
Alzam tak bisa menolak ketika Melani meminta izin untuk keluar sebentar. Setelah Melani berlalu ia pun bertanya kepada Kanna apa yang sebenarnya sedang terjadi sehingga Melani terlihat sangat khawatir. Karena Kanna tidak ingin menyembunyikan sesuatu dari Alzam ia pun menceritakan apa yang sedang terjadi.
Alzam merasa sangat kecewa kepada dirinya sendiri ketika ia tidak bisa membantu Melani ketika sedang sangat uluran tangannya.
"Kamu tenang saja, aku yakin Melani pasti bisa menyelesaikan masalah ini, karena dia adalah wanita yang kuat. seharusnya kamu bangga bisa menikah dengan Melani. Meskipun dari segi usia masih terlalu muda, tetapi dalam pemikiran dia sudah sangat dewasa. Tolong jangan sia-siakan dia, Zam!" Kanna memberikan sedikit kepada Alzam.
"Tanpa kamu beritahu, aku sudah tahu."
Seperti janjinya pada Melani bahwa saat ini Kanna akan menggantikan Melani untuk menunggu Alzam hingga wanita wanita itu kembali. Tak banyak kata yang terucap dari bibir Kanna. Ia hanya memperhatikan saat Deena berceloteh mengajak Alzam berbicara.
Sementara itu Melani sudah sampai di apartemen yang sebelumnya ia tempati. Namun, ternyata di sana ia tak menemukan keberadaan Naura. Sudah berulang kali iya berusaha untuk menghubungi kakaknya tetapi tetap saja tidak mendapatkan jawaban. saat ini ia benar-benar sangat khawatir dengan keadaan Naura. Tanpa pikir panjang ia segera menghubungi Arya.
Jika sampai terjadi sesuatu kepada Naura, maka satu-satunya orang yang ia salahkan adalah Arya.
"Halo om Arya." kata Melani setelah panggilannya diangkat oleh Arya.
Dari seberang sana Arya merasa terkejut dengan Melani yang tiba-tiba menghubunginya.
"Iya, Mel. Ada apa?"
"Apa yang sudah Om Arya lakukan kepada mbak Naura? Jika sampai terjadi sesuatu kepada Mbak Naura, orang pertama yang harus bertanggung jawab adalah Om Arya." kata Melani dengan air mata yang sudah ia teteskan.
Di balik seberang telepon sana Arya masih terdiam tanpa kata saat mendengar isak tangisnya Melani.
"Om, aku mohon tolong bertanggung jawablah dengan apa yang telah ia lakukan kepada Mbak Naura. Bukankah anak yang sedang dikandung oleh Mbak Naura itu tidak bersalah lalu mengapa dia harus menjadi korbannya , Om? Jika om Arya masih bersikeras menyuruh Mbak Naura untuk menggugurkan kandungannya, om Arya benar-benar tidak punya hati nurani sebagai seorang ayah."
Setelah mengucapkan kata unek-uneknya, Melani segera menutup panggilan telepon. Ia berusaha untuk menghubungi Naura kembali, berharap sang kakak mau mengangkat teleponnya.
Melani tak putus asa meskipun setiap panggilannya tak dijawab. Ia juga terus mengirimkan pesan agar dibaca oleh Naura, berharap sang kakak masih memiliki sedikit hati untuk tidak menggugurkan bayi yang tidak bersalah.
Baru saja Melani ingin keluar dari kamar apartemen, tiba-tiba seseorang Naura datang dan langsung menghambur ke dalam pelukan Melani.
"Mela .... " isaknya dalam tangisan Melani.
Melani pun langsung membalas pelukan Naura dan mencoba untuk menenangkan hati sang kakak.
Seperti tak ada beban dalam hati Melani saat ia dengan lembut memberikan sebuah nasihat kepada Naura agar tidak melakukan kesalahan terbesar dengan menggugurkan bayi yang sedang ia kandung.
"Tapi aku tidak akan kuat untuk menjalani semua ini seorang diri, Mel. Masa depanku sudah hancur. Aku yakin tak akan ada satu orang pun yang mau menikah denganku kelak, karena aku telah hamil tanpa seorang suami."
__ADS_1
Sebisa mungkin Melani terus meyakinkan Naura untuk tetap kuat. Bagaimanapun bayi tidak akan pernah bersalah sekalipun ia terlahir tanpa seorang ayah.
"Kamu harus kuat, Mbak. Aku akan selalu ada untukmu. Jangan pernah menganggap kamu tak memiliki siapa-siapa, karena saat ini kamu memiliki aku, Mbak Ara, mas Kanna dan juga mas Alzam. Mereka akan selalu ada untukmu, karena kita adalah keluarga."
Naura sangat terharu akan ucapan adiknya yang begitu dewasa. Tak salah jika semua orang akan terpikat. Selain cantik, ternyata Melani juga mempunyai hati yang sangat baik dan tulus.
