
Tubuh Melani langsung luruh ke lantai saat mengetahui siapa ayah dari yang sedang menghuni rahim Naura. Bagaimanapun ceritanya janin itu tidak bersalah dan tidak boleh digugurkan. Yang bersalah adalah dua orang yang melakukannya tanpa pikir panjang bahkan tanpa ada ikatan suami-istri.
"Astaghfirullahaladzim ... Mbak."
Melani tak percaya dengan ucapan Naura yang berniat untuk menggugurkan kandungan daripada ia dibuat malu karena tak ada tanggung jawab dari om Arya.
Ya pria yang tak sengaja telah menanam benih di rahim Naura adalah Arya. Kejadian itu bermula saat Arya merasa patah hati karena Melani kembali pada suaminya. Saat itu juga Arya memilih untuk pergi ke club untuk menenangkan pikirannya. Entah sudah berapa banyak minum beralkohol yang sudah ia tenggak hingga membuatnya hilang kesadaran.
Pikirannya yang dipenuhi bayangkan Melani membuat Arya pulang ke apartemen untuk menemui Melani. Namun, karena dalam pengaruh alkohol, ia tak bisa melihat dengan jelas siapa yang ada didepannya saat ini. Arya sudah tidak bisa lagi untuk mengontrol emosi saat melihat Naura yang ia anggap itu adalah Melani.
Malam itu Naura telah meminta agar Arya tersadar jika dirinya bukanlah Melani, tetapi Arya tidak peduli. Ia terus membabi buta untuk terus mencumbui Naura. Seberapa kuat Naura meronta ia tak akan sanggup untuk menyingkirkan tubuh Arya yang sudah mengunci tubuhnya. Dengan derai air mata, Naura hanya pasrah saat kesuciannya direnggut paksa oleh Arya.
"Mel, aku tidak pernah menginginkan kehadiran bayi ini. Jadi untuk apa aku mempertahankannya, terlebih orang yang telah menciptakan masalah ini tidak mau bertanggung jawab. Aku tidak ingin malu, Mel!"
Melani hanya terdiam dalam lamunannya. Saat ini ia sedang memikirkan bagaimana suaminya agar bisa mendapatkan kesembuhan, tetapi ia juga dipaksa untuk mencari jalan keluar dengan apa yang telah menimpa pada Naura.
"Aku akan membantu mbak Na agar om Arya mau bertanggung jawab, tapi beri aku waktu dulu. Saat ini mas Alzam sedang berjuang untuk bertahan hidup," ujar Melani dengan perasaan yang berat. Entah bagaimana caranya ia akan menyelesaikan masalah yang ada jika dirinya saat ini saja sedang rapuh dan butuh kekuatan bertahan.
"Makasih, Mel." Dengan cepat Naura langsung memeluk tubuh Melani. Ia menumpahkan keresahan dan air mata ke dalam pelukan sang adik.
🥕🥕🥕
Sejak kecil Melani sudah terbiasa bersakit-sakitan untuk melawan kerasnya dunia agar tetap bertahan hidup. Kini setelah menikah pun ia juga harus merasakan hal yang sama. Tuhan berikan cobaan yang luar biasa dengan nasib pernikahannya. Setelah ia berhasil menaklukkan hati Alzam, ia harus dihadapkan dengan kenyataan dimana saat ini Alzam sedang kritis. Suaminya itu terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit.
"Mel, kamu kenapa?" Suara itu mengagetkan Melani yang sedang melamun.
"Mbak Ara," lirih Melani dengan wajah layu.
Ara yang melihat Melani sedikit pucat sangat mengkhawatirkan keadaan adiknya.
"Kamu kenapa? Kamu sakit?"
Melani mencoba untuk tersenyum agar tak memperlihatkan apa yang sedang ia rasakan. "Aku baik-baik aja, Mbak. Mungkin karena kurang tidur aja," kilah Melani.
Zahra merasa iba dengan keadaan yang sedang menimpa adiknya. Ia harus menjaga suaminya seorang diri.
"Mbak, Mas Kanna mana? Kok gak ikut?" tanya Melani saat menyadari tak ada keberadaan Kanna.
"Kalau jam segini, Mas Kanna masih ngajar, Mel. Ada apa?"
__ADS_1
Sepertinya tak ada pilihan lain untuk Melani bersandar, selain pada Zahra. Bagaimanapun Melani tak sanggup untuk menanggungnya seorang diri.
"Mbak Na hamil, Mbak," kata Melani langsung.
Zahra yang mendengar langsung membulatkan matanya dengan lebar. "Apa kamu bilang?" Naura hamil? Bagaimana bisa? Dengan siapa, Mela?" Pertanyaan bertubi berjatuhan pada Melani.
Akhirnya Melani menceritakan kembali apa yang diceritakan Naura tempo hari. Ia berharap Zahra dan Kanna bisa membantu untuk membujuk om Arya agar bertanggung jawab atas kehamilan Naura.
"Astaghfirullahaladzim .... " Zahra sangat terkejut saat mendengarkan cerita Melani yang bercerita tanpa ada yang ia tutupi.
