
"Pak Alzam," panggil Melani untuk kesekian kalinya, tetapi Alzam masih tak bergeming.
Melani merasa heran dengan Alzam yang masih membeku dengan tatapan kosong. Ia takut jika Alzam kesambet jin restoran yang baru saja mereka kunjungi.
"Pak Alzam!" Kini Melani memberanikan diri untuk mengguncangkan bahu Alzam. Saat itu juga Alzam langsung tersentak dan tersadar dari lamunannya. Ia segera menatap Melani dari bawah kakinya hingga sampai ke ujung kepala.
"Ada apa, Pak? Ada yang salah?" tanya Melani heran saat melihat Alzam terdiam sambil memperhatikan dirinya lebih tajam.
Dengan gelengan pelan Alzam menjawab tidak, tatapi matanya masih memperhatikan tubuh Melani yang telah tertutup dengan pakaian lengkap.
Aku pikir itu nyata, ternyata hanya haluan semata. Apakah aku sudah mencintai Melani sepenuhnya hingga aku bisa menghalu untuk menyentuhnya. batin Alzam yang masih menatap Melani tanpa berkedip.
"Pak, jangan melamun terus nanti beneran kesambet loh," kata Melani yang tak tahu ada apa dengan suaminya.
"Maaf. Mungkin aku hanya sedikit kelelahan sehingga hilang konsentrasi. Ya udah aku mandi dulu ya." Kini Alzam berjalan menuju kamar mandi.
"Bisa-bisanya aku menghayal sedang malam pertama bersama dengan Melani. Apakah itu pertanda jika aku harus mengajaknya untuk melakukan ritual malam pertama? Ah, apa-apa sih kok malah jadi mesum pikiran ini?" gerutu Alzam sambil menutup pintu kamar mandi.
Karena sudah sangat ngantuk, Melani memutuskan untuk tidur lebih dahulu. Ia membiarkan Alzam yang masih di kamar mandi.
Tak berapa lama Alzam keluar dari kamar mandi. Seperti biasa pria dingin hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya, tak lupa ia juga mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil.
Alzam mengernyit saat melihat Melani sudah terlelap. Mungkin karena sangat mengantuk sehingga Melani langsung tidur tanpa menunggunya terlebih dahulu.
"Mel," panggil Alzam pelan.
Alzam hanya ingin mengatakan agar Melani sedikit menggeser tubuhnya untuk ke tengah. Ia takut jika nanti Melani akan terjatuh.
"Geser dikit kesini. Nanti kamu jatuh!" bisik Alzam. Karena Melani tak merespon, akhirnya Alzam memutuskan untuk menggeser tubuh Melani. Gadis itu tak terusik ketika tubuhnya di geser perlahan-lahan oleh Alzam. Bahkan tanpa kesadarannya ia malah menarik tangan Alzam hingga pria dingin itu terjatuh hampir menimpa tubuhnya. Namun, beruntungnya Alzam masih bisa menahan dirinya agar tak menimpa Melani.
Dada Alzam bergerumuh dengan kuat saat bisa merasakan hembusan nafas Melani. Bahkan Melani malah semakin mengeratkan satu tangan Alzam yang ia pegang.
"Jangan galak-galak napa, Pak!" ucap Melani dalam keadaan tidak sadar.
Alzam hanya bisa menelan kasar salivanya saat tangan Melani malah mengelus tangan yang sedang ia pegang. "Pak cintamu membunuhku. Apakah aku akan mati oleh cintamu?" Kini bibir Melani mengerucut dan bisa dilihat jika saat ini Melani sedang sesenggukan. Apakah Melani sedang menangis di dalam mimpinya?
Perlahan dan pelan. Kini Alzam sudah bisa memindahkan tubuh Melani untuk ke tengah. Tangannya pun sudah terlepas dari cekalan tangan Melani.
__ADS_1
Malam ini sepertinya akan menjadi malam terpanjang karena Alzam tak kunjung juga untuk memejamkan matanya. Terlebih ia bisa mendengarkan nafas teratur Melani. Sebisa mungkin ia tetap menenangkan dirinya.
🥕🥕🥕
Rasanya begitu hangat dan nyaman. Bahkan Melani bisa merasakan aroma maskulin yang menyeruak ke saraf-sarafnya. Bahkan rasanya ia sangat nyaman saat tangan seperti sedang merangkul sesuatu. Karena merasa sangat penasaran, akhirnya Melani langsung membuka matanya dengan pelan.
