
Seperti yang dijanjikan oleh Kanna, kini Zahra bisa kuliah di tempatnya mengajar. Hari pertamanya menjadi seorang mahasiswa setelah memiliki anak tidaklah mudah.
Sebelum berangkat, Deena sempat membuat drama terlebih dahulu. Deena yang tiba-tiba ingin ikut dan tak mau ditinggal di rumah membuatnya harus mengelus dada. Namun, akhirnya Deena bisa luluh dengan bujukan Kanna dengan iming-iming akan mengajaknya ke pasar malam.
"Ra, di dalam kelas nanti kamu harus bisa menjaga pandangan. Meskipun kamu sudah menikah tetapi kamu masih muda dan cantik. Aku hanya khawatir setelah kamu kuliah, kamu akan melirik pria lain, terlebih sekarang aku sudah tidak muda lagi," ujar Kanna sebelum turun dari mobilnya.
"Mas Kanna ngomong apa sih? Aku bukan orang seperti itu. Aku tahu batasan dengan siapa aku harus bergaul. Mas Kanna Jangan khawatir. Justru aku yang takut dengan para wanita di luar sana yang terpesona denganmu. Bahkan feeling aku mengatakan jika ada beberapa mahasiswa yang memiliki hati kepadamu. Tapi aku percaya kepadamu, kamu bukan tipe pria yang akan menduakan hati." Kini giliran Zahra yang mengkhawatirkan Kanna.
"Berjanjilah untuk tidak goyah, meskipun badai dan rintangan itu menerpa hubungan kita."
Zahra mengangguk pelan sebelum menyalami tangan Kanna. Sebelum kecu.pan singkat pun juga mendarat di kening Zahra.
"Hati-hati ya," pesan Kanna sebelum Zahra turun.
Dengan jantung yang berdetak kuat, Zahra melewati koridor untuk menuju ke kelas sesuai dengan jurusannya. Banyak muda-mudi saling berbincang, tapi satu pun tak ada yang berniat untuk menyapa dirinya. Namun, sebelum menuju ke kelasnya, Zahra singgah sebentar ke ruang dosen.
"Semoga semua berjalan dengan lancar," batin Zahra.
Lima belas menit Zahra berada di ruangan salah dosen, akhirnya dia bisa bernapas dengan lega saat sang dosen mempersilahkan dirinya untuk keluar.
"Kamu tunggu saja, nanti pak Kanna yang akan menujukan kelasnya. Kebetulan dia adalah dosen materi hari ini."
Zahra hanya tersenyum tipis dan menganggukan kepalanya.
"Kamu tunggu saja di luar, nanti kalau Pak karena sudah keluar kamu ikut saja dia!" perintahnya lagi pada Zahra.
"Baik Pak. Terimakasih," ucap Zahra.
Zahra seperti kembali lagi pada masa mudanya, dimana dia akan bercengkrama dengan buku-buku tebal dan menjadi seorang pelajar.
"Sudah siap?" tanya Kanna yang membuat mata Zahra tidak berkedip. Hampir saja Zahra tidak mengenali sosok Kanna karena dia mengenakan kacamata.
"Sudah Pak," jawab Zahra dengan senyum yang melebar.
Zahra akhirnya mengikuti langkah Kanna dengan menahan tawa. Pesona Kanna saat di kampus ternyata sangat berbeda, bahkan nyaris tak ada senyum dibibir.
"Mas," panggilan Zahra pelan.
"Panggil Pak!"
__ADS_1
Zahra mengangguk pelan. "Baik Pak."
Hanya derap langkah yang terdengar. Awalnya Zahra ingin menggoda Kanna yang terlihat mempesona. Namun, saat melihat ekspresi yang dingin, Zahra mengurungkan niatnya.
"Ada apa?" tanya Kanna saat tak ada ucapan lagi dari Zahra.
"Tidak ada Pak. Hanya ingin memuji ketampanan bapak saja. Tetapi sepertinya saya salah. Saya takut istri bapak akan marah," jawab Zahra.
"Semoga kamu tidak lupa ingatan untuk menjaga pandanganmu. Disini banyak pria lebih tampan dari suamimu. Aku harap kamu bisa sadar jika kamu sudah menikah."
Zahra tidak habis pikir dengan sosok yang lemah lembut ternyata bisa lebih dingin sedingin es batu. Zahra menjadi teringat pada zaman putih abu-abunya. Dimana Kanna selalu bersikap dingin setiap harinya.
