
"Dee, kamu ngomong apa? Itu tidak mungkin, Sayang," ujar Alzam sambil menatap kearah anaknya.
Deena terdiam untuk beberapa saat. Bukan Deena tidak menyayangi Kanna, tetapi dia juga tidak tega saat melihat papanya merasa kesepian. Seharusnya kedua orang tuanya tidak berpisah dan hidup bahagia bersama. Deena menyayangi mereka berdua, meskipun saat itu sempat tidak menyukai Alzam. Namun, selama satu tahun Deena tinggal bersama dengan Alzam, membuat bocah itu merasa nyaman dengannya. Terlebih Alzam juga sangat menyayanginya.
"Tapi Deena hanya ingin papa tidak sendiri dan kesepian," ujar polos bocah lima tahun itu .
Karena saat ini Alzam berhenti di tengah jalan, dia pun segera menentukan mobilnya ke pinggir agar tak menghalangi kendaraan lainnya. Kali ini Alzam harus kukuh dengan pendiriannya dan harus bisa memberi pencerahan untuk anaknya.
"Dee, dengerin papa baik-baik. Tidak ada satu orang pun yang tidak menginginkan hidup bahagia bersama keluarganya. Maafkan atas kebodohan Papa yang pernah menyia-nyiakan mama kamu. Papa memang pantas mendapatkan hukuman seperti ini. Luka yang pernah Papa berikan untuk mama kamu sebenarnya tidak bisa dimaafkan. tetapi karena kebaikan mama kamu dan juga papa Kanna mereka dengan lapang memaafkan semua kebutuhan Papa. Papa sudah ikhlas menjalani semua ini. Saat ini yang terpenting untuk Papa adalah masa depan dan kebahagiaanmu. Jangan pikirkan tentang kesendirian Papa. Sampai kapanpun Papa tidak akan pernah bisa kembali bersama dengan mama kamu, karena mama kamu sudah mendapatkan orang yang tepat yaitu papa Kanna yang juga sangat menyayangimu, bukan begitu?"
Deena masih terdiam. Apa yang diungkapkan oleh Deena karena ada sebabnya. Saat berada di sekolahnya Deena pernah diejek oleh salah satu temannya yang mengatakan jika Deena punya ayah tiri. Ada yang mengatakan jika ayah tiri itu sangat jahat karena telah memisahkan dia dengan ayah kandungnya. Ada pula yang mengatakan jika ayah tiri hanya berpura-pura menyayanginya di depan ibunya, bahkan dia hanya akan sayang kepada adik-adiknya, tidak kepada dirinya.
"Tapi papa Kanna udah jahat. Dia udah memisahkan Deena dengan Papa," celoteh Deena dengan polos.
Alzam mende.sah pelan. Sulit untuk menjelaskan kepada Deena apa yang telah terjadi sebenarnya, karena Alzam menganggap Deena masih anak-anak dan tidak akan pernah paham dengan masalah yang ada.
"Bukan papa Kanna yang yang jahat, tetapi Papa-lah yang jahat, Sayang. Jika kamu ingin marah, mara-lah dengan Papa, karena Papa yang menyebabkan mamamu meninggalkan Papa. Papa mohon ini adalah kali pertama dan terakhirnya Deena meminta Papa untuk kembali kepada Mama. Deena bebas minta apa saja akan Papa kabulkan tetapi tidak untuk kembali kepada Mama kamu."
Sepanjang perjalanan Deena hanya terdiam setelah keinginannya tidak dikabulkan oleh Alzam. Bukan dia tidak menyayangi papa sambungnya, hanya saja Deena tidak bisa bahagia saat papa kandungannya terkurung dalam kesendiriannya.
Sesampainya di rumah Alzam, Deena segera dibawa masuk ke dalam. Rumah yang cukup luas yang hampir sama dengan rumahnya.
__ADS_1
"Ini rumah papa juga rumah kamu. Kamu berhak untuk atas rumah ini, karena kelak semua yang Papa miliki akan menjadi milikmu," ujar Deena.
Mata Deena menyorot setiap sudut ruangan yang ada. Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah bingkai yang menempel di sebuah dinding. Foto seorang wanita bersama dengan papanya, tetapi saat diperhatikan itu bukan foto mamanya.
