
Disudut ruangan yang sunyi, Alzam hanya bisa melihat kendaraan hilir-mudik dibawah sana. Pandangan matanya kosong, seolah sedang banyak beban yang ia pikul. Sudah hampir 7 tahun senyum dibibirnya menghilang seperti tak akan bisa kembali lagi. Kehilangan orang yang sangat dicintainya menancapkan luka yang tak kunjung bisa terobati meskipun sudah termakan waktu.
Cintanya pada Aira membuatnya hatinya terluka. Kehilangan Zahra dari dekapannya membuat luka semakin menganga hingga ia memutuskan untuk menutup pintu hatinya. Tak sampai disitu, penyakit yang hampir saja merenggut nyawanya, ternyata juga masih bertahan dalam tubuhnya.
Poin ketiga membuat Alzam tak bisa lagi untuk membuka kembali pintu hatinya, karena hanya akan menyisahkan luka saat waktu benar-benar memanggil dirinya.
Ditempat kelahiran Alzam mencoba untuk melakukan pemeriksaan kembali atas penyakit yang dideritanya selama ini. Diagnosis dokter membuat Alzam tak bisa tidur dengan nyenyak, ia takut sewaktu-waktu ia pergi sebelum bisa melihat anaknya tumbuh dewasa. Satu-satunya harapan untuk bertahan adalah Deena. Karena untuk bisa mencetak Deena ia harus melukai orang yang ia cintai bahkan tanpa sadar ia juga telah menyakiti ibu Deena.
"Bagaimana kabar anak itu?" Tiba-tiba Alzam diterkejut olah suara yang begitu familiar untuknya, siapa lagi jika bukan nenek Rose.
"Siapa?" tanya Alzam dengan alis yang menaut.
"Ibu dari anakmu dan juga anakmu."
Alzam tersenyum getir jika melihat keharmonisan rumah tangga mantan istrinya dengan pria lain yang bisa membuatnya bahagia.
"Jangan tanyakan itu padaku, karena hanya akan membuat dadaku berdenyut," ujar Alzam.
Nenek Rose segera berjalan dan duduk disebuah sofa. Meskipun usianya sudah tua, tetapi tak membuat aura kecantikan pudar.
"Baiklah, katakan mengapa tiba-tiba ada disini?"
"Seharusnya Nenek sudah tahu dengan tujuanku. Aku ingin bertahan lebih sedikit agar aku bisa melihat anakku tumbuh dewasa Aku belum siap untuk meninggalkannya saat ini, karena aku belum bisa meninggalkan kenangan yang baik untuknya," ujar Alzam yang berbalik arah dan melihat wanita tua yang bersikukuh dengan pendirian, enggan untuk pulang ke Indonesia.
__ADS_1
"Lebih baik pergi untuk selamanya daripada pergi sebentar, tetapi hanya memberikan luka pada orang lain. Jangan sampai kamu menyesal karena keegoisan hatimu, Nak." pesan nenek Rose.
Pengalaman masa mudanya membuatnya terjebak dalam penyesalan seumur hidup hingga ia enggan pulang ke Indonesia. Rasa sakit yang ia taburkan pada hati seseorang tak akan mampu untuk dimaafkan. Asam manis tentang percintaan sudah ia telan kasar hingga akhirnya ia menua dengan rasa sesal.
"Aku tidak tahu dimana kakek Wijaya itu berada. Andaikan tahu, aku pasti akan menyampaikan rasa sesal nenek padanya agar saat Nenek bisa tenang saat menghadapi ajal," ujar Alzam tanpa rasa sopan pada neneknya.
"Sekalipun kamu menemukan pria itu, kamu tak akan bisa mengubah kenyataan jika kami telah memiliki keluarga masing-masing. Biarkan dia hidup bahagia bersama dengan pasangannya, karena semua ini adalah salah Nenek yang tak bisa menerimanya saat itu," kenang sang nenek.
Saat itu Alzam terdiam. Sekilas bayangan wajah yang natural serta penampilan yang seadanya muncul begitu saja. Bahkan dadanya ikut bergerumuh saat ia memikirkan perempuan yang saat ini menjadi istrinya.
'Apakah aku telah jatuh cinta pada perempuan itu? Mengapa rasanya begitu berat saat aku ingin meningkatkan dirinya? Apakah aku egois jika tak ingin membuatnya berharap penuh padaku, karena suatu saat aku akan meninggalkannya. Aku hanya tak ingin membuatnya bersedih atas kepergianku kelak,' batin Alzam.
🥕🥕🥕
Bukan tak ingin mengirim pesan terlebih dahulu. Melani sudah berusaha untuk mengirim pesan pada Alzam, tetapi nomernya tidak aktif. Melani hanya bisa pasrah dan memilih untuk menunggu saja, barang kali Alzam mengingat dirinya.
"Hape terus ... udah masak?" tanya Naura yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Mbak Na mau makan? Aku lagi gak enak badan jadi gak masak. Ini ada uang, Mbak Na beli sendiri, ya." Melani menyerah tiga lembar uang bergambar pak proklamator kepada Naura.
Sejak tiga hari yang lalu, Naura tinggal bersama dengannya atas permintaan Zahra yang beralasan untuk menemani Melani yang sedang sendirian. Ingin menolak, tetapi Naura takut jika Zahra malah curiga padanya mengapa tak ingin menemani Melani yang sedang sendirian.
"Gak papa gak masak, asalkan aku gak kelaparan. Udah istirahat aja sana biar aku yang masak."
__ADS_1
Sebenarnya Melani merasa lega saat Naura mau meninggalkan rumah kakaknya. Meskipun ia masih tetap mengasuh Deena, tetapi setidaknya dengan cara seperti ini bisa menjaga jarak antara Kanna dan juga Naura.
'Semoga saja dengan tinggal disini mbak Na bisa melupakan perasaannya pada mas Kanna. Aku akan berusaha untuk mencarikan seseorang untuk mengisi kekosongan hatinya.' batin Melani dengan harapan besar.
Karena sejak kecil Melani sudah dipaksa untuk mencari nafkah sendiri hingga tak memiliki waktu untuk mencari teman. Hanya ada satu teman yang ia miliki, yaitu Adam.
'Apakah Adam mau aku jodohkan sama mbak Na?' batin Melani.
"Mbak Na, aku pergi bentar." teriak Melani yang sudah melangkah keluar dari rumah. Saat ingin memprotes, tetapi Melani sudah ngacir terlebih dahulu.
"Dasar anak itu! Pasti mau bertemu dengan Adam. Apa sih yang didambakan dari pria itu? Gantengan juga mas Alzam," gerutu Naura.
.
.
.
...🥕🥕🥕...
...BERSAMBUNG...
Halo-halo, selagi nungguin bab selanjutnya mampir dulu ke novel temen aku judulnya PEMANDU HATI PENGANTIN, singgah ya
__ADS_1