Belenggu Pernikahan Semu

Belenggu Pernikahan Semu
84 | Penjelasan Dokter


__ADS_3

...Suatu hari nanti kamu akan tahu bahwa cintaku melebihi segalanya. Kamu adalah rumah terindah untukku, selamanya kamu adalah bidadari surgaku....


Tidak ingin jatuh ke lubang yang sama, Kanna memantau Zahra dengan ketat. Bahkan Saat Kanna sedang mengajar, tiap 30 menit, Zahra wajib untuk memberinya kabar. Katakanlah saat ini Kanna alay berlebihan, tetapi itu semua dilakukan agar Kanna bisa mengetahui jika Zahra baik-baik saja.


Siang ini Kanna mendapatkan panggilan untuk ke rumah sakit karena ada sesuatu yang ingin di jelaskan. Hati Kanna semakin tidak tenang. Dia takut jika ada ada masalah dengan kandungan Zahra. Setelah jam mengajarnya habis, Kanna segera meluncur ke rumah sakit.


Debaran jantung sudah tak beraturan saat Kanna memasuki ruang dokter. Dia tidak tahu kabar apa yang akan disampaikan oleh dokter itu.


"Selamat siang, Dok," sapa Kanna setelah berada di depan meja sang dokter.


"Siang juga. Silahkan duduk!"


Kanna langsung mendaratkan tubuhnya di sebuah kursi. Dia melihat sang dokter masih membaca sebuah kertas yang ada di tangannya. Kanna yang bisa menelan kasar salivanya. Dia sudah yakin jika dokter akan menyampaikan masalah kandungan Zahra.


"Ada apa, Dok? Apakah ada masalah dengan kandungan istri saya?" tanya Kanna langsung tanpa basa-basi.


Sang dokter segera melepaskan kacamata yang bertengger di atas hidungnya dan menyerahkan kertas yang baru saja dia baca kepada Kanna.


"Ini apa, Dok?" tanya Kanna bingung.


"Sebelumnya saya minta maaf. Ini adalah keteledoran saya. Sebenarnya hasil pemeriksaan istri anda tertukar dengan salah satu pasien saya. Saya minta Minta maaf yang sebesar-besarnya," sesal sang dokter. "hasil pemeriksaan istri anda tidak ada masalah dengan kandungannya. Hanya saja ketika dia hamil lagi, kandungannya masih lemah karena beberapa faktor."


Kanna membuang napas beratnya. Beruntung saja Zahra segera hamil, jika tidak mungkin Kanna akan berpikir jika Zahra tak akan pernah bisa hamil lagi.


"Beruntung saja istri saya sudah hamil kembali. Jika tidak mungkin saya sudah menahan beban ini seorang diri, Dok," ujar Kanna lemas.


"Benarkah? Kalau begitu saya ucapkan selamat kepada anda. Baru beberapa bulan saja sudah menetas kembali. Semoga kali istri anda bisa menjaga kandungannya dengan baik. Jangan sampai hal seperti kemarin terulang kembali," pesan sang dokter.


"Iya, Dok."


Akhirnya Kanna bisa bernapas dengan lega. Dia tertawa kecil menatap kertas yang ada di tangannya. "Gara-gara kertas ini aku berpikir jika tidak akan pernah bisa untuk memiliki anak. Dasar dokter ceroboh!" gerutu Kanna sambil meninggalkan ruangan dokter itu.


🍂🍂🍂


Saat ini Zahra dan Deena sedang berada di ruang tengah. Dia sedang mengajari Deena untuk mewarnai sebuah gambar hasil karyanya. Diusianya yang sudah menginjak 5 tahun, Deena kepintaran dan kedewasaan Deena semakin bertambah. Deena juga semakin pintar untuk menyimpan perasaannya seorang diri.


Zahra takut jika kelak Deena tubuh menjadi anak yang menutup diri. Sebagai seorang ibu, Zahra tak ingin itu terjadi pada anaknya.


"Bu, ada paket." Tiba-tiba mbak Ida datang dan menyerahkan sebuah karakter kecil berwarna coklat.

__ADS_1


"Dari siapa, Mbak?" tanya Zahra.


"Gak tahu juga, Bu. Tapi paket ini ditujukan kepada Deena," kata Mbak Ida.


Zahra sekarang mengambil kotak yang berada di tangan Mbak Ida. Dia mencoba untuk mencari nama pengirimnya, tetapi memang tidak ada nama pengirimnya. Hanya tertera nama Deena.


"Dari siapa, ya?" gumam Zahra.


