Belenggu Pernikahan Semu

Belenggu Pernikahan Semu
69 | Menara Eiffel


__ADS_3

"Mandilah bersama dengan Deena, aku sudah siapkan menyiapkan airnya," kata Kanna.


Zahra yang sedang bersama Deena di atas tempat tidur menoleh ke arah Kanna yang baru saja keluar dari kamar mandi. "Iya Mas," jawabnya.


Mata Zahra hanya menatap punggung kekar sang suami yang langsung meninggalkan kamar. Ada rasa nyeri, tetapi berusaha dia balut.


"Dee, kita mandi ya," ajak Zahra.


Deena mengangguk patuh dan langsung menuju ke kamar mandi. Beruntung saja ada Deena yang membuat Zahra mengalihkan rasa nyeri di ulu hati.


Tak Butuh waktu lama keduanya pun telah menyiapkan ritualnya. Zahra dan Deena langsung keluar kamar untuk mencari keberadaan Kanna.


Baru saja membuka pintu kamar, indra penciuman mereka menangkap aroma yang membuat cacing didalam perut berdansa.


"Wah ... Papa masak. Harum sekali, Pa!" seru Deena yang langsung berlari ke arah Kanna.


"Iya. Papa masak khusus untuk kamu."


"Wah ... apa itu? Sepertinya itu adalah sayur kesuksesan Deena, Pa. Papa beli sayur dimana?" tanya Deena dengan kekepoannya.


"Kebetulan ada temen Papa yang ngasih. Dia tahu kalau kamu gak suka makanan disini."


Zahra hanya bisa melihat Kanna dan Deena saling berinteraksi tanpa ingin membantu Kanna. Dalam hati dia bersyukur, meskipun Kanna sedang marah kepada dirinya, tetapi tidak melibatkan Deena. Akhirnya Zahra memilih untuk duduk di meja makan. Entah apa yang sedang dimasak oleh Kanna, tetapi aroma masakannya membuat Zahra langsung merasa lapar.


Tak butuh waktu lama, Kanna telah menyiapkan masakannya dan menghilangkan di atas meja. Zahra terkejut karena Kanna menyimpan makanan kesukaannya. Bahkan Zahra tidak tahu darimana Kanna mendapatkan bahan makanan yang mustahil bisa ditemukan di tempat ini.


"Kamu dapat darimana Mas bahan makanan ini?" tanya Zahra yang tak kuat untuk senyum di bibirnya.


"Tidak usah tanya darimana.Yang penting sekarang udah masak dan siap untuk dimakan. Aku tahu kamu sudah lapar."


Zahra mengembalikan senyum yang sempet tersungging dan membuang kasar napas beratnya.


Setelah Kanna membantu Deen untuk duduk di kursinya, dia langsung menyedokan nasi ke piring anak tirinya. Begitu juga ke pering Zahra. "Makan yang banyak biar sehat," pesannya.


"Makasih Mas." Zahra memaksakan senyum di bibirnya.


Zahra tak bisa membaca pikiran Kanna, apakah dia masih marah atau tidak. Dari sikapnya yang perhatian, Zahra percaya jika Kanna tidak marah dengannya. Namun, jika mendengar suara Kanna yang dingin dan ketus membuat Zahra berpikir jika Kanna masih marah kepada dirinya.

__ADS_1


Serapan pagi ini yang terdengar hanya sendok dan piring yang beradu. Dee a yang bisanya berceloteh, memilih untuk menikmati makanannya. Sudah lama dia tidak makan masakan papanya. Bagi Deena masakan Kanna paling enak sedunia.


"Pa, nambah!" kata Deena sambil menyodorkan piringnya ke arah Kanna.


Zahra yang melihat jika Kanna sedang makan memilih untuk mengambilkan nasi untuk Deena. Namun, baru saja Zahra ingin meraih mangkuk nasi, tangan Kanna lebih dulu untuk mengambilnya.


"Kamu makan saja, biar aku yang melayani Deena!" ujar Kanna.


Lagi-lagi Zahra hanya bisa menelan kasar ludahnya saat melihat kedekatan sang anak pada Kanna. Ingin cemburu, tetapi Zahra menepisnya. Mungkin dengan begitu Deena tidak akan pernah kehilangan peran sosok ayah dalam hidupnya.


"Kenapa gak dimakan? Gak enak?" tanya Kanna saat melihat Zahra hanya membolak-balikkan makanannya, tanpa ingin memasukkan ke dalam mulut.


Zahra segera menggeleng. "Enak kok, Mas." Senyum tipis itu kembali mengembang lagi.


"Ya udah makan! Apa mau disuapin? Deena saja yang masih kecil bisa makan sendiri dengan banyak!"


Mata Zahra hanya bisa menatap Kanna yang mengoceh tanpa menatap dirinya. Zahra yakin jika Kanna sedari tadi memperhatikannya secara diam-diam. Zahra sengaja memperhatikan Kanna yang masih lahap dengan masakannya sendiri. Dia ingin menangkap mata Kanna saat melihatnya.