"Astaghfirullahaladzim." Melani segara menarik tangannya yang ternyata telah melingkar di perut Alzam. Saat mendongak wajah Alzam tempat sejajar dengan wajahnya. Tubuhnya keduanya hampir menempel. Melani tak bisa menjerit, karena dirinya yang salah telah memeluk Alzam.
Namun, saat Melani terdiam untuk merutuki kecerobohannya, tangan Alzam menarik tangan Melani untuk ke tempat semula.
"Kenapa dilepas?" tanya Alzam dengan suara serak.
"Pak Alzam udah bangun. Maafkan tanganku—" Melani menjeda ucapannya karena tubuhnya malah dipeluk oleh Alzam.
"Mel, apakah cintaku membunuhmu?" tanya Alzam yang sudah memeluk tubuhnya. Bahkan terlihat lebih manja karena bibir Alzam dengan sengaja menge.cupi lehernya.
Melani mencoba untuk menepis, tetapi ditahan oleh tangannya Alzam.
"Sssttt ... kamu sudah mengujiku hampir satu malaman, jadi sekarang kamu harus diam untuk bertanggung jawab," ujar Alzam yang mengunci tangan Melani.
"Pak ... Anda tidak sedang sakit kan?" tanya Melani hanya pasrah ketika Alzam terus menge.cupi lehernya.
Entah mendapatkan keberanian darimana sehingga Alzam memberanikan diri untuk membuka satu persatu kancing baju Melani.
Saat menyadari tangan Alzam sudah berhasil membuka seluruh kancing bajunya.
"Pak Alzam," lirihnya saat Alzam kembali menge.cupi jenjang lehernya.
Saat itu juga Alzam berhenti dan langsung menatap Melani secara mendalam. Jarinya mengelus bibir Melani.
"Mel, bisakah kamu ganti panggilan kamu? Aku suami kamu, bukan bapak kamu," ucapannya pelan sambil menyentuh kembali bibir Melani.
Saat ini juga dada Melani berdetak tak karuan. Rasanya seperti mimpi bisa mendapatkan perlakuan hangat dari suami dinginnya.
Melani menganguk pelan. "Iya Mas," ucapnya sambil memejamkan mata.
Bibir Alzam tersungging saat pertama kali mendengar panggilan baru yang keluar dari bibir Melani.
__ADS_1
Setelah berhasil membuka kancing bajunya, kini Alzam memberanikan diri untuk menyentuh bibir Melani menggunakan bibirnya.
Saat tak mendapatkan penolakan, Alzam menyuruh Melani untuk membuka mulutnya.
"Buka, Mel!"
Melani pasrah dan menurut saat Alzam menyuruhnya untuk membuka mulutnya. Kini kedua lidah saling bertemu. Alzam memberikan permainan yang lembut di rongga mulutnya, Bahkan suara desa.han tanpa disadari keluar begitu saja.
Setelah puas dengan napas terengah-engah Alzam menatap Melani secara dalam. Begitu juga perempuan yang ada dibawahnya yang juga menatap mata Alzam dengan dalam.
Sambil membelai rambut sang istri, Alzam segera melemparkan pertanyaan kepada Melani.
"Mel, bisakah aku untuk memilikimu seutuhnya sebagai seorang istri?"
Melani yang sudah merasakan tubuhnya panas dingin hanya bisa mengangguk, karena Melani memang menantikan saat Alzam akan mengakuinya sebagai seorang istri.
Setelah mendapatkan persetujuan dari Melani, Alzam pun memberikan sebuah kecu.pan di kening Melani dan mengucapkan sebuah doa sebelum ditiupkan ke ubun-ubun Melani.
Pagi ini menjadi pagi yang bersejarah untuk Melani, karena saat ini dirinya telah mendapatkan gelar baru dalam hidupnya. Dengan ikhlas, Melani menyerahkan diri saat suaminya meminta hak-nya sebagai seorang suami.
.
.
.
.
...🥕🥕🥕...
...BERSAMBUNG...
Gimana, sah?
Selagi nunggin Novel ini update kembali mampir dulu ke Novel temen aku ya judulnya
DIKIRA MELARAT TERNYATA KONGLOMERAT novel dari kak Nirwana Asri, mampir ya
__ADS_1