Belenggu Pernikahan Semu

Belenggu Pernikahan Semu
64 | Calon Istri


__ADS_3

Setelah Alzam keluar dari kamar mandi ternyata Zahra belum juga mengganti pakaiannya. Dia masih termenung di depan cermin. Sambil menggosok rambutnya yang masih basah, Alzam berjalan untuk mendekati Zahra.


"Kenapa belum dipakai? Apakah menungguku untuk memakaikannya.


Zahra tak bergeming. Bahkan untuk menatap pantulan Alzam di cermin saja rasanya enggan.


"Ra, kamu masih marah?" Tangan Alzam berusaha untuk menyentuh bahu Zahra.


"Jangan sentuh aku!" sentak Zahra.


Alzam tertawa kecil saat melihat Zahra yang masih status kepada dirinya. "Tidak apa-apa yang penting aku sudah menyentuhmu tadi malam."


Ingin rasanya Zahra berteriak kuat. Dadanya terasa nyeri saat dirinya sudah ternoda oleh mantan suami breng*seknya.


"Kalau begitu cepat pakailah pakaianmu dan kita akan pergi!" perintah Alzam. "Apakah kamu akan pergi dengan keadaan seperti ini?"


Akhirnya Zahra kembali ke kamar mandi untuk memakai pakaian yang telah dipesan oleh Alzam.


Alzam tersenyum smirk. Tak ingin melewatkan kesempatan emasnya, Alzam segera mengirim sebuah video singkat ke nomor Kanna. "Kita lihat saja bagaimana tanggapan mu?"


***


Zahra hanya pasrah ketika Alzam membawanya ke sebuah tempat. Meskipun sempat merasa heran, tetapi Zahra mencoba untuk biasa saja.


Sebuah rumah kecil dipinggir kota. Terlihat usang seperti tak berpenghuni. Rumah dengan bangunan tua itu membuat Zahra mengernyit. Apa yang akan dilakukan Alzam di tempat seperti ini.


"Turun!" perintah Alzam.


Untuk saat ini Zahra hanya bisa pasrah dengan dengan ucapan Alzam. Baru saja akan masuk ke dalam, Zahra terkejut oleh seseorang yang menyambut mereka.


"Kamu sudah datang?" tanyanya.


"Iya. Maafkan aku yang sedikit terlambat," balas Alzam.


Wanita tua dengan rambut yang sudah memutih itu melirik ke arah Zahra. "Siapa dia?" tanyanya lagi.


Sorot mata tajam membuat Zahra bergidik ngeri. Namun, tangan Alzam tetap menggenggamnya dengan erat. "Dia adalah calon istriku," ujarnya.


Mata Zahra terbelalak saat mendengar pengakuan dari Alzam. Ingin rasanya Zahra menabok mulut Alzam. "Jaga ucapmu, Mas! Atau aku akan kabur!" ancam Zahra.


Lagi-lagi Alzam hanya tersenyum tipis saat melihat wajah Zahra telah memerah. "Kamu memang akan menjadi istriku di waktu yang akan mendatang," bisik Alzam.

__ADS_1


Zahra tidak tahu siapa wanita itu dan apa hubungannya dengan Alzam. Karena setelah masuk ke rumah tua itu Alzam langsung dibawa kesebuah ruangan. Namun, tidak dengan Zahra tidak boleh masuk.


"Sebenarnya mas Alzam ngapain sih? Apa hubungannya dengan wanita tua itu?" batin Zahra dengan mata yang menyapu ke setiap sudut ruangan.


Mata berhenti pada sebuah foto besar. di mana Dia melihat ada foto yang mirip seperti Alzam bersama dengan beberapa orang.


"Apakah itu mas Alzam?" tanya Zahra pada dirinya sendiri.


Cukup lama Zahra mengamati foto tersebut, hingga akhirnya sang pemilik rumah keluar dari sebuah ruangan.


"Itu memang benar Alzam," ujarnya.


Zahra tak kalah terkejut saat wanita tua itu berbicara menggunakan bahasa Indonesia. Sedangkan saat ini mereka sedang ada di Paris.


"Apakah nenek adalah salah satu keluarga mas Alzam?" tanya Zahra secara lancang.


"Tak perlu aku katakan seharusnya kamu sudah mengetahui. Bisakah kita berbicara sebentar, kebetulan Alzam sedang terapi."


