
Sudah pukul 7 malam, Zahra baru pulang. Sebenarnya ia tidak tega meninggalkan Melani sendirian untuk menunggu Alzam, tetapi ia juga mempunyai tugas dan tanggung jawab yang harus ia kerjakan. Dengan berat hati, ia meninggalkan Melani seorang diri di rumah sakit.
Sesampainya di rumah, Zahra merasa heran karena suasana sangat sepi. Bahkan ia juga tak mendengar celotehan Kala yang bisanya akan memenuhi ruangan. Satu persatu nama penghuni rumah ia panggil, tetapi satu pun tak ada yang menjawabnya.
Ia terus melangkah untuk menuju kamarnya, berharap para kurcacil tidak mengacaukan kamarnya. Saat pintu dibuka, semua masih utuh dan tak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya.
"Tidak ada," kata Zahra dengan lesu.
Zahra akhirnya mencari ke kamar Deena yang ada disebelahnya. Namun, tetap saja tidak ada. Ia pun segera menghubungi ibu mertuanya, kemana mereka membawa anak-anak.
Tak berapa lama panggilannya diangkat oleh ibu mertuanya.
"Halo, ada apa, Ra?"
"Halo, Bu. Ibu dimana?"
"Maafkan Ibu yang tak memberitahu sedari awal. Ibu mengajak anak-anak untuk mencari kado untuk Kanna, tapi terjebak macet, Ra"
Saat itu juga hati Zahra merasa lega karena tidak terjadi sesuatu pada keluarganya. Sebelum menutup panggilan telepon, Zahra berpesan agar mereka segera sampai di rumah karena sebentar lagi Kanna akan pulang.
Baru saja mematikan telepon, tiba-tiba seseorang telah membungkam mulutnya Zahra dan membuatnya tak sadarkan diri. Tubuhnya Langsung diangkat pergi oleh pria yang telah membiusnya.
Sementara itu, disebuah restoran, Kanna merasa sangat gelisah manakala Zahra yang tak kunjung datang. Baby Kala pun juga sudah mulai meronta karena bocah itu memang tidak menyukai dunia luar.
"Kenapa Ara belum juga sampai? Apakah ada kendala?" tanya sang ibu pada Kanna yang sedang menggendong tubuh tubuh Kala.
"Bersabarlah, mungkin terjebak macet, Bu," kata Kanna yang mencoba untuk tetap tenang. Begitu juga dengan Deena yang juga menanyakan, mengapa mamanya belum sampai, padahal perutnya sudah lapar.
"Sabar ya, Sayang. Sebentar lagi mama juga sampai," bujuk Kanna.
Deena hanya mengangguk pasrah ketika kata sabar keluar dari bibir papanya. Entah mengapa mamanya begitu lama sekali untuk menyusulnya.
.
.
Di tempat lain, Zahra sangat terkejut saat mendapatinya ditempat asing, terlebih saat ini ada dua orang wanita yang sedang mendandaninya. Satu orang memoleskan bedak ke wajahnya, satu lagi mencatok rambutnya.
"Kalian siapa?" kata Zahra setelah tersadar.
"Tenang, Ibu. Kita bukan orang jahat, kok. Kita hanya sedang mengerjakan tugas untuk mendandani Ibu agar lebih cantik," ujar wanita yang sedang memoles bedak di pipinya.
"Aku tidak tidak butuh didandani, aku hanya ingin pulang sekarang. Anak dan suamiku pasti sedang menunggu aku di rumah!"
__ADS_1
"Sabar, sebentar lagi juga selesai dan Ibu boleh pulang."
Zahra tidak tahu siapa orang yang telah menculik dirinya. Sekilas Zahra membayangkan apakah dirinya diculik dan ingin dijual kepada para hidung belang. Jika iya, lalu siapa pelakunya? Apakah ini adalah perbuatan ayah tirinya, tetapi Zahra menepis karena saat ini ayah tirinya sedang mendekam di balik jeruji besi.
"Siapa yang menyuruh kalian?" tanya Zahra dengan datar.
"Itu rahasia kami, karena tugas kami hanya untuk mendandani Ibu agar terlihat bersih malam ini. Sekarang sudah selesai, tinggal ganti baju."
Zahra pun diberikan sebuah bangun untuk segera dipakainya. Ia hanya tersenyum tipis saat gaun yang diberikan padanya adalah gaun yang pernah ia inginkan sebelumnya. Tanpa banyak protes, akhirnya Zahra segera mengganti pakaiannya dengan gaun berwarna tosca itu.
"Sebenarnya apa maksud dari penculikan ini? Tidak mungkin ini hanya sebuah kebetulan saja. Ini adalah gaun yang pernah ingin ku beli, tetapi aku mengurungkannya saat itu. Mengapa tiba-tiba baju ini harus aku pakai. Satu-satunya orang yang mengetahui jika aku menginginkan gaun ini adalah Mas Kanna. Apakah semua ini ulah mas Kanna? Jika benar begitu berarti semua," kata Zahra sambil mengganti pakaian.
Tidak butuh waktu lama Zahra keluar dan terlihat sangat cantik. Kedua orang yang baru saja mendandani Zahra segera mengambil ponsel untuk memotret, mengambil gambar Zahra.
