
Sungguh dua pilihan yang sangat berat. Namun, untuk menyelamatkan anaknya, Zahra rela mengorbankan dirinya sendiri. Masuk dalam lubang yang sama, setelah lima tahun terlalu bukanlah keinginan. Zahra harus melakukannya demi menyelamatkan Deena. Dia tidak ingin jika anaknya tumbuh bersama dengan Alzam pria gila. Meskipun Zahra yakin jika Alzam tidak akan menyakiti putrinya, tetapi bisa saja Azam mencuci otak Deena.
Setelah Alzam puas mendapatkan pilihan Zahra, dia langsung membawanya pergi tanpa menghiraukan tangisan dan teriakan Deena. Bocah itu terus meraung memanggil nama ibunya. Dalam gendongan Kanna Deena berusaha memberontak untuk mengejar mamanya.
"Pa ... ayo kejar Mama! Deena mau ikut Mama!" rengek Deena dengan sesenggukan.
Tubuh Kanna masih membeku. Dia tidak menyangka jika Zahra memilih mengorbankan dirinya sendiri. Sebagai seorang suami, Kanna merasa tidak berguna saat dia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Dee, kamu yang tenang ya. Kita akan merebut Mama kembali. Papa janji!"
Hari yang seharusnya menjadi hari bahagia kini hanya menyisahkan kesedihan di hati Kanna. Semua rencananya tak berjalan dengan lancar. Ternyata seorang Alzam sangat licik.
"Dee, kamu jangan bersedih. Secepatnya Mama akan kembali kepada kita," hibur Kanna pada anak tirinya. Anak yang sudah membuat Zahra meninggalkan dirinya. Bisa saja Kanna menyerahkan Deena Kembali demi mempertahankan Zahra. Namun, sebagai seorang ayah, dia juga tidak akan rela jika anaknya jatuh lagi ke tangan pria gila itu. Deena memang hanya anak tiri. Namun, cinta dan kasih sayang Kanna untuknya melebihi anak kandungnya sendiri.
🍂🍂🍂🍂
Zahra hanya pasrah saja ketika Alzam telah membawanya pergi. Bahkan Zahra tidak tahu kemana Alzam akan membawanya. Didalam mobil, Zahra memilih membisu karena dia masih marah pada Alzam.
"Lama tidak bertemu denganmu, sekarang kamu semakin cantik, Ra," kata Alzam yang sekilas melirik ke arah Zahra.
Zahra acuh. Dia membuang muka kesamping. Alzam yang sekarang, bukalah Alzam yang dahulu. Semakin bertambahnya usia bukan semakin dewasa malah semakin gila.
Mobil Alzam sudah sampai di sebuah apartemen mewah di kota Paris. Dia tahu jika saat ini Zahra sedang marah kepada dirinya.
"Sudah sampai, ayo turun!" ajak Alzam yang kemudian membuka pintu mobilnya. Zahra memilih tak bergeming, sedangkan Alzam sudah membukakan pintu untuknya.
"Mau turun sendiri atau aku yang menurunkannya?"
Mata Zahra melirik ke arah Alzam. "Aku bisa sendiri!"
Zahra hanya mengikuti langkah Alzam dengan malas. Sungguh pilihan yang berat. Namun, tanpa sepengetahuan dari Alzam, Zahra mengirimkan sebuah alamat apartemen kepada Kanna. Berharap Kanna bisa membantu dirinya.
Tak ada perbincangan selama menuju ke kamar apartemen milik Alzam. Zahra memilih bungkam seribu bahasa hingga akhirnya mata Zahra terbelalak saat keduanya masuk ke dalam lift.
__ADS_1
Tangan Kanna menarik pinggangnya untuk lebih merapat ke tubuhnya. "Jika aku tidak bisa mendapatkanmu, maka tak kuizinkan orang lain mendapatkan. Kamu adalah milikku karena aku sudah membelimu," bisik Alzam tepat di telinga Zahra.
"Lepaskan, Mas! Ingat kita sudah bercerai. di antara kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi!" Zahra berusaha untuk melepaskan diri. Namun, sayangnya tenaga Alzam lebih kuat darinya.
Tidak ada pilihan lain selain pasrah. untuk sementara waktu Zahra harus mengikuti permainan Alzam sebelum memikirkan rencana selanjutnya.
"Maafkan aku mas Kanna, bukan aku tak mencintaimu. Tapi untuk saat ini aku harus berada di samping orang gila ini untuk melepaskan Deena. Aku berjanji akan segera kembali pulang demi keluarga kita," batin Zahra.
Kini Alzam telah membawa Zahra masuk ke dalam kamar apartemennya. Mata mengejar ke seluruh sudut ruangan. Zahra pun terkejut saat mendapati beberapa foto dirinya yang hampir memenuhi ruangan. Terlebih ada sebuah foto berukuran besar yang membuatnya sangat terkejut. Foto dimana saat dia dan Alzam usia melakukan ijab kabul, 5 tahun yang lalu.
"Bagaimana kamu suka kan?" tanya Alzam bangga saat menunjukkan foto yang menghias di seluruh ruangan.
"Apakah kamu memang sudah gila, Mas? Kita sudah bercerai, Mas! Dan aku juga sudah menikah!"
Alzam menyunggingkan dengan smirk saat mendengar kata menikah. "Tetapi pernikahan kalian belum sah di mata negara, Ra! Kamu belum memiliki akte pernikahan yang sah," cibir Alzam.
"Meskipun pernikahan kami belum memiliki akte pernikahan yang sah tetapi pernikahan kami sudah sah dimata Agama. Semua itu karena kamu, Mas!"
"Aku sangat lelah dan ingin beristirahat. Jika kamu ingin beristirahat masuklah ke kamar!" ujar Alzam kemudian berlalu meninggalkan Zahra.
"Dasar mas Alzam gila!" umpat Zahra dengan pelan.
Karena tidak ingin tidur satu ranjang bersama dengan pria lain selain suaminya, Zahra memilih untuk menjatuhkan tubuhnya di atas sofa panjang. Dia mendengus kasar kemudian mengambil ponsel dalam tasnya.
"Astaga ... malah pakai mati segala," gerutu Zahra.
Karena Zahra ingin menghubungi Kanna, berusaha untuk mencari charger ponsel milik Alzam. "Dimana pria itu menyimpan charger ponselnya?" batin Zahra.
Zahra akhirnya memberikan diri untuk masuk ke dalam kamar Alzam. Saat ini dia benar-benar sangat membutuhkan charger, untuk mengisi daya baterai di ponselnya. dengan langkah pelan Zahra membuka pintu kamar. Dapat dia lihat jika saat ini alasan sudah terlentang di atas tempat tidur.
"Semoga saja pria gila itu tidak bangun."
Akhirnya mata Zahra menangkap benda yang dia cari. Dengan perasaan hati yang sangat baik ya Zahra mencoba untuk mengambil charger yang berada di atas nakas. Namun, saat tangan Zahra sudah memegang charger, dadanya berdebar saat merasakan sebuah tangan sudah mencekal lengannya.
__ADS_1
"Akhirnya kamu datang juga," kata Alzam yang sudah membuka matanya.
"Lepaskan Mas!"
"Aku tahu kamu pasti akan datang, makanya aku pura-pura tidur. Udah sini naik! Bukankah kita sudah pernah tidur dalam satu ranjang?"
"Mas Alzam, kamu salah paham. aku ke sini hanya ingin meminjam cara ponselmu karena ponselku mati. Jadi jangan berpikir macam-macam aku tidak akan sudi untuk tidur satu ranjang denganmu!" jelas Zahra.
Alzam tertawa pelan lalu turun dari tempat tidurnya. Hal yang tak terduga membuat Zahra terbelalak.
Alzam telah mengunci pintu kamarnya dan langsung memasukkan kuncinya ke kantong celananya.
"Mas Alzam, buka pintunya!"
"Tidak! Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas yang sudah ada di depan mataku. Sudahlah Ra, kita nikmati saja malam ini. Aku tahu kamu pasti sangat merindukanku selama ini."
Tangan Alzam berusaha untuk menyentuh Zahra. Namun, dengan cepat Zahra menyingkirkan tangan Alzam.
"Jangan sentuh aku!" ketus Zahra.
"Baiklah jika tidak mau aku sentuh, naik dan tidurlah aku tidak akan berbuat macam-macam kepadamu."
.
.
.
.
.
Author tidak memaksakan kalian untuk memberi hadiah, cukup LIKE dan KOMEN agar Novel ini bisa naik kepermukaan 🙏 Sini aku cium dulu yang pengen getok Alzam tadi 🤣
__ADS_1