
"Mel, kemarilah!"
Melani dengan cepat menghampiri Alzam, karena ia takut suaminya sedang membutuhkan sesuatu.
"Iya, Mas. Ada apa?"
"Duduk!" Alzam mengisyaratkan agar Melani duduk di ranjangnya. Dengan patuh, Melani pun duduk di samping Alzam.
"Mas Alzam butuh apa?" tanya Melani dengan rasa sabarnya.
Senyum yang telah lama pudar itu kini mengembang luas dibibir Alzam. Tangannya terulur untuk mengelus rambut panjang nan hitam. "Aku sudah sembuh, dan ingin pulang. Aku sudah tidak tahan untuk tinggal di sini. Kita pulang, ya," pinta Alzam.
Melani menautkan kedua alisnya. Bagaimana mungkin suaminya mengatakan jika ia telah sembuh sementara sang dokter saja belum bisa menangani penyakit yang diderita olehnya.
"Gak boleh! Mas Alzam baru aja sadar masa udah minta pulang aja! Aku gak mau terjadi sesuatu kepada Mas Alzam!" Melani menolak keras permintaan Alzam.
"Tapi aku juga tidak mau kamu sakit karena terus menjagaku di sini. Baiklah jika kamu tidak mengizinkan aku untuk pulang, berarti kamu yang harus pulang dan beristirahat di rumah. Biarlah aku disini sendiri hingga dokter mengizinkan untuk pulang," kata Alzam dengan santai.
"Gak bisa seperti itu dong, Mas! Mana mungkin aku meninggalkan Mas Alzam di sini sendirian. Gak! Aku nggak mau pulang!" tolak Melani.
"Jika seperti itu berarti berarti aku harus pulang, dong!"
Kali ini tak ada pilihan lain selain menuruti keinginan Alzam untuk pulang. Sebenarnya sang dokter pun belum mengizinkan Alzam untuk pulang. Namun, pria itu bersikeras menginginkan pulang dan melakukan perawatan di rumahnya.
Saat ini tak ada Alzam yang dingin, Alzam yang cuek ataupun Alzam yang masa bodoh. Pria di depan Melani ini berubah menjadi Alzam yang baru dan Alzam yang lebih hangat. Bahkan dari caranya menatap Melani saja kini sudah terlihat jika dirinya juga tidak sanggup untuk kehilangannya, terlebih jika saat ini Melani benar-benar sedang hamil.
"Mas." Melani membuyarkan lamunan Alzam.
Pria itu hanya menyunggingkan senyum dibibirnyanya. Meskipun sedikit sayu, tetapi terasa hangat.
"Aku ingin berbicara," kata Melani sambil mengambil tempat di samping Alzam.
"Aku tahu apa yang ingin kamu katakan. Aku juga sudah memikirkan matang-matang. Jawaban aku bersedia."
Melani benar-benar tak menyangka jika Azam mengetahui apa yang hendak ia katakan. Bahkan yang membuatnya tak percaya ketika Alzam mengatakan jika ia mengatakan bersedia. Apakah itu artinya Alzam bersedia untuk melakukan pengobatan di luar negeri?
"Kamu bilang apa Mas? Bersedia? Apa itu artinya kamu bersedia untuk melakukan pengobatan di luar negeri?" tanya Melani untuk memastikan.
Alzam menganguk pelan sambil menyunggingkan senyum di bibirnya. Melani yang merasa sangat bahagia mendadak langsung menghambur untuk memeluk Alzam. Namun, saat itu juga Melani mendadak merasa mual.
Huueeekk
__ADS_1
Saat itu juga Melani berlari ke kamar mandi untuk mengeluarkan rasa yang bergejolak di dalam perutnya.
"Mel, kamu gak papa?" Alzam mendekat ke arah Melani.
"Gak papa, Mas."
Tubuh Melani serasa lunglai setelah mengeluarkan semua rasa yang bergejolak dalam perutnya. Bahkan tubuhnya juga bergemetar.
"Kita ke rumah sakit ya!" kata Alzam yang membuat Melani langsung menggelengkan kepalanya.
"Gak usah, Mas. Aku cuma masuk angin biasa," tolak Melani.
Karena Melani menolak Alzam pun tak memaksanya. Tetapi untuk memastikan apakah Melani benar-benar yang sedang hamil atau tidak, Alzam segera mengambil ponselnya untuk memesan sesuatu di aplikasi online.
🥕🥕🥕
Jika saat ini Melani sedang merasakan mual dan muntah, berbeda dengan Naura yang terlihat biasa saja tak merasakan apa-apa. Ia hanya akan merasakan mual di pagi hari saja.
Malam ini Naura seorang diri untuk merenungi nasib yang telah menimpa dirinya. Semua harapannya telah hancur. Tak akan ada lagi masa depan untuknya setelah ia dinyatakan hamil. Terlebih pria yang masih mudanya sama sekali tak ingin bertanggung jawab dan malah menginginkan Naura untuk menguburkan bayinya.
