Belenggu Pernikahan Semu

Belenggu Pernikahan Semu
130 | Malam Bersejarah


__ADS_3

Untuk kali pertama Melanie merasa bahagia karena perlakuan Alzam yang begitu hangat. seakan prihatin itu hilang ditelan bumi. Bagaimana tidak, sejak ia turun dari mobil tangannya sudah diganti oleh Alzam. Bahkan saat hendak duduk pun, Alzam menarikan kursi untuknya. Saat ini Melani bener-bener diperlakukan seorang Ratu. Dalam hati ia tak hentinya bersyukur atas perubahan Alzam.


Karena malam ini ia gagal mengajak Deena untuk pulang ke rumah, Alzam memutuskan untuk membawa Melani dinner. Tak ada salahnya ia mengajak Melani ke tempat yang belum pernah dikunjunginya. Tempat hanya dia yang diketahui oleh dirinya dan juga Aira. bahkan Zahra saja belum pernah ia bawa ke tempat itu.


"Kamu adalah orang kedua yang aku bawa ke tempat ini, setelah Aira. Tempat ini adalah, tempat pertama kali aku mengutarakan perasaan kepada Aira." sejenak Alzam mengenang masa lalunya, tetapi ia sudah mengikhlaskan semuanya.


Melanie yang mendengar hanya tersenyum tipis tanpa kata.


"Disini, aku pernah berjanji pada seseorang untuk menjaganya, tetapi aku malah menyakitinya. Disini aku juga pernah berjanji untuk mencintainya sampai akhir hayat. Namun, ternyata takdir juga kata lain. Allah lebih menyayangi dirinya, sehingga memintanya untuk kembali pada-Nya. Dan malam ini, di tempat ini aku akan berjanji dengan ketulusan bahwa aku akan berusaha untuk mencintaimu sampai batas dimana usiaku," jelas Alzam panjang lebar.


Melanie tersipu malu. Senyum bibirnya tak pernah pudar saat mendengarkan Alzam berbicara. Di matanya saat ini Alzam tak seperti Alzam yang ia kenal sebelumnya. Dari mulai tutur bicara serta perlakuannya seperti bukan Alzam yang sesungguhnya.


"Mel." Kini tangan Alzam diberanikan untuk menggenggam tangan Melani. Meskipun dengan dada yang bergemetar, malam ini ia harus memberikan kesan yang tak akan bisa terlupakan.


Kini satu tangannya telah merogoh sesuatu dari dalam sakunya. "Tutup matamu!" pinta Alzam.


Melani mengernyit, tetapi ia menurut untuk memejamkan matanya.


"Jangan dibuka kalau aku belum menyuruhmu untuk membukanya!"


"Iya ... iya," ujar Melani.


Dalam hati Melani bisa menebak apa yang sedang Alzam rencanakan. Meskipun sebelumnya ia belum pernah menjalin hubungan bersama dengan pria lain, tetapi untuk hal seperti ini sangat mudah untuk ditebak. Namun, berusaha untuk tidak tahu apa-apa.


"Sekarang buka!" pinta Alzam.


Dengan pelan Melani membuka matanya. Ia tersenyum saat melihat sebuah kotak berwarna merah marun telah menunjukkan isinya. Sebuah set perhiasan yang sangat mewah. Melani tersenyum kearah Alzam.


"Ini buat aku, Pak?" tanyanya, meskipun ia sudah tahu jika perhiasan yang berdirinya.


"Iya. Ini adalah perhiasan turunan dari keluarga. Nenek telah menyiapkan karya seni untuk istriku. Dan malam ini aku memberikan warisan keluarga ini padamu. Kamu harus bisa menjaganya, meskipun kelak kita tak lagi bersama."


Seketika senyum itu pudar. Suasana hati yang semula berseri-seri, kini menjadi layu. "Aku tidak bisa menerima pemberian ini, jika hati Pak Alzam tidak tulus membalas perasaanku," ujar Melani yang sudah tak bersemangat.


Alzam menggenggam lagi kedua tangan Melani. "Maksud aku bukan seperti itu, Mel! Aku tulus membalas perasaanmu, tetapi kamu juga harus ingat suatu saat kita akan kembali kepada sang pencipta. Cepat atau lambat, kita pasti akan pulang kepada-Nya."


Mata Melani malah berkaca-kaca. Tak terasa air matanya pun menyuruh putus saja.


"Malah nangis." Alzam segera menyeka jejak air matanya. "Udah aku bilang jangan nangis di hadapanku, masih aja!"

__ADS_1


"Gimana gak nangis kalau Pak Alzam membahas soal kematian. Aku tahu jika waktu kita di dunia ini hanya sementara, cepat atau lambat kita pasti akan kembali pulang ke asalnya, tetapi jangan dibahas sekarang, Pak. Aku lagi terharu dengan hadiah pemberian Pak Alzam, tetapi pak Alzam malah membahas kematian," gerutu Melani.


Alzam tersenyum tipis. Ia langsung memakaikan sebuah kalung yang berwarna perak ke leher Melani. Setelah itu ia baru menyelamatkan cincin di jari manis Melani yang belum sempat dia isi dengan cincin pernikahan.


"Aku mencintaimu, Mel. Apapun yang terjadi nanti, tetaplah untuk bersamaku. Satu hal yang harus kamu ingat, aku tidak menyukai air mata. Jadi jangan sekali-sekali kamu keluarkan air matamu untuk menangisiku." Alzam kemudian menge.cup tangan Melani.


"Ih ... Pak Alzam bisa romantis juga ya. Tapi sebelumnya makasih ya, Pak. Aku suka. Aku juga berjanji akan menjaga perhiasan warisan ini, bahkan juga akan menjaga perasaanku untuk Pak Alzam."


Malam ini sepertinya akan menjadi malam yang panjang, karena gembok yang mengunci hati Alzam telah terbuka lebar. Saat ini Melani sudah berhasil masuk ke dalamnya, bahkan ia juga sudah siap untuk mengunci lagi pintu hatinya pernah saat ini ia sudah berada di dalamnya.


Setelah puas menikmati makan malam, Alzam pun langsung mengajak Melani untuk pulang. Sepanjang perjalanan Melani tak hentinya untuk menyunggingkan senyum di bibir. Malam ini adalah malam pertama yang bersejarah untuknya setelah menikah beberapa bulan yang lalu.


Seperti yang dikatakan oleh Alzam, dirinya telah membuat sebuah kenangan yang tak pernah terlupakan. Setidaknya dengan cara seperti itu Melani akan tetap mengingat dirinya kelak.


Satu jam perjalanan, kini mereka telah sampai di rumah. Malam ini akan menjadi malam yang berbeda dari malam sebelumnya, karena Melani akan tidur satu telanjang dengan Alzam.


Dadanya semakin bergerumuh ketika Alzam pernah membuka pintu kamarnya. Dengan berarti, Melani mengikuti langkah Alzam untuk masuk.


"Kamu mandi dulu aja, biar gak lengket badanmu!" Alzam menyerahkan sebuah handuk kepada Melani.


"Pak Alzam aja yang mandi. Aku akan mandi di kamarku," kata Melani dengan canggung.


"Bukan begitu, Pak. Tapi—?"


"Tapi apa? Udah mandi sana, keburu malam!"


Akhirnya Melani pasrah akan keinginan Alzam. Ternyata selain dingin, Alzam juga seorang yang pemaksa.


Hanya butuh waktu lima menit Melani mengguyur tubuhnya di kamar mandi. Tapi karena membawa baju ganti, ia tak berani keluar. Ia merutuki mengapa dirinya sampai lupa untuk membawa pakaian ganti.


"Mel, kamu mandi kata tidur di dalam? Ini udah 30 menit, lho. Kamu gak kedinginan didalam?" tanya Alzam yang mencoba untuk mengetuk pintu kamar mandi.


"Iya Pak, bentar lagi," balasnya.


Melani tidak tahu harus berbuat apa. apakah dia harus keluar dengan keadaan seperti itu atau meminta tolong kepada Alzam untuk menampilkan pakaian gantinya.


"Mel! Apakah ada masalah di dalam?" tanya Alzam yang merasa sangat khawatir.


Dengan memberanikan diri, Melani membuka pelan pintu kamar mandi. Ia pun langsung menimbulkan kepalanya tanpa membuka pintu seluruhnya.

__ADS_1


"Pak, aku lupa tak membawa pakaian ganti. Bisakah Pak Alzam untuk menutup mata sebentar? Aku ingin keluar," ucap Melani dengan ragu.


Alzam menggelengkan kepalanya dan berdecak kasar. "Ckckck, jadi dari tadi kamu enggan untuk keluar karena tidak membawa pakaian ganti? Ya udah sana keluar, aku gak bakalan ngintip, kok."


"Janji?" tekan Melani. Karena biasanya pria akan ingkar jika telah terbuai dengan sesuatu.


"Iya. Cepatlah, nanti masuk angin!"


Dengan cepat Melani keluar dari kamar mandi hanya dengan lilitan kain handuk yang bisa memperjelas warna kulitnya. Meskipun sudah menutup mata, tetapi tak menjamin kita Alzam akan mengintipnya. Bisa ia lihat bagaimana jenjang kaki mulus nan putih. Ia hanya bisa menelan kasar salivanya saat bisa mengintip Melani yang sedang berjongkok untuk mencari pakaiannya di koper. Saat ini Alzam tak hanya mende.sah kasar ketika bisa melihat bagian lainnya.


"Duh ... mana, sih?" gerutu Melani yang belum menemukan sesuatu yang ia cari.


"Kamu cari apa?" tiba-tiba suara Alzam sudah berada di samping telinganya.


Jantung Melani berdegup lebih kencang dan segera berdiri dari posisinya.


"Kok malah kesini, sih? Tadi kan aku bilang Pak Alzam harus—"


Belum siap meneruskan ucapannya tubuh Melani telah didorong dan jatuh ketempat tidur. Saat ini ia merasa sangat panik ketika Alzam telah membuka kancing kemejanya.


"Pak Alzam mau apa?" tanya Melani yang sangat panik.


"Sepertinya aku menarik semua kata-kataku tadi. Kita adalah pasangan suami-istri yang sah, lalu mengapa aku harus menunggu kesiapanmu untuk melayaniku? Aku pria normal, Mel!" Kini Alzam sudah melemparkan kemejanya asal dan hendak menarik handuk yang membungkus tubuh Melani.


"Jangan, Pak." Melani memohon.


.


.


.


...🥕🥕🥕...


...BERSAMBUNG...


Sambung lagi nanti ya, dah pegel tanganku 🤭 moon maap belum sempat diedit 😂 Selagi menunggu novel Ini update kembali mampir dulu kenapa temen aku judulnya DUDA CASANOVA TERJERAT CINTA GADIS BAR-BAR


__ADS_1


__ADS_2