
Kebahagiaan yang rasakan oleh Zahra tidaklah sempurna tanpa kehadiran Deena. Air matanya tumpah saat mengingat Deena yang tak tahu di mana keberadaannya. Namun, sebagai seorang suami Kanna terus berusaha untuk menenangkan hati Zahra.
"Mas, sudah tiga bulan Deena menghilang. Apakah dia baik-baik saja?" tanya Zahra dengan rasa sesak di dadanya.
"Aku yakin Deena pasti baik-baik saja. Kita doakan saja agar Deena bisa cepat kembali pulang."
Tidak ada yang bisa Zahra lakukan selain pasrah dan berdoa agar Deena segera kembali pulang.
Berita kehamilan Zahra sudah Kann sampaikan kepada orang tuanya. Mereka sangat bahagia mendengar kabar tersebut. Tidak menunggu lama Ibu Kanna langsung meluncur ke rumah Kanna, untuk memberikan selamat kepada Zahra.
Cucu pertama dari garis keturunannya, membuat Ibu Kanna merasa sangat bahagia. Terlebih sampai saat ini anak dan menantunya masih menunda kehamilannya. Hanya Kanna satu-satunya anak yang bisa dia harapkan. Bahkan Kanna sama sekali tidak menolak saat sang Ibu meminta dirinya untuk menikahi Zahra. Dan kini dia akan memiliki cucu dari garis keturunannya.
"Ingat pesan dokter, Ra. Kamu harus bisa menjaga kehamilanmu. Untuk masalah Deena, berdoalah agar dia bisa segera ditemukan. Percayalah bahwa saat ini Deena baik-baik saja," nasihat ibu mertuanya.
"Iya Bu. Ara tak pernah berhenti berdoa untuk Deena agar dia segera pulang."
"Kamu yang sabar ya."
Saat ibu Kanna sedang berbincang-bincang dengan Zahra tiba-tiba mereka dikejutkan oleh dua orang yang sangat mereka kenali.
"Selamat pagi. Apakah kedatangan kami mengganggu?"
Zahra dan ibu mertuanya saling menatap. Entah angin apa yang membawa keduanya mau datang ke rumah Kanna. Dia adalah Dayat dan juga Shena.
Keduanya juga sudah mendengar kabar jika Zahra saat ini sedang hamil. "Apakah kedatangan kami mengganggu?" tanya Shena.
Zahra segera menyambut kedua kakak Kanna dan menyilahkan untuk duduk. Sementara itu sang ibu malah acuh kepada keduanya.
__ADS_1
"Tidak Kak. Ara sangat senang kak Shena dan mas Dayat kesini. Tapi ... ada hal penting apa yang membuat kalian kesini?"
"Memangnya harus memiliki kepentingan baru boleh kesini. kami hanya ingin menjengukmu. Kami prihatin atas menghilangnya Deena. Maafkan jika kamu baru sempat ke sini karena kami benar-benar sangat sibuk dengan kegiatan kami," ujar Shena.
"Ibu yakin jika kedatangan kalian itu ada maksud yang tersembunyi," sindir Ibunya.
Dayat hanya bisa menghela napas beratnya. Semenjak kehadiran Zahra dalam keluarganya, sang Ibu lebih perhatian kepada Zahra ketimbang dengan anaknya sendiri. Hal itu yang membuat Dayat dan Shena merasa telah disingkirkan oleh kehadiran Zahra.
"Ibu ngomong apa sih? Aku sama Mas Dayat itu punya kesibukan masing-masing. Terlebih aku yang saat ini memiliki banyak pekerjaan. Ibu kok berpikir seperti itu kepada kami, sih?" protes Shena.
"Bu, maafkan kami yang baru bisa datang ke sini. Ibu tahu sendiri kan kalau Dayat itu sering keluar kota," timpal Dayat.
Sang ibu yang masih kecewa kepada keduanya memilih acuh dan membiarkan keduanya berbincang-bincang dengan Zahra.
Ibu mana yang tidak merasa kecewa ketika sang anak selalu menunda untuk memberikan momongan, sedangkan usia pernikahan mereka sudah bertahun-tahun lamanya. Bukan hanya satu anak saja yang menunda, tetapi kedua-duanya memilih untuk menunda. Lalu saat sang ibu memilih mencurahkan perhatiannya kepada Zahra yang bisa mewujudkan impiannya, seolah mereka tidak terima.