Alzam yang sadar akan pandangan mata Deena segera mengambil foto itu untuk diberikan kepada Deena.
"Ini ada orang yang sangat papa cintai saat itu. Bahkan demi dia papa rela menikahi mamamu agar bisa melahirkan seorang anak. Dia adalah Aira, istri Papa. Kamu pasti akan sangat membenci Papa ketika kamu mengetahui fakta yang sebenarnya." Alzam membuang napas beratnya.
"Maksud Papa?" tanya Deena ingin tahu.
Alzam segera membawa Deena ke sebuah sofa. Dengan berat dia pun menceritakan sepenggal kisah masa lalunya yang sangat buruk. Bahkan dada Alzam terasa sesak saat menceritakan perlakuannya Zahra saat itu. Meskipun sudah 6 tahun berlalu tetapi, setiap waktu yang sudah dilewati bersama dengan Zahra tak akan pernah terhapuskan dari memorinya.
Pernah berharap menginginkan Zahra dan Deena sepenuhnya. Bahkan Dia sempat membawa Deena keluar negeri agar Zahra kembali padanya. Akan tetapi, pria tangguh dan penuh tanggung jawab memperjuangkan mereka. Alzam kalah dan tak bisa melawan lagi.
"Sekarang Kamu tahu kan jika yang jahat itu adalah Papa?" tanya Alzam setelah memberikan sepenggal kisah masa lalunya.
Deena terdiam untuk beberapa saat. Ada rasa sesal dalam hatinya telah berburuk sangka kepada Kanna. Ternyata Kanna tidak memisahkan dia dengan ayah kandungnya, tetapi apakah ayahnya sendiri yang telah mencampakkan mamanya. Dengan mata berkaca-kaca Deena menatap Alzam.
"Mengapa Papa begitu jahat kepada Mama? Apakah Papa tidak kasihan kepada Mama?"
Kali ini giliran Alzam yang terdiam. Untuk kali ini dia tidak bisa menjelaskan apa-apa kepada Deena, karena saat itu Alzam adalah orang bodoh.
__ADS_1
"Maafkan Papa, Sayang."
Awalnya Deena menginginkan kedua orang tuanya bersatu kembali. Namun, setelah mendengar cerita dari Papanya, Deena tidak tertarik lagi untuk menginginkan mereka bersatu. Ternyata apa yang dikatakan oleh orang lain belum tentu akan benar. Mereka hanya melihat dari luarnya saja dan menyimpulkan dari beberapa kasus yang ada.
"Maafkan Deena yang tak mengerti akan masalah kalian, Pa. Deena berjanji ini adalah terakhir kalinya Deena meminta Papa kembali kepada Mama. Kedepannya jika Papa masih mempunyai niatan untuk berbuat jahat kepada mama, Deena tidak akan tinggal diam. Deena tidak mau mengenal Papa lagi."
Alzam tersenyum kearah Deena dan langsung memeluk tubuh mungil itu. Meskipun tidak bisa memiliki Deena sepenuhnya, tetapi setidaknya dia diberi kesempatan untuk ikut merawat tumbuh kembang Deena.
"Baiklah. Sekarang Deena mau makan apa biar Papa buatkan?"
"Deena mau nasi goreng nugget."
Alzam pun mengiyakan permintaan Deena. Hanya sebuah nasi goreng bagiannya adalah masakan yang paling gampang, karena hampir setiap hari Alzam memasaknya. Ternyata selera keduanya sama, menyukai nasi goreng
Saat Alzam sedang memasak dia menyuruh Deena untuk menunggunya di ruang tengah. Karena merasa bosan Deena memutuskan untuk melihat-lihat rumah apanya.
Mata Deena bertujuan pada sebuah ruangan yang berbeda dari yang lainnya. Sebuah pintu yang memiliki kunci berbeda. Deena penasaran dengan kamar tersebut, mengapa pintu kamar itu bisa lain daripada yang lain.
"Kok pintunya beda ya?" gumam Deena dengan rasa penasaran.
.
__ADS_1
.
Maap belum sempat edit 🙏