"Kalau orang cantik diapain aja tetap cantik," kata salah seorang wanita yang kemudian mengirimkan hasil gambarnya kepada seseorang. Berharap orang tersebut akan puas dengan kinerja mereka.
Setelah semua terlihat sempurna kini saatnya Zahra dijemput oleh seorang. Kali ini bukan seorang pria melainkan seorang wanita.
"Mari Nona," ujarnya.
"Kamu siapa lagi?" tanya Zahra.
"Anda tidak usah khawatir saya akan mengantarkan Anda pulang."
"Kenapa kita ke sini? Bukankah kamu ingin mengantarkan aku pulang?" tanya Zahra heran.
"Anda sudah ditunggu di dalam, sebaiknya Anda segera masuk," kata wanita itu.
"Ini maksudnya apa sih?" Meskipun menggerutu, Zahra keluar dari mobil untuk memastikan siapa yang telah menunggu dirinya. Ia pun berjalan pelan memasuki restoran besar itu. Baru saja ingin masuk langkahnya ditahan oleh seseorang.
"Apakah Anda ibu Zahra?" tanyanya.
Dengan ragu Zahra menjawab iya. Detik kemudian orang itu membawa Zahra ke ruang VIP. Lagi-lagi Zahra hanya tercengang saat orang itu membawanya ke lantai atas.
"Silakan masuk!"
Dengan memberanikan diri Zahra membuka pintu itu dengan pelan. Ia merasa heran ketika ruangan itu terlihat sangat gelap seperti tak ada orang di dalamnya. Ia mengira bahwa saat ini sedang dikerjai oleh seseorang. Namun, samar-samar telinganya mendengar ada sebuah rengekan bayi kecil dari dalam dan itu mirip suara Kala, anak bungsunya.
Saat pintu benar-benar dibuka lebar, saat itu juga lampu dinyalakan. Terlihat dengan jelas orang-orang yang ia kenali sudah duduk di sebuah meja sambil tersenyum kepada dirinya. Namun, ia belum mendapati sosok pujaan hatinya. Saat ingin melangkah ke depan, tiba-tiba sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Sebuah bucket mawar merah juga pun tepat dihadapannya.
"Aku jadi bingung, mau mengucapkan apa. Mau mengucapkan selamat ulang tahun, tapi saat ini adalah hari ulang tahunku." Sebuah bisikan tepat ditelinganya.
Tak salah lagi. Kini Zahra pun berbalik untuk melihat Kanna yang sudah berhasil mengerjai dirinya. Dengan bibir yang mengerucut Zahra berkata, "Selamat, sudah membuatku panik."
__ADS_1
Kedua mata itu saling menatap tajam. Getaran didada kian kencang. Namun, tiba-tiba tangan kecil langsung menarik tangan keduanya.
"Kenapa masih berdiri di sini? Ayo duduk!" kata Deena.
Seharusnya yang mendapatkan kejutan itu adalah Kanna, bukan dirinya. karena saat ini adalah ulang tahun Kanna, tapi mengapa malah dirinya yang mendapatkan kejutan tak terduga.
"Bagaimana, apakah kamu suka dengan kejutan yang aku berikan?" tanya Kanna.
"Ini bagaimana konsepnya? Seharusnya kamu yang mendapatkan kejutan Bukan aku, Mas," protes Zahra.
Kanna hanya bisa mengembangkan senyum di bibirnya. Ia tidak peduli meskipun salah konsep yang penting bisa membuat Zahra bahagia.
"Sudahlah, jika ingin melemparkan rayuan nanti saja. Nanti di kamar saja jika ingin buka-bukaan!" protes ibu Kanna yang tidak tahan saat melihat anak dan menantunya bak pasangan pengantin baru.
"Papa, mana kuenya tadi?" tanya Deena yang sudah tak sabar.
"Mbak Ida, tolong ambilkan kuenya!"
Mbak Ida yang turut dalam acara malam ini segera bangkit dari tempat duduknya dan bergegas untuk mengambil kue yang telah disiapkan sebelumnya.
Mata Zahra hampir terlepas ketika melihat kue yang ia pesan ada di depannya. "Ini kanβ"
"Bagaimana, kamu suka?" tanya Kanna dengan mata yang berbinar.
"Benar-benar salah konsep. Seharusnya aku yang menyiapkan semua ini untukmu, bukan kamu yang menyiapkan untukku," kata Zahra sambil memijat pelipisnya.
Hari ini ia benar-benar gagal untuk memberi kejutan kepada suaminya. Malah dia yang mendapatkan banyak kejutan, siapa yang ulang tahun siapa yang mendapat kejutan. Benar-benar sangat terbalik.
"Mama ayo ucapkan selamat ulang tahun untuk papa!" kata Deena dengan penuh semangat.
"Baiklah, mama akan ucapkan."
.
.
...π₯π₯π₯...
...BERSAMBUNG...
HALO SELAGI MENUNGGU NOVEL INI UPDATE KEMBALI MAMPIR DULU BUKAN NAFAS DENGAN AUTHOR YANG JUDULNYA KUREBUT CALON SUAMIMU, mampir ya
__ADS_1