Belenggu Pernikahan Semu

Belenggu Pernikahan Semu
113 | Sebuah Kesepakatan


__ADS_3

Sesuai dengan permintaan Alzam, Melani dengan sabar menunggu Deena di sekolahnya. Rasanya memang bosan, tetapi itu adalah bentuk perjuangannya untuk bisa membuka gembok di hati Alzam.


Untuk mengusir kebosanannya, Melani memilih untuk memainkan ponselnya. Sudah beberapa hari dia tak berselancar ke akun sosial medianya. Baru saja dia ingin mengambil ponselnya dari dalam tas, ternyata sudah bergetar dan mengambang nama bapaknya. Dengan dahi yang mengernyit Melani bergumam, "Bapak?"


Tangannya segera menggeser tombol yang berwarna hijau. Belum sempat Melani menyapa, sosok dibalik telepon itu sudah membuat Melani memijat kepalanya.


"Bapak jangan berlebihan, deh. Aku gak mau!" tolak Melani setelah mendengar kata dari seberang ponselnya.


Penelepon yang tak lain adalah bapaknya sendiri meminta agar Melani meminta uang kepada Alzam untuk membayar sebagian hutangnya, tetapi Melani tidak mau.


"Kamu jangan jadi anak durhaka, ya! Suamimu itu kaya! Uang 10 juta itu tidak ada nilainya. Pokoknya bapak tunggu kabar baiknya besok pagi!"


Melani hanya mengelus dada ketika sambungan ponsel telah terputus. tidak mungkin Melani sanggup untuk meminta uang kepada Alzam untuk membayar hutang bapaknya. Sementara saat ini Melani sendiri sedang berjuang untuk meluluhkan hati pria egois itu. Apa jadinya jika belum berjuang saja Melani sudah meminta uang. Yang ada dirinya hanya akan terlihat buruk di mata Alzam.


"Ya Allah, apakah aku akan menjadi anak durhaka jika tidak menuruti perintah bapak? Tapi aku bener-bener tidak bisa, sekalipun pak Alzam adalah suamiku. Aku tidak ingin pak Alzam menganggapku sedang memanfaatkan dirinya." Melani mende.sah pelan dengan rasa sesak didalam dadanya.


Moodnya kali ini sudah hancur karena permintaan bapaknya yang tak tahu diri. Jika bisa memilih Melani ingin meninggalkan pria pemabuk dan penjudi itu seperti ibunya, tetapi dia masih memiliki hati.


Bukan tidak lelah untuk menghadapi seorang ayah yang selalu membebani anaknya dengan hutang-piutangnya, tetapi Melani tak sanggup untuk melihatnya hidup sebatang kara. Namun, semakin hari bukannya semakin sadar akan melakukannya malah semakin parah. Hampir setiap hari Melani harus dikejar-kejar rentenir untuk menagih hutang bapaknya. Apakah masih berdosa juga Melani tak menuruti perintahnya?


Melani hanyut dalam lamunannya, tetapi dia tersentak oleh seseorang yang menyapanya.


"Mela?" sapa seseorang yang mengenali Melani.


Melani langsung mendongak untuk melihat siapa yang sudah menyapa dirinya. "Adam?" Melani terkejut saat orang yang menyapa dirinya adalah Adam, pria yang sempat dekat dengan dirinya.


"Kamu ngapain disini?" tanya Adam yang tak menyangka bisa bertemu dengan Melani.

__ADS_1


"Aku ... " Melani tak tahu harus menjawab apa.


"Oh iya aku lupa. Kamu pasti lagi nungguin anak kakak kamu kan?" tebak Adam.


Ya, memang benar jika Melani sedang menunggu anak kakaknya, tetapi saat ini lebih tepat dengan anak sambungnya, karena Melani telah menikahi mantan suami kakaknya.


"Kamu kok gugup gitu, sih Mel? Lagi agak enak badan?"


"Gak kok cuma kaget aja liat kamu ada di sini. Kamu ngapain disini?" tanya Melani untuk mengalihkan pembicaraan.


"Aku juga lagi lagi jemput ponakan aku. Kok bisa kebetulan kayak gini ya? Jangan-jangan kita emang berjodoh deh," kata Adam dengan sedikit bercanda kepada Melani.


