjadi sesuatu kepada pria itu. Tapi, aku pastikan jika dia akan datang karena Deena tidak akan mau makan jika tidak makan makanan Indonesia, Tuan. Jadi, bersabarlah untuk sebentar saja."
Kanna segera menutup panggilan telepon saat matanya telah menangkap orang yang sudah dia tunggu sejak tadi. Langkah bocah yang selama ini dia rindukan, kini bisa dia lihat dari jarak jauh.
Kanna tak ingin membuang waktu. Dia segera menghampiri dua orang yang sedang mencari tempat duduknya.
"Deena," panggil Kanna dengan gemetar.
Mendengar namanya dipanggil, Deena segera menoleh kebelakang. Bocah itu sangat terkejut saat melihat sosok Kanna ada di depan matanya. "Papa ....!" Deena segera turun dari tempat duduknya lalu menghambur ke dalam pelukan Kanna.
Deena yang sudah berada dalam gendongan Kanna langsung dihujani ciuman.
"Kamu gak mimpi, Sayang. Ini Papa, Nak. Papa sama mama merindukanmu," ujar Kanna dengan rasa haru.
Alzam yang melihat Kanna ada di depan matanya membuat dia sangat terkejut. Bahkan Alzam tertegun untuk beberapa saat.
"Lepaskan dia!" Kini Alzam yang tersadar berusaha untuk mengambil Deena yang berada dalam dekapan Kanna.
"Kamu tidak berhak untuk memeluk anakku!" sentak Alzam.
"Alzam tenang! Kita bisa bicara baik-baik."
Tidak berapa lama, Zahra yang baru saja kembali dari toilet merasa terkejut saat tak mendapati Kanna di meja makannya.
Matanya mengedar untuk mencari keberadaan Kanna. Satu obyek dia tangkap. Sosok Kanna yang sedang menggendong bocah yang terasa familiar untuknya. Saat menggeser pandangannya lagi, ada sosok Alzam.
"Deena," gumam Zahra. Diapun segera menuju ke meja tersebut.
"Deena," panggil Zahra dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
Deena segera mendongak saat mendengar suara yang sangat dia rindukan. Dengan pelan, Kanna menurunkan Deena agar bisa memeluk ibunya.
"Mama ... Deena kangen sama Mama," isaknya dalam dekapan mamanya.
"Mama juga kangen, Sayang. Kangen sekali." Zahra yang tak sanggup lagi untuk membendung air matanya, langsung menumpahkan begitu saja saat dia bisa memeluk tubuh Deena, anak yang sangat dia rindukan.
"Sayang, selama ini kamu ke mana saja, Nak. Apakah kamu baik-baik?"
"Deena baik-baik saja, Ma. Deena mau ikut malam pulang. Deena gak mau ikut papa Alzam. Dia jahat, Ma!"
Mata Zahra segera menatap Alzam yang hanya memperhatikannya dalam diam.
"Aku gak nyangka jika kamu itu adalah Pria licik, Mas! Aku menyesal percaya akan ucapanmu! Hak asuh Deena sudah berada di tanganku. Jika kamu masih bersikeras untuk memiliki Deena, aku akan ambil tindakan tegas. Aku tidak melaporkan mu pada pihak yang berwajib, Mas!" ancam Zahra dengan geram.
Zahra tidak menyangka jika dia bisa bertemu dengan Deena ditempat ini. Sama seperti Kanna sebelumnya, Zahra terus menghujani ciuman kasih sayang kepada anaknya.
"Sudah cukup kan? Sekarang kembalikan Deena padaku," ujar Alzam dingin.
Kanna dan Zahra saling bersitatap saat mendengar ucapan Alzam.
"Kalian dengar kan, apa yang aku katakan! Jangan paksa aku menggunakan kekerasan lagi!" lanjut Alzam lagi.
"Maksud kamu apa, Mas? Deena itu anak aku. Dia akan ikut aku pulang!"
"Tidak bisa! Deena adalah anakku Sampai kapanpun dia akan tetap ikut bersama denganku!" Alzam bersikukuh keras dengan keinginannya.
Deena hanya bisa menutup telinganya saat kedua orang tuanya sedang memperebutkan dirinya. Setelah melepaskan diri dari pelukan mamanya, Deena memilih untuk masuk ke dalam pelukan Kanna.
"Aku tidak mau ikut dengan mama dan papa. Aku hanya mau ikut dengan papa Kanna," teriak Deena, yang kemudian membungkam Zahra dan juga Alzam.
"Tidak Dee! Kamu anak Papa jadi kamu harus ikut bersama dengan papa!"
"Deena tidak mau!" teriak Deena.
"Oke jika kamu tidak mau ikut dengan papa, maka sebagai gantinya Mama kamu yang harus ikut dengan papa untuk menggantikanmu!" tegas Alzam.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Makasih yang udah kasih komentar. Kalian semua luar bisa. Kecup basah dulu 😘😘