"Mama mengapa melamun?" tanya Deena saat melihat sang mama fokus melihat kearah Kanna.


Zahra langsung salah tingkah saat mata Kanna mulai menatapnya.


Mata Kanna tak sengaja bertemu dengan mata Zahra yang sedari tadi dinantikannya. Namun, Kanna segera mengalihkan pandangannya.


"Sudah, habiskan makanan kalian! Setelah itu kita akan jalan-jalan karena besok pagi kita akan pulang ke Indonesia!"


"Hore .. kita pulang ke Indonesia!" seru Deena dengan bahagia.


🍂🍂🍂


Sesuai dengan ucapan Kanna, saat ini ketiga sedang berkeliling mencari oleh-oleh untuk di bawahnya pulang. Zahra dan Deena terlihat sangat bahagia saat menemukan barang unik yang mereka anggap cocok untuk buah tangan dari Paris.


Kanna hanya mengikuti dua perempuan beda usia sambil mendorong troli. Melihat wajah Zahra yang bisa berseri lagi membuat dadanya perlahan mendingin. Kobaran panas dadanya sudah hilang, tetapi Kanna gengsi untuk mendekatinya.


"Mas, sebelum kita pulang, kita lihat dulu menara Eiffel ya. Masa udah sampai sini kita nggak mengabadikan foto di menara Eiffel sih? Kan rugi," pinta Zahra.


"Oke."

__ADS_1


"Cihh, mentang-mentang berada di Paris mahal suara," cibir Zahra.


Kanna yang berjalan di belakang Zahra masih bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh istrinya. Bagi Kanna, dia tidak bisa marah terlalu lama kepada Zahra. Namun, karena sudah terlanjur kesal kepada Zahra membuatnya merasa gengsi untuk mencarikan suasana.


Demi membuat Zahra bahagia, setelah berbelanja Kanna segera meluncur ke tempat menara Eiffel berada. Tempat paling romantisi di dunia.


Bagi Kanna di manapun tempat asalkan bersama dengan orang yang dicintai pasti akan terasa romantis. Tak perlu jauh-jauh datang ke depan menara Eiffel.


Selama perjalanan menuju menara Eiffel, sesekali karena melirik ke arah Zahra yang sedang memangku Deena. Sebenarnya Kanna ingin sekali Kanna menggenggam tangan Zahra. Bukan hanya itu saja, semenjak Zahra kembali dia belum menciumnya.


Cukup lama perjalanan untuk menuju menara Eiffel. Bahkan Zahra juga sempat tertidur. Kanna semakin gemas saat melihat dua orang beda usia sama-sama tertidur dengan posisi yang sama.


"Ra, seberapa besarpun rasa marah, aku tak bisa lama-lama untuk marah kepadamu. Seharusnya kamu tahu akan hal itu. Tetapi sepertinya kamu tidak peka," lirih Kanna sambil mangelus kepala Zahra yang tertidur. Karena jika Zahra tak tidur, Kanna tak akan berani karena dia membesarkan perasa gengsinya.


Setelah mobil sampai di tempat parkiran, Kanna segera membangunkan Zahra.


"Ra, udah sampai," ujar Kanna dekat telinga Zahra. Ingin rasanya Kanna menge.cup pipi, tetapi dia teringat akan rasa gengsinya.


Zahra langsung mengerjap dan mengucek pelan matanya. "Udah sampai." Zahra membeo.


Ternyata menara yang hanya bisa dia lihat dari ponselnya, ini benar-benar ada di depan matanya. Zahra sangat kagum atas bangunan yang menjulang tinggi itu. Ingin rasanya dia naik Ke puncaknya, tetapi mengingat kondisinya yang tidak memungkinkan seseorang mengurungkan niatnya. Sebagai penggantinya dia hanya bisa berfoto di depan menara miring itu.


Ketiga berjalan sambil bergandengan tangan dengan posisi Deena berada di tengah. Deena merasa sangat bahagia saat berada di tengah-tengah Papa dan Mamanya.


"Mas, kata orang kota Paris itu kota yang romantis, lho," ujar Zahra dengan pandangan lurus ke depan.


"Lalu?"


Bibir yang tadinya menyunggingkan senyumnya kini mendadak mengerucut. Zahra merasa kesal karena, meskipun sampai ditempat ini Kanna juga belum bisa melunakkan hatinya. Apakah Kanna benar-benar tidak bisa memaafkan dirinya?


Kanna yang melihat perubahan wajah Zahra menjadi lebih gemas. Dia pun menghentikan langkahnya sejenak.


"Ra, tunggu!" kata Kanna.


Zahra dan Deena pun juga menghentikan langkahnya. Zahra terbelalak dan tak percaya dengan apa yang dilakukan Kanna kepada dirinya.


__ADS_1


Bayangin aja mereka lagi ngapain 😜


__ADS_2