"Aku menjadi teringat akan beberapa tahun yang lalu ketika aku bertemu dengan seseorang yang hampir sama seperti bapak. Dia adalah kakak kelasku. Dia tampan dan juga disegani banyak orang. Bahkan dia juga dingin sehingga tidak banyak yang mau berteman dengannya. Andaikan saja waktu bisa diputar kembali, aku jatuh cinta kepadanya saat itu. Tapi sayangnya ... " ucapan Zahra dipotong oleh Kanna.
"Sudah sampai di kelas. Aku harap kamu tidak lupa pesan suamimu!"
Zahra hanya menatap punggung Kanna yang sudah masuk lebih awal.
"Ya Allah, ternyata mas Kanna masih sama seperti jaman sekolah, dingin," batin Zahra.
🍂🍂🍂
Mbak Yani selaku asisten rumah tangga, tidak berani untuk membawa Deena keluar tanpa seizinn dari majikannya.
"Mbak Yani, katakan sama papa jika aku ingin keluar jalan-jalan. Jika papa tidak mengizinkan aku akan tetap pergi," kata Deen pada salah seorang asisten rumah tangga.
Dengan patuh mbak Yani segera mengirim pesan kepada Kanna sesuai dengan keinginan Deena.
Tidak lama balasan dari karena pun masuk ke ponsel miliknya. Beruntung saja Kanna menyetujui keinginan Deena.
Deena memang anak yang pintar. Dia memilih meminta izin kepada Kanna ketimbang pada mamanya. Karena dia sudah tahu jawaban apa yang akan diberikan mamanya jika dia meminta izin padanya.
"Tuh kan ... dapat izin kan? Ya udah aku ambil Calline dulu ya, Mbak." Deena pun berlari kecil ke arah kamarnya untuk mengambil Deena.
"Call, akhirnya kita bisa jalan-jalan keluar. Kamu bilang mau tunjukin sesuatu padaku. Ayo, mumpung mama sama papa gak ada di rumah," kata Deena pada boneka kesayangan.
"Jadi kita pergi kemana?" tanya Deena.
Deena hanya mengangguk saat boneka Calline menyebutkan tempat mereka akan pergi.
__ADS_1
Mbak Yani yang semula merasa aneh kepada Deena akhirnya biasa saja saat mendengar penjelasan dari Zahra jika Deena memiliki kemampuan melihat secara khusus. Mata Deena bisa melihat makhluk yang tidak bisa dilihat dengan mata biasa.
"Jadi kita akan kemana?" tanya mbak Yani.
"Ke taman aja, Mbak. Di sana lebih enak tempatnya," ujar Deena.
"Naik motor sendiri atau pesan taksi online?" tanya Mbak Yani.
"Naik motor sendiri aja deh, Mbak. Biar kita juga bisa singgah."
Mbak Yani pun akhirnya mengeluarkan sebuah motor matic milik Kanna. dengan perasaan hati yang sangat bahagia Deena segera naik dan meminta Mbak Yani untuk menjalankan motornya. Namun, saat berada di tengah jalan Deena mengatakan agar mbak Yani berhati-hati karena di depan sedang ada sebuah kecelakaan.
"Mbak kata Calline didepan ada sebuah kecelakaan. Mbak Yani hati-hati ya."
Dengan bulu kuduk yang berdiri semua, Mbak Yani mengiyakan permintaan Deena untuk berhati-hati. Benar saja saat sampai di sebuah simpang kendaraan sudah terlihat macet.
"Tuh kan bener kan kata Calline, mbak." Kata Deena yang ingin meyakinkan jika Celine bonekanya itu bisa bisa diajak berbicara dan bukan sekedar halusinasinya saja.
"Mbak Kata Calline korbannya masih di dalam mobil. Kita harus membantunya, mbak. Kasihan dia!"
Tanpa menunggu lama, Deena turun dari mobil dan mendekat ke kerumunan yang ada.
"Calline, kita harus bagaimana?" tanya Deena pada bonekanya.
"Aku tidak mempunyai telepon," ujar Deena lagi.
Meskipun masih bocah, tetapi keberanian Deena luar biasa. Dia mencoba untuk membelah keramaian yang hanya sibuk menonton dan mengabadikan kecelakaan tersebut.
Dengan batu yang ada di tangannya, Deena segera memecahkan kaca mobil. Terlihat seorang pria sudah tak sadarkan diri dengan darah mengalir dari kepalanya.
"Kenapa kalian semua hanya melihatnya? Cepat tolong dia! Selamatkan dia!" teriak Deena pada kerumunan yang ada.
.
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG