Belenggu Pernikahan Semu

Belenggu Pernikahan Semu
134 | Menginginkan Anak


__ADS_3

Dibawah temaram lampu kamar, Alzam dan Melani saling menghangatkan, tetapi kali ini hanya sebatas pelukan saja. Tak ada ritual seperti malam sebelumnya. Melani masih memaksa Alzam untuk bercerita tentang penyakit yang dideritanya. Namun, pria itu enggan untuk mengatakan akan penyakitnya.


"Apakah ini adalah salah satu alasanmu melarangku untuk jatuh cinta kepadamu, Mas?" tanya Melani yang berada di dalam Alzam. "Jika iya, mengapa saat ini kamu malah memberikan harapan kepadaku untuk bisa memilikimu selamanya?"


Alzam hanya bisa mengelus pucuk rambut Melani seraya berkata, "Karena aku tidak ingin menyesal untuk ketiga kalinya dan aku ingin meninggalkan kenangan untuk orang-orang terdekatku, termasuk kamu."


"Tapi bukan seperti ini caranya!"


"Mel, bisakah kamu berjanji kepadaku untuk tidak mengatakan apapun tentang penyakitku ini kepada Deena maupun Zahra? Aku tidak ingin mereka mengasihaniku."


Melani sepakat untuk tidak membocorkan tentang kesehatan Alzam kepada siapapun, termasuk kepada Deena dan juga Zahra, tetapi dengan satu syarat. Alzam harus memberitahukan penyakit apa yang sedang dideritanya. Tak ada pilihan lain, Alzam pun akhirnya menyerah dan memberitahu Melani tentang penyakit yang telah dideritanya selama beberapa tahun terakhir. Meskipun sudah melakukan pengobatan, tetapi tak menjamin jika penyakitnya akan musnah.


.


.


Mencoba untuk biasa saja itu sangat sulit, terlebih saat tak ada jalan lain untuk kesembuhan Alzam. Bahkan Melani meminta agar Alzam kembali ke Paris untuk melakukan pengobatannya lagi. Namun, Alzam menolak, karena semuanya hanya akan sia-sia.


"Mas, apakah kamu tidak berminat untuk hidup lebih lama bersamaku?" tanya Melani tiba-tiba.


"Kenapa kamu berbicara seperti itu, Mel?"


"Aku rasa kamu telah menyerah sebelum kamu berjuang," ucap Melani datar.


"Maksud kamu, kamu menginginkanku untuk berobat? Selama ini aku sudah berusaha, Mel. Tapi hasilnya tetap sama, aku tidak akan pernah bisa sembuh. Itulah sebabnya aku tak ingin membuka perasaanku untuk siapapun, karena aku yakin mereka tidak akan mengikhlaskan kepergianku. Sudahlah jangan bahas masalah itu lagi karena saat ini aku hanya ingin menciptakan kebahagiaan sebelum kepergianku." Panjang lebar Alzam memberikan pencerahan pada Melani.


"Baiklah, aku menyerah dan akan mengikuti keinginanmu. Tapi sebelum mas Alzam pergi, aku ingin hamil anak kamu, Mas!"


Saat itu juga mata Alzam langsung terbelalak lebar. Bukan tidak ingin mengabulkan permintaan Melani, tetapi rasanya sangat sulit. Terlebih saat ini ia tak bisa memuaskan Melani seperti hari-hari sebelumnya.


"Kenapa malah diam? Mas Alzam tidak mau memiliki anak denganku?" cecar Melani.


"Bukan begitu, Mel. Siapa yang tidak ingin memiliki seorang anak? Aku sangat bersedia jika kamu menginginkan untuk aku hamili, tapi masalahnya saat ini aku tidak yakin dengan kemampuanku untuk mencetak anak lagi. Aku tak memiliki stamina untuk memuaskanmu." Alzam sangat menyadari jika setelah berhubungan suami-istri, Alzam akan langsung memisan. Ia akan mengeluarkan darah dari hidungnya.


"Kenapa bilang tidak bisa? Semua pasti bisa jika ada usaha."


'Mel, aku tidak tahu bagaimana caraku menjelaskan padamu saat ini aku sangat kesulitan untuk mencetak bayi. Tapi jika itu bisa membuatmu bisa mengikhlaskanku, aku akan mencobanya, apapun hasilnya nanti"


"Ya udah kalau gitu ayo kita buat sekarang. Kebetulan aku libur."


"Bukan sekarang juga, Mas!" Melani mendengus pelan.

__ADS_1


Karena saat ini Alzam tidak masuk kantor, ia memutuskan menjemput Deena untuk meramaikan rumah. Saat sedang menunggu Deena mengemasi pakaiannya, Zahra yang melihat wajah Alzam merasa ada yang aneh. Wajah Alzam terlihat sedikit sayu dan pucat.


"Kamu sakit, Mas?" tanya Zahra penasaran.


Alzam pun menggeleng. "Tidak. Aku tidak sakit," kilahnya.


"Tapi kenapa wajahmu pucat?"


"Oh, mungkin kurang tidur saja. Akhir-akhir ini banyak pekerjaan kantor." Lagi-lagi Alzam berbohong.


"Pekerjaan itu penting tapi kesehatan juga lebih penting, Mas. Jangan sampai karena menomer satukan pekerjaan sampai-sampai mengabaikan kesehatan," pesan Zahra.


Alzam hanya tersenyum tipis. Semua sudah terlambat. Bibirnya terasa kelu untuk mengatakan jika saat ini kesehatan sedang tidak baik-baik saja.


"Ra, bisakah aku meminta tolong padamu?" Alzam sedikit ragu, tetapi ia harus mengatakan pada Zahra untuk berantisipasi saja.


"Jika suatu saat aku sedang pergi lama, bisakah kamu untuk menjaga Mela?"


"Memangnya kamu mau kemana laga? Kalau dinas lama mending dibawa aja Mela, kasihan dia pasti merindukan mu," saran Zahra.


Perbincangan keduanya pun terputus karena Deena dan Melani sudah datang. Dengan wajah yang sumringah, Deena berpamitan pada ibunya jika ia ingin menginap di rumah papanya.


"Iya , Sayang. Nanti Mama sampaikan. Di rumah papa Alzam, kamu jangan nakal ya?" Pesan Zahra.


"Iya, Ma. Deena udah besar dan gak akan nakal lagi."


Setelah selesai berpamitan pada mamanya, Deena pun langsung menggandeng tangan Melani untuk keluar. Ia sudah tak sabar, karena sebelumnya Melani mengatakan ingin mengajaknya ke wahana permainan.


"Mama Mela, ayo cepat," rengek Deena yang sudah menarik tangannya.


"Iya, Sayang, Sebentar. Mama pamit dulu sama mama kamu."


Zahra hanya bisa menyunggingkan senyum di bibir ketika melihat kedekatan Deena dengan Melani, terlebih Melani yang begitu sabar saat menghadapi tingkah Deena yang masih sangat labil.


"Mbak, aku bawa Deena dulu ya. Besok sore aku pulangkan," ujar Melani.


"Iya. Tapi jangan lengah saat menjaganya. Sekarang dia sedikit lasak."


"Aman itu."


Begitu juga dengan Alzam yang meminta izin untuk membawa Deena pulang ke rumahnya.

__ADS_1


Tak pernah terpikirkan oleh Zahra jika Alzam bisa berubah dan menerima Melani dengan tulus, karena dua bulan yang lalu Alzam sempat meninggalkan Melani selama dua bulan tanpa kabar. Setelah Deena dan Melani berlalu, Zahra menahan Alzam sebentar.


"Mas, kali tolong jangan kecewakan Mela. Dia adalah perempuan yang baik dan sangat tulus mencintaimu. Jangan sakiti dia dengan keegoisanmu!" pesan Zahra.


Alzam tersenyum tipis. Mungkin ia sudah bisa mencintai Melani, tetapi kenyataan yang sebenarnya ia akan membuat Melani kecewa karena tak bisa bersamanya lebih lama lagi.


"Kamu tenang saja, kali ini aku akan menjaganya dengan baik dan tidak akan membuatnya kecewa."


Zahra merasa lega. Kini pada akhirnya Alzam sudah bisa membuka pintu hatinya untuk orang lain. Bahkan Zahra juga melihat jika saat ini Melani sudah berhasil untuk mendapatkan hati Alzam.


Deena sudah tak sabar lagi untuk segera sampai di wahana permainan yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya. Saat ini hatinya benar-benar sangat bahagia. Ia mempunyai dua orang ibu dan juga memiliki dua orang ayah. Jika kata orang ibu tiri itu lebih kejam dan hanya mencintai ayahnya saja, tetapi tidak dengan ibu tiri yang ia miliki. Ibu tirinya sangat baik dan sangat menyayangi juga.


Jika ada yang mengatakan juga tentang ayah ciri yang sangat jahat, maka tidak dengan ayah tirinya yang sangat amat menyayanginya. Sungguh Deena rasa sangat beruntung memiliki orang tua yang sangat menyayanginya dirinya.


"Pa, apakah sebentar lagi Deena akan mendapatkan seorang adik?" tanya Deena tiba-tiba.


Alzam yang mengemudi merasa terkejut dengan pertanyaan Deena. "Kok Deena bertanya seperti itu? Bukankah saat ini Deena sudah memiliki adik?"


"Tapi itu kan adik dari mama Ara dan papa Kanna. Deena juga mau mempunyai adik dari Mama Mela dan juga Papa Alzam. Pasti akan lebih seru jika Deena mempunyai dua orang ayah, dua orang ibu, dan dua orang adik. Deena berjanji tidak akan nakal dan tidak akan iri, karena sekarang Deena sudah besar," celoteh Deena.


Melani yang memangku Deena merasa juga ikut terkejut dengan celotehan anak sambungnya yang sama seperti dirinya, ingin memiliki anak dari Alzam.


"Kok papa malah diam aja? Papa gak mau?" tanya Deena yang tak sabar untuk mendengarkan jawaban Alzam. Andaikan saja permintaan itu diajukan kepada papa Kanna, pasti dengan semangat papa sambungnya itu akan mengiyakan permintaannya.


"Iya, Papa akan usahakan," kata Alzam pelan.


Mata Deena kian berbinar saat mendapatkan jawaban iya dari papanya.


.


.


.


...🥕🥕🥕...


...BERSAMBUNG...


Halo-halo, selamat pagi. Seperti biasa aku mau memberikan rekomendasi novel yang bagus untuk kalian. Sambil nunggu novel ini update lagi mampir dulu yuk ke novel teman aku judulnya CINTAI AKU, ISTRIKU, mampir ya


__ADS_1


__ADS_2