Baru saja Melani masuk ke kamar mandi Melani sudah muntah-muntah dan mengatakan jika kamar mandinya terasa sangat bau. Padahal menurut Melani kamar mandi itu tidak bau, hanya saja ia memasang pengharum khusus untuk kamar mandi.
"Mel, kamu kenapa sih? Ini bukan bau busuk, tapi wangi aroma pengharum ruangan," kata Naura yang merasa heran saat Melani mengatakan jika kamar mandinya bau busuk.
"Aduh mbak, perutku kok semakin mual. Hueek .... " Saat itu juga Melani mengeluarkan isi dari dalam perutnya.
"Mel, kamu kenapa? Jangan bikin orang panik dong!"
Naura mencoba untuk memijat tengkuk Melani agar adiknya bisa leluasa untuk mengeluarkan rasa yang mengganjal di perutnya.
"Kamu gak papa?" tanya Naura lagi.
"Gak, Mbak. Mungkin aku cuma masuk angin."
"Ya udah. Aku buatkan teh dulu, ya."
"Mbak kayaknya aku nggak bisa lama-lama di sini, deh. Aku harus segera kembali ke rumah sakit, kasihan mas Alzam."
"Ya udah. Tapi aku nggak bisa nganterin kamu ya, nggak papa kan?"
Melani mengangguk pelan. Sebelum pergi ia juga berpesan kepada Naura agar tidak melakukan kebodohan dengan cara menyakiti bayinya.
🥕🥕🥕
Entah mengapa satu hari ini kepala Melani terasa pusing. Bahkan dari pagi ia belum menyentuh makanan untuk mengganjal perutnya. Bagaimana ia akan menyentuh makanan jika mencium aromanya saja ia sudah merasa mual.
"Aku nggak pernah sakit. Kalau sakit siapa yang mau mengurus mas Alzam," kata Melani yang mencoba untuk menguatkan dirinya sendiri.
Tak Butuh waktu lama Melani pun telah sampai di rumah sakit. Saat Melani masuk ke dalam ruangan Alzam, ia merasa terkejut karena tak mendapati Kanna dan juga Deena. Hanya ada Alzam seorang diri.
"Lho, Deena dan mas Kanna kemana, Mas?" tanya Melani saat mendekat ke arah Alzam.
"Mereka pulang karena mendapat pesan kalau Zahra sakit," ujar Alzam.
__ADS_1
Mata Alzam menangkap jika saat ini Melani sedang tidak baik-baik saja. Terlebih wajah juga sedikit pucat.
"Kamu sakit, Mel?" tanya Alzam yang mencoba untuk membelai wajah Melani.
Melani hanya menggelengkan kepalanya pelan. Ia mencoba untuk menyembunyikan apa yang ia rasakan karena ia tidak mau membuat Alzam menjadi khawatir.
"Aku gak papa. Mungkin hanya capek aja, Mas," kilah Melani.
"Gimana udah keadaan Naura sekarang?"
"Dia udah baik-baik aja, Mas. Aku juga udah memberikan pencerahan kepadanya untuk tidak berbuat konyol dengan menyakiti anaknya sendiri. Dan aku juga udah menghubungi om Arya untuk bertanggung jawab atas apa yang telah ia lakukan. Tetapi aku tidak tahu apakah dia mau bertanggung jawab atau tidak," jelas Melani dengan raut wajah lelahnya.
"Kamu nggak usah khawatir aku akan memastikan jika pria itu akan bertanggung jawab atas apa yang dilakukan."
"Mas, kamu baru aja sadar nggak usah mikiri macam-macam!"
Alzam tersenyum dengan menatap wajah Melani. Namun, tiba-tiba ....
Hueek ...
Melani segera bergegas ke kamar mandi. Ia mengeluarkan semua rasa yang mengobok-obok perutnya. Kali ini rasanya bener-bener sangat menyiksa karena tak ada lagi yang ia keluarkan, selain cairan bening.
Alzam hanya bisa melihat dan mendengar saat Melani muntah-muntah di kamar mandi. Saat itu juga pikiran Alzam langsung teringat pada Zahra saat itu. "Apakah saat ini Melani sedang hamil?" tanyanya pada diri sendiri.
Setelah Melani keluar dari kamar mandi Alzam masih menatap lekat pada istrinya. Tak ada yang berbeda, hanya saja saat ini wajah Melani yang terlihat sedikit pucat.
"Mel, kemarilah!"
.
.
...🥕🥕🥕...
...BERSAMBUNG...
HALO HALO SEKALI LAGI MENUNGGU NOVEL INI UPDATE KEMBALI MAMPIR DULU YUK KE NOVEL TEMAN AKU JUDULNYA PEWARIS UNTUK MUSUH mampir ya
__ADS_1