"Jadi bagaimana apakah kamu sudah mendapatkan kabar di mana keberadaan Deena saat ini?" tanya Shena.
Shena menyungging tipis saat melihat wajah Zahra yang menyedihkan. "Apakah selama ini kamu mempunyai musuh? Jangan-jangan Deena diculik oleh musuh kamu?" Dayat menimpali.
Zahra terdiam untuk sesaat. Selama ini dia tidak mempunyai teman, apalagi musuh. Jika pun ada itu hanyalah Alzam seorang.
"Apakah mas Dayat mengetahui sesuatu tentang Deena?" Zahra menatap tajam ke arah kakak.
Dayat dan Shena saling melempar pandangan. Keduanya menelan kasar salivanya. Tanpa disadari oleh daya, ucapannya menjadi bumerang untuk dirinya.
"Maksud kamu apa Ra? kamu nuduh kamu yang menculik Deena?" tanya Dayat.
__ADS_1
Pertanyaan Dayat membuat bola mata Zahra memutar. Padahal Zahra hanya bertanya apakah kakak iparnya mengetahui sesuatu tentang Deena. Namun, nyatanya jawaban lain keluar dari mulut Dayat.
Begitu juga dengan sang ibu yang menata Dayat dengan tajam. "Apakah kamu terlibat dalam penculikan Deena?" tanya ibunya langsung.
Suasana menjadi canggung. Dayat dan Shena yang awalnya ingin membuat Zahra merasa tertekan, kini malah membuat mereka masuk ke dalam perangkapnya sendiri.
"I-ibu ngomong apa sih? Dayat gak tahu apa-apa dengan hilangnya Deena. Justru kedatangan kami ke sini karena kami merasa prihatin kepada Zahra. Meskipun kami tidak menyukai dia, tetapi kami tidak mungkin akan menyelakai keponakan kami sendiri," protes Dayat dengan gugup.
"Sudahlah, Mas! Sepertinya kedatangan kita tidak diharapkan oleh mereka. Kita pulang saja!" ajak Shena pada Dayat.
Shena tidak ingin rencananya terbaca oleh sang ibu jika dia berada lama di rumah Kanna.
"Sepertinya begitu, Shen!" timpal Dayat.
Ibunya semakin yakin dengan tingkah kedua anaknya jika mereka memang ada sangkut pautnya dengan hilangnya Deena.
"Tunggu! jelaskan pada ibu apa yang sudah kalian lakukan kepada Deena! Jika kalian tidak mau mengaku maka jangan berharap nama kalian akan tercantum ke dalam surat warisan!" ancam ibunya.
"Ibu ngomong apa sih? Kami nggak tahu apa-apa tentang hilangnya Deena!" kekeh Shena. "Mengapa ibu terikat pada kami? anak ibu itu kami atau dia!" tunjuk Shena pada Zahra yang masih diam.
"Ibu tahu siapa kalian! jadi sekarang kalian jujur saja di mana kalian sembunyikan Deena! tekan ibunya lagi.
"Sudah kami katakan jika kami tidak tahu, Bu. Kenapa Ibu tidak pernah percaya sedikitpun kepada kami? Sudahlah Shen, percuma saja kita bersimpati kepada Zahra jika niat baik kita tidak pernah terlihat dengan kedua mata," pungkas Dayat yang segera menarik Shena untuk meninggalkan rumah Kanna.
Zahra tak bisa mencegah kepergian kedua kakak iparnya. Saat ini dia masih berpikir apakah Alzam adalah pelaku penculikan Deena.
"Bu, Ara yakin jika saat ini Deena sedang bersama dengan mas Alzam. Kita harus bagaimana, Bu?" Mata Zahra sudah berkaca-kaca.
__ADS_1
"Kamu yang tenang dulu. Ibu akan menghubungi bapak untuk mencari tahu keberadaan Alzam. Jika memang Alzam yang sudah membawa Deena, kita bisa menuntut Alzam atas dasar penculikan."
Zahra mengangguk pelan dan berniat untuk memberitahu suaminya, jika ternyata Alzam yang telah menculik Deena.