Baru saja Naura ingin memejamkan matanya, ia mendengar bel pintu berbunyi. Saat melihat jarum jam, ternyata telah menunjukkan pukul 11 malam. Naura yang hanya seorang diri merasa takut karena dengan orang yang akan bertamu ditengah malam seperti ini. Ia takut jika yang pertama adalah seorang maling.
Jantungnya berdegup lebih kencang, mendadak tubuhnya merasa bergetar. Ia takut jika Arya akan melakukan sesuatu yang tidak diinginkan karena ia tak mau bertanggung jawab.
"Naura buka atau aku akan membukanya sendiri? kamu kira aku tidak tahu password pintunya? Cepat buka!" Terdengar dengan jelas suara Arya terus memanggil namanya.
Saat ini yang dipikirkan oleh Naura adalah Arya datang untuk menghabisi dirinya, seperti berita yang sering muncul di televisi. Naura benar-benar. Bukannya membuka pintu ia mana berlari ke kamar dan mengunci pintu kamarnya.
"Tidak! Ini tidak boleh terjadi! Aku belum ingin mati," ujar Naura dengan ketakutan.
Derap langkah kaki pun begitu nyaring di keheningan malam, semakin lama semakin sangat jelas. Itu artinya saat ini Arya telah berhasil masuk ke dalam apartemen. Tak lama pun suara ketukan pintu menggetarkan dada Naura.
"Ra, buka pintunya kita harus bicara!" kata Arya dari luar.
"Om Arya mau apa ke sini? Jika om Arya tidak mau bertanggung jawab tidak apa-apa aku tidak akan sedikitpun untuk menuntut om Arya, tapi tolong jangan bunuh aku, Om!" Tubuh Naura semakin bergemetar hebat.
"Singkirkan pikiran kotormu itu! Kamu pikir aku akan sekejam itu membunuh seorang, meskipun sebenarnya aku tidak menginginkannya. Keluarlah aku ingin berbicara. Aku tidak akan menyakitimu."
Naura masih terdiam. Ia masih bimbang dengan ucapan Arya. Bisa jadi ucapan Arya akhirnya sebuah pancingan untuk membuatnya keluar dari kamar.
"Ra, buka pintunya atau aku yang akan membukanya sendiri!"
__ADS_1
Kali ini Naura memberanikan diri untuk membuka pintu. Mulutnya berkomat-kamit , berharap Arya tidak menyakitinya.
"Kita harus bicara!" kata Arya dengan kata tatapan dingin.
"Tidak usah berpikir terlalu berlebihan, aku tidak tidak akan menyakitimu ataupun anakmu," lanjutin lagi.
Tanpa kata Naura berjalan ke arah sofa yang diikuti oleh Arya. Dengan helaan nafas panjang Arya melemparkan sebuah kertas tepat ke wajah Naura. Wanita itu hanya memejam sesaat.
Kamu baca baik-baik apa yang tertulis di dalam kertas itu. Jika kamu setuju silahkan tanda tangan, tetapi jika tidak setuju aku tidak akan memaksamu aku juga tidak akan bertanggung jawab atas kehamilanmu."
Kini Naura memungut kertas yang baru saja mengenai wajahnya. Dengan teliti ia membaca satu persatu kalimat yang tertulis di dalam kertas itu.
"Apa ini, Om?" tanya Naura yang masih bingung.
"Itu adalah sebuah kesepakatan jika kamu mau menikah denganku. Aku akan bertanggung jawab, tetapi setelah anak itu lahir kita berpisah dan anak itu akan menjadi milikku."
Naura menelan kasar salivanya. Ia menggelengkan kepalanya dengan pelan. Apa bedanya dengan ia menggugurkan kandungan saat ini jika pada akhirnya dia tetap akan kehilangan anaknya.
"Tidak! Lebih baik anak ini tidak mendapatkan pengakuan dari ayah kandungnya dari pada aku harus menyerahkan begitu saja. Saat ini aku sudah ikhlas, dan tidak akan menuntut om Arya untuk bertanggung jawab," ujar Naura dengan sesak di dada.
"Kamu pikirkan matang-matang lagi, sebelum kamu menyesal. Aku akan menjamin dan membiayai hidupmu ke depannya."
"Simpan saja surat ini, Mas!" Naura menyerahkan kembali kertas yang sempat dilempar ke wajahnya. "Anggap saja tidak pernah terjadi sesuatu diantara kita sehingga kamu tak perlu untuk bertanggung jawab."
"Baiklah. Kamu yang telah memutuskan untuk menolak tanggung jawab dariku. Setelah ini jangan pernah tuntut aku untuk bertanggung jawab!"
"Aku akan memastikan tidak akan pernah menuntut Om Arya untuk bertanggung jawab."
Setelah mendapatkan penolakan dari Naura, Arya pun memilih untuk meninggalkan Naura tanpa kata.
.
.
...🥕🥕🥕...
...BERSAMBUNG...
halo halo selagi menunggu novel ini update kembali mampir dulu yuk ke novel teman aku yang judulnya RAHIM SENGKETA, mampir ya
__ADS_1