Deena yang mendengar percakapan kedua orang dewasa itu segera mendongak. dia melihat sebuah kardus di tangan mamanya.


"Apa itu, Ma?" tanya Deena.


"Gak tahu, Dee. Ini ada yang mengirim paket untukmu, tapi nggak tahu siapa pengirimnya."


"Jangan dibuka, Ma. Nanti kalau bom, gimana?" celoteh Deena.


Zahra berpikir dua kali lipat untuk membuka paketan itu. Karena acara takut, dia memilih menunggu Kanna untuk membukanya. "Kita tunggu papa pulang ya, baru kita buka."


"Iya, Ma. Deena takut itu kiriman dari orang jahat."


Kali ini ada benarnya juga ucapan Deena. Siapa tahu itu adalah kiriman dari orang jahat untuk mencelakai mereka. Karena saat ini keadaan sedang tidak baik-baik saja. Terlebih peristiwa yang menimpa Deena beberapa hari beberapa bulan yang lalu.


Satu hari ibu dan anak itu menantikan kepulangan Kanna. Zahra sudah tidak sabar untuk pesanan yang dia titipkan pada sang suami. Ini adalah kali pertama Zahra menginginkan sesuatu dan Kanna harus mendapatkannya. Jika belum dapet, Kanna dilarang untuk pulang.


Pesanan Zahra tidak sulit, hanya bebek panggang dan sate Padang.


Ditengah kota, untuk mencari bebek panggang harus menunggu malam tiba, karena biasanya itu adalah menu di sebuah warung lesehan. Sementara sate Padang, hanya dijual di tempat-tempat tertentu saja, tak seperti sate kacang yang akan keliling disekitar kompleks.


Karena Kanna belum pulang, Zahra segera mengirim pesan kepada sang suami dan menanyakan mengapa dirinya belum pulang. Padahal jadwal mengajarnya sudah habis sejak siang tadi.


[ Kok belum pulang, Mas? Bukannya waktu mengajar sudah habis? ]


Tak berselang lama pesan itu langsung mendapatkan balasan.


[ Bentar lagi ya, ini lagi nungguin bebeknya di panggang ]


Zahra yang membaca pesan Kanna tersenyum tipis. Ternyata Kanna benar-benar mencarikannya bebek panggang. Sejenak Zahra mengernyit, dan ingin tahu dimana dia membeli pesanannya tersebut.


[ Kamu beli dimana, Mas? ]

__ADS_1


[ Ditempat yang jualan bebek. Tunggu saja, sebentar lagi aku pulang ]


Zahra tak hentinya untuk mengembangkan senyum dibibirnyanya. Perasaan sangat bahagia. Baginya, Kanna adalah pria yang sempurna. Bukan hanya wajah saja tampan, tetapi hatinya juga baik dan penyayang. Dia bisa menyayangi Deena sepenuh hatinya, tanpa memandang Deena anak siapa.


"Mama kenapa tersenyum sendiri? Apakah Papa telah merayu Mama lagi?"


Seketika Zahra menetralkan diri saat mendengar celotehan Deena yang sangat polos.


"Kamu ngapain disini? Bukannya kamu sedang bermimpi bersama dengan boneka kamu?" Bukanya menjawab, Zahra malah memberikan Deena pertanyaan.


"Udah siap, Ma. Deena juga bosan berada di kamar terus. Papa kok belum pulang, ya?"


"Bentar lagi juga sampai."


Akhirnya ditemani Deena, Zahra menunggu kepulangan Kanna di teras. Keduanya tidak peduli dengan angin lama yang terasa dingin.


Tak berselang lama, mobil milik Kanna telah masuk ke garasi mobil. Dengan wajah lelah, dia tetap berusaha untuk memberikan senyuman kepadanya.


"Kalian kok ada di luar?" tanya Kanna heran pada dua wanita beda usia itu.


"Mama nungguin papa," celetuk Deena.


Mata Kanna segera mengedarkan untuk menatap mata Zahra.


"Mama nungguin Papa karena ada maunya." Tangan Kanna segera menyerahkan Sebuah kantong plastik kepada Zahra. Dengan senyum yang tak pudar Zahra berterima kasih. "Makasih, Mas."


-Memilikmu adalah sebuah anugerah untukku. Meninggalkanmu adalah sebuah kebodohan untukku. Aku tidak akan pernah menjadi orang bodoh jika bukan karena takdir.


.


.


.


.


BERSAMBUNG.


MANA SUARANYA 😞😞

__ADS_1


__ADS_2