Zahra hanya mengernyit saat wanita tua itu mengatakan jika Alzam sedang terapi. "Terapi?" Zahra mameo.


Wanita tua itu menganggukkan kepalanya. "Iya. Apakah kamu tidak mengetahui jika calon suamimu itu sedang menderita sebuah penyakit?"


Zahra terdiam. Dia masih tidak mengerti dengan semua ucapan dari sang pemilik. Semua penjelasannya berputar-putar di dalam kepalanya.


"Duduklah! Tidak usah terkejut seperti itu!" titahnya.


Cukup lama wanita tua itu mengamati Zahra. sebelum pada akhirnya dia memulai percakapannya lagi. "Kamu adalah orang pertama yang dibawa pulang oleh Alzam. Aku rasa pria penyakitan itu sangat mencintaimu. perkenalkan aku adalah Rose, nenek kandungan Alzam."


Zahra hampir tak percaya dengan pengakuan wanita yang bernama Rose. Dia mengaku sebagai nenek Alzam.


"Kamu pasti akan bertanya-tanya, mengapa aku bisa berada di sini sedangkan Alzam berada di Indonesia. Kamu tak perlu tahu alasannya, karena itu tidak akan penting untukmu."


Zahra masih mendengarkan wanita itu bercerita. Matanya memancarkan sebuah kejujuran. Ada raut wajah kesedihan saat dia jika Alzam adalah penyakitan. Ingin rasanya Zahra memotong ucapan nenek Rose, tetapi Zahra tahu itu tidak sopan.


"Apakah kamu memang mencintai Alzam?"


Satu pertanyaan yang membuat bibir Zahra terasa kelu. Karena sampai kapanpun Zahra tidak akan pernah mencintai Alzam. Cintanya sudah dia berikan kepada Kanna.


"Jika kamu mencintai dia, tolong bahagiakan dia sebelum dia pergi!"


"Maksud nenek?" tanya Zahra yang merasa semakin penasaran dengan ucapan nenek Rose.

__ADS_1


"Kamu harus mengetahui jika saat ini Alzam sedang berjuang untuk melawan penyakitnya. Terapi hanya memperlambatkan penyebaran penyakit itu selalu tubuhnya. Apakah kamu bisa berjanji satu hal kepadaku?"


"Apa itu, Nek?"


🍂🍂🍂🍂


Ingin rasanya Kanna membanting ponselnya saat melihat sebuah video singkat yang memperlihatkan tubuh Zahra sedang dijamah oleh pria gila. Dadanya naik turun, rasa panas juga menjalar ke dalam otaknya. Kali ini gigi Kanna menggeretak dengan kuat.


"Sialan! Bang*sat!" umpat Kanna dengan rasa amarah yang memuncak.


"Aku tidak akan memaafkan pria gila itu! Lihat saja apa yang akan aku lakukan nanti!"


Siapa yang akan terima jika sang istri disentuh oleh pria lain. Kanna segera menghubungi kembali orang suruhannya untuk memantau pergerakan Alzam. Namun sayangnya orang suruhan Kanna kehilangan jejak Kanna.


"Ahh ... sial!" umpat Kanna lagi.


Deena yang sedang bermain iPad segera terkejut ketika apanya mengumpat dengan kasar.


"Papa ada apa?" tanya Deena dengan polos.


Melihat bola mata bulat milik bocah yang berada di depannya, membuat Kanna teringat akan sosok pria bang*satb yang telah menjamah istrinya. Ingin rasanya dia melampiaskan kebenciannya kepada bocah yang tak bersalah itu. Namun, Kanna sadar jika Deena hanyalah bocah polos. Hanya saja kelakuan ayahnya yang be*jat.


"Papa gak papa, Sayang. Maaf sudah membuatmu terkejut," ucap Kanna yang sempat menyesali pikiran kotornya.


"Apakah Papa sudah berhasil untuk menyelamatkan mama?"


Kanna hanya menggeleng pelan. "Belum, Sayang. Tapi percayalah sebentar lagi papa akan membawa Mama kamu kembali."


.


.


.


.


.


Jangan Lupa LIKE dan KOMEN ya, biar disayang Othor. Yang geram sama Mas Alzam sini mendekat dulu aku bisikin kalau sebenernya Zahra itu kagak diapa-apain sama mas Al 🤣


Kali aja ada yang masuk ke Rumah Teh Ijo buat meramaikan rumah yang sepi 😊

__ADS_1



__ADS_2