Melani tersenyum canggung saat Adam melemparkan candaan kepada dirinya. Melani dan Adam memang sudah berteman lama tetapi karena latar belakang keluarga Melani yang amburadul, orang tua Adam melarang keras anaknya bergaul dengan Melani. Namun, sebagai anak remaja Adam tak mendengarkan larangan orang tuanya, karena yang dia inginkan hanyalah kenyamanan saat berteman dengan seseorang.


"Kamu kemana aja gak pernah nongol di cafe lagi? Kamu udah berhenti kerja ya?" tanya Adam yang merasa penasaran karena seperti kehilangan jejak Melani yang hilang secara tiba-tiba. Bahkan nomor teleponnya pun tidak bisa dihubungi.


"Aunty, sebelum pulang kita pergi ke toko buku ya. Deena mau dibeliin buku princess seperti punya Aluna," ujar Deena dengan napas ngos-ngosan karena dia berlari.


"Boleh. Tapi kita izin dulu sama papa, ya. Biar nanti kita gak dicariin," saran Melani lembut.


"Siap Aunty," balas Deena sambil melihat pada Adam yang duduk disampingnya. "Dia siapa?"


"Oh ini temen Aunty. Kenalin dulu ini namanya om Adam."


Deena menatap Adam dengan tatapan tidak suka karena dia terlihat sok akrab dengan Aunty-nya, terlebih pria itu lebih tampan dan lebih muda daripada ayahnya. Deena yang sudah mampu berpikir dewasa bisa menyimpulkan jika pria yang ada disamping Aunty-nya memiliki perasaan suka pada Aunty-nya.


"Lho, kok malah diam? Kenalan dong," bujuk Melani saat Deena acuh pada Adam. Karena tak ada respon dari Deena akhirnya Melani meminta maaf kepada Adam atas sikap Deena yang tidak membuatnya nyaman.

__ADS_1


"Aku bener-bener minta maaf ya Dam, kata sikap Deena. Sebenarnya dia anak baik kok, mungkin moodnya lagi gak baik."


"Gak papa. Aku juga tahu karena aku juga punya ponakan."


"Aunty, ayo cepat!" Tangan Deena telah menarik paksa tangan Melani agar segera meninggalkan sekolahnya.


Melani hanya pasrah dengan sikap Deena yang tidak seperti biasanya. Sebagai orang tua Melani hanya bisa memaklumi jika saat ini mood Deena sedang tidak baik.


"Aunty gak boleh dekat dengan om tadi!" ketus Deena dengan bibir yang sudah mengerucut.


"Lho, kenapa, Sayang?" tanya Melani dengan mengernyit.


"Deena gak suka!"


Melani tidak tahu mengapa Deena tidak menyukai Adam. "Baiklah, jika Aunty tidak boleh dekat dengan om tadi, Deena harus bantuin Aunty dong," kata Melani kedua mata yang mengedip.


"Bantuin apa, Aunty?"


"Deena harus bantuin Aunty untuk deket sama papanya Deena. Kan papa Deena gak suka sama Aunty, jadi tugas Deena adalah membuat papa Alzam suka sama Aunty. Kalau papa Alzam udah suka sama Aunty, Aunty janji gak akan deket-deket lagi sama om tadi, bagaimana?" bujuk Melani penuh harap.


"Kalau Papa nggak suka sama Aunty, kenapa Papa mau menikah dengan Aunty?"


Sebenarnya pertanyaan yang mudah untuk dijawab tetapi, Melani tidak bisa menjelaskan kepada Deena mengapa dia bisa menikah dengan papanya. Rasa sesak ketika harus menjawab jika pernikahan keduanya terjadi karena kesalahpahaman saja.


"Aunty kok malah diam sih? Iya, nanti Deena bantuin, tapi Aunty harus berjanji tidak boleh meninggalkan papa? Kasihan dia gak punya teman di rumah.".


"Jelas tidak dong, Sayang."

__ADS_1


Setelah Deena sepakat untuk membantunya hati Melani serasa Melayang. Jarang-jarang ada anak tiri yang mau diajak kompromi, terlebih untuk mendekatkan papanya. Beruntung saja Deena tidak memiliki pikiran buruk tentangnya. Dalam hati dia sangat bersyukur ketika Deena mau menerima dirinya dan meminta agar dia tidak meninggalkan Papanya.


__ADS_2