"Kamu gak usah pikiran masalah Naura. Masalah Naura biar Mbak dan Mas Kanna yang menyelesaikannya. Sekarang kamu fokus saja untuk kesehatan suami kamu. Mas Kanna sudah berhasil menemukan keberadaan nenek Rosse. Saat ini orang-orang mas Kanna sedang membujuk nenek Rosse untuk mengatakan di mana tempat mas Alzam berobat saat itu, karena Mas Kanna akan mengirim Mas Alzam kesamaan dalam waktu dekat," jelas Zahra.
Mendengar penjelasan dari Zahra, wajah Melani sedikit berbinar. Dengan senyum kecil Melani mematikan jika ucapan Zahra itu benar.
"Mbak Ara gak bohong kan?"
"Gak Mel. Buat apa Mbak bohong."
Saat itu juga Melani langsung menuju ke tempat Alzam berbaring. Ia menggenggam tangannya seraya membisikkan kata jika sebentar lagi ia akan sembuh.
"Kamu pasti dengar kan Mas, apa yang ucapan oleh Mbak Ara? Apapun yang terjadi kamu harus tetap sembuh. Sebelum kamu menepati janjimu padaku dan Deena kamu gak boleh pergi!"
.
.
"Mas kamu sibuk?" tanya saat masuk dalam kamar.
"Gak. Ada apa? Dimana Kala?" Zahra dicecar beberapa pertanyaan saat ia masuk tanpa membawa anak bangsanya. Seulas senyum mengembang di bibir Zahra. Wanita itu perlahan mendekat kepada suaminya lalu membelai wajahnya.
"Malam ini Kala dan juga mbak Ida tidur di kamar Deena." Tangan nakal Zahra sudah bergerilya ke tubuh Kanna. Seketika pria itu hanya mengernyit
"Apakah ada jin yang menempel di tubuhmu, Ra?" tanya Kanna heran.
"Ih, nyebelin! Aku kan cuma mau melayani suami sendiri, masa dibilang ketempelan Jin, sih," gerutu Zahra.
"Tumben aja. Karena nggak biasanya seperti ini. Ada apa?" tanya Kanna yang masih curiga.
"Nggak ada apa-apa. Aku cuma mau berterima kasih saja karena Mas Kanna udah bantuin Melani untuk menemukan nenek Rosse," ujar Zahra.
__ADS_1
Siapa yang ingin menyia-nyiakan kesempatan yang telah berada di depan matanya? Hanya pria bodoh yang menolak rayuan maut seorang istri. Kanna tak memikirkan lebih jauh apakah ada maksud tersembunyi sehingga Zahra nekat untuk menggodanya?
Sepertinya malam ini akan menjadi malam panjang karena tak ada sosok baby Kala ditengah-tengah mereka. Bahkan Kanna akan leluasa untuk menguasai istrinya.
Setelah satu kali pertempuran, keduanya merasakan sebuah kenikmatan duniawi yang seolah mereka melupakan segalanya. Kanna menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya yang masih Volos akibat pertempuran yang baru saja usai.
"Sekarang katakan apa yang kamu inginkan. Aku tahu kamu sedang menginginkan sesuatu," ucap Kanna sambil membelai rambut Zahra.
Saat itu juga Zahra mendongak untuk menatap manik mata yang juga sedang menatapnya. "Sok tahu," ucap Zahra dengan datar.
Kanna hanya tersenyum saat melihat wajah Zahra yang tak bisa berbohong. Sudah hampir tujuh tahun keduanya bersama, berbagai dalam suka dan duka. Tidaklah mungkin Kanna tidak mengenali sifat istrinya sendiri.
"Syukurlah kalau memang tidak ada niat yang tersembunyi. Tapi hati kecilku mencium aroma yang sangat menyengat. Mungkin saja aku hanya salah menebak."
"Sebenarnya memang ada sesuatu yang aku inginkan." Akhirnya Zahra menyerah dan mengakui niatnya saat menggoda suaminya.
"Aku tahu Mas Kanna itu sudah sangat lelah bekerja setiap hari dan juga sudah berusaha dengan keras untuk membantu menemukan nenek Rosse dan aku ingin meminta bantuan Mas Kanna lagi untuk menyelesaikan masalah yang sedang menimpa Naura," jelas Zahra dengan rasa sesak di dadanya. Sungguh ia tidak tega, tetapi pada siapa lagi ia mengadu dan meminta pertolongan jika bukan pada suaminya.
"Memangnya ada apa dengan Naura?"
"Naura hamil dan pria yang menghamili enggan untuk bertanggung jawab."
Bola mata Kanna memutar lebar saat mendengar penjelasan dari istrinya. terlebih Saat mengetahui siapa sosok yang telah menghamilinya.
"Arya." Satu nama yang tidak asing untuk Kanna.
.
.
.
...🥕🥕🥕...
...BERSAMBUNG...
Halo-halo, selamat pagi selamat berakhir pekan 💓 selagi menunggu novel ini update kembali mampir dulu yuk ke novel teman dengan judul PENELUSURAN GAIB RANIA
__ADS_1