Belenggu Pernikahan Semu

Belenggu Pernikahan Semu
38 | Pertemuan Tak Sengaja


__ADS_3

Zahra sudah yakin jika Kanna dan juga Deena sedang bersekongkol untuk menyembunyikan sesuatu darinya. Bahkan Zahra sempat mendengar dengan jelas pertanyaan Deena untuk Kanna. Namun, keduanya sama-sama memilih enggan berterus terang.


"Apa yang sedang direncanakan mas Kanna?" batin Zahra setelah kepergian Kanna.


Saat dia ingin menghampiri Deena, seorang ART datang dan mengatakan jika keperluan dapur sudah menipis, terlebih susu Deena juga hampir habis.


"Baiklah, nanti kita belanja. Tapi sekarang aku mau urus Deena dulu," kata Zahra setelah mendapatkan laporan.


Zahra sudah tak menemukan keberadaan Deena di meja makan. Saat di panggil pun sudah tak menyahut. Zahra akhirnya mendatangi kamar Deena.


"Mama panggil-panggil, ternyata disini," kata Zahra dengan lembut.


Deena yang melihat kedatangan mamanya tak menghiraukan. Dia lebih fokus pada boneka barunya.


Semenjak dibelikan boneka oleh Uti-nya, Deena memilih menghabiskan waktunya di kamar bermain dengan bonekanya.


"Ada apa, Ma?" tanya Deena ketika mamanya lebih mendekat.


"Mama mau pergi ke supermarket, kamu mau ikut?"


"Deena di rumah aja sama Calline," tolak Deena.


Zahra mengernyit saat mendengar nama Calline. "Calline siapa?" tanya Zahra penasaran.


Deena pun langsung menujukan siapa itu Calline. Bukan hanya Celline yang dia tunjukkan, tetapi ada Vello dan juga Julio.


"Mama pikir siapa, ternyata boneka," ujar Zahra setelah diperkenalkan dengan boneka yang dibelikan oleh ibunya Kanna.


"Mereka bukan sembarang boneka, Ma. Mereka temen Deena."


"Ya udah kalau Deena gak mau ikut, Deena gak boleh keluar rumah, oke!" pesan Zahra.


"Siap Ma," balas Deena yang tetap fokus kepada boneka yang bernama Calline. Bahkan Deena Deena juga mengajak Calline untuk berda-da kepada mamanya.

__ADS_1


"Kata Calline, Mama jangan lama-lama. Kalau Mama lama nanti Mama akan bertemu dengan orang aneh," kata Deena yang membuat Zahra mengernyitkan dahinya.


"Kamu ini aneh-aneh, Dee. Mana ada boneka bisa berbicara. Sudahlah, mama mau siap-siap. Makin lama imajinasi kamu makin bertambah luas ya," kata Zahra yang kemudian berlalu meninggalkan kamar Deena.


"Tuh kan, apa kubilang. Mama gak bakalan percaya kalau kamu bisa bicara," kata Deena pada boneka yang bernama Calline.


"Tapi kenapa Vello sama Julio gak bisa bicara?" tanya Deena lagi pada boneka yang sedang dia sisiri.


"Oh, begitu," ucap Deena lagi.


🍂🍂🍂


Dengan ditemani seorang asisten rumah tangga, Zahra memilih supermarket yang dekat dengan jarak rumahnya. Meninggalkan Deena sendiri di rumah tak membuatnya tenang, tetapi dia juga harus ikut belanja karena ada beberapa kebutuhan Deena yang harus dia beli.


Sudah lama sekali Zahra tidak berbelanja sehingga dia sedikit merasa shock saat melihat daftar harga yang tertera.


"Ya ampun, mahal sekali," ujarnya saat melihat harga yang tercantum.


"Ini masih murah, Bu," timpal Yani, seorang asisten rumah tangga yang dia ajak belanja.


Zahra tak percaya, mengapa semua daftar harga sudah naik semua.


"Apakah aku terlalu lama bersemedi," gumamnya.


Lima tahun menghilang dari keramaian dan memilih menyembunyikan diri, ternyata dia tertinggal akan kemajuan jaman.


"Yan, kamu bawa dulu ke kasir, aku akan mencari sesuatu untuk Deena dulu," pesan Zahra dengan menyerahkan troly kepada Yani.


"Siap, Bu," jawab Yani.


Zahra pun segera menuju ke tempat buku dongeng. Sudah lama Kanna tak membelikan buku dongeng untuk Deena. Mata Zahra berbinar saat melihat buku bersampul snow white. Dengan cepat tangannya ingin mengambil buku itu, akan tetapi ada tangan yang ternyata sedang menginginkan buku itu.


"Maaf, aku yang duluan," kata Zahra yang langsung mengambil buku itu.

__ADS_1


Namun, detik kemudian buku itu terlepas begitu saja saat melihat siapa yang sedang berada disampingnya. Meskipun sudah ditimbun waktu, tetapi ingatan masih bisa merekam dengan jelas siapa orang tersebut.


"Ara?" lirihnya tak percaya.


Zahra masih membeku. Dia tidak percaya dia jika akan secepat ini dia bertemu dengan orang yang sudah memberinya luka mendalam.


"Kamu Ara 'kan?" ulang lagi.


Seketika Zahra tersadar dan segera mengelak. "Maaf kamu salah orang. Aku bukan Ara. Permisi!" Zahra berusaha untuk menghindar. Namun, dengan cepat tangan Alzam mencekal lengannya. "Aku ingin bicara!" ujarnya.


"Lepaskan! Aku bukan Ara. Kamu salah orang!"


"Tidak mungkin aku salah mengenali istriku."


Deg!


Jantung Zahra berdetak tak menentu saat dia mendengar kata istri yang keluar dari bibir Alzam.


"Sudah aku katakan jika kamu salah orang. Aku bukan Ara! Jika kamu masih bersikeras, aku akan berteriak!" ancam Zahra.


Seketika, tangan Alzam mengendur dan membiarkan wanita itu berlalu begitu saja. Alzam yakin jika wanita itu adalah Zahra.


"Aku tidak mungkin salah mengenali seseorang. Aku yakin jika dai adalah Zahra," batin Alzam.


Saat langkah Alzam ingin mengejar, matanya menangkap buku bersampul Snow white dibawah kakinya. Tangannya pun terulur untuk mengambilnya.


"Apakah buku ini untuk anakku? Apakah anakku berhasil dia lahirkan?"


Pertemuan tak sengaja ini membuat dada Alzam terasa sangat sesak. Apakah masih pantas dia disebut seorang suami? Apakah masih pantas dia disebut seorang ayah setelah apa yang dia lakukan kepada Zahra lima tahun